Akurat Logo

Harga Tertekan Pasokan Berlebih, Bahlil Isyaratkan Pangkas Produksi Nikel 2027

Lukman Nur Hakim Akurat.co | 2 November 2026, 23:23 WIB
Harga Tertekan Pasokan Berlebih, Bahlil Isyaratkan Pangkas Produksi Nikel 2027
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia

AKURAT.CO Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia mengisyaratkan bakal mengendalikan produksi nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk tahun depan atau 2027. Langkah tersebut diperlukan untuk mengatasi kelebihan pasokan atau oversupply yang dinilai menekan harga nikel di pasar global.

Bahlil mengungkapkan, harga nikel saat ini berada di kisaran USD15.800 sampai USD16.000 per metrik ton. Kondisi tersebut terjadi ketika pasokan nikel dunia mengalami kelebihan hampir 800.000 ton dibandingkan kebutuhan pasar.

"Kenapa terjadi harga yang menurun? Karena produksi kita jorjoran. Total kebutuhan kita hanya 3,5 juta per tahun di dunia. Sekarang terjadi oversupply hampir 800.000 ton. Bagaimana mungkin bisa harganya bagus?," kata Bahlil dalam Minerba Convex 2026, Senin (2/11/2026).

Baca Juga: Tak Mau Mandek di Barang Antara, Bahlil Kaji Moratorium Smelter Produk Setengah Jadi

Bahlil menuturkan, peningkatan produksi tanpa mempertimbangkan kebutuhan pasar berisiko memperburuk tekanan harga. Karena itu, ia meminta pelaku industri dan perusahaan tambang nikel menahan diri dalam meningkatkan produksi.

Bahlil juga mengingatkan potensi risiko ketika produk nikel setengah jadi dijual dengan harga rendah akibat kelebihan pasokan. Menurutnya, kondisi tersebut dapat dimanfaatkan negara lain untuk mengumpulkan bahan baku sebagai cadangan dan menjualnya kembali ketika harga meningkat.

"Karena kalau kita terlalu jorjoran, syukur alhamdulillah kalau harganya bagus, kalau harganya enggak bagus, nanti ada satu negara tertentu menampung barang setengah jadi ini dengan harga yang murah, untuk kemudian dijadikan sebagai cadangan di negara dia,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Bahlil meminta Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) untuk mengendalikan kouta produksi nikel untuk tahun depan.

“Jadi Pak Dirjen, menurut saya, strategi untuk mengendalikan suplai and demand lewat RKAB untuk di nikel lakukan. Saya yang tanggung jawab untuk kebaikan bangsa dan negara. Enggak usah ragu-ragu. Pasti banyak yang protes, saya tahu,” tutur Bahlil.

Diberitakan sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bakal mengkaji penetapan kuota produksi nikel untuk 2027 dengan mempertimbangkan kondisi stok global.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno mengatakan, salah satu aspek yang menjadi pertimbangan adalah persediaan nikel di London Metal Exchange (LME) dan Shanghai yang disebut mengalami kelebihan sekitar 750.000 ton.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.