Akurat Logo

Pandangan Islam tentang Penantian Menunggu Buah Hati bagi Pasangan Suami Istri

Lufaefi | 3 November 2026, 06:40 WIB
Pandangan Islam tentang Penantian Menunggu Buah Hati bagi Pasangan Suami Istri
Menanti Buah Hati - Istimewa

AKURAT.CO Memiliki buah hati merupakan salah satu impian yang tumbuh dalam kehidupan banyak pasangan suami istri. Kehadiran seorang anak sering kali dipandang sebagai pelengkap kebahagiaan rumah tangga, penerus keturunan, sekaligus amanah yang kelak menjadi bagian dari perjalanan kehidupan keluarga.

Namun, tidak semua pasangan memperoleh kesempatan tersebut dalam waktu yang mereka harapkan. Ada yang dikaruniai anak tidak lama setelah menikah, tetapi ada pula yang harus menjalani penantian bertahun-tahun. Dalam perjalanan itu, muncul beragam perasaan, mulai dari harapan, kecemasan, kesedihan, hingga pertanyaan tentang kapan Allah akan memberikan kepercayaan untuk menjadi orang tua.

Di tengah masyarakat, pasangan yang belum memiliki anak kerap berhadapan dengan pertanyaan yang terkadang terasa menyakitkan. Pertanyaan seperti "Kapan punya anak?", "Sudah ada kabar?", atau "Jangan-jangan terlalu sibuk bekerja?" mungkin terdengar sederhana bagi yang mengucapkannya.

Namun, bagi pasangan yang sedang menantikan buah hati, kalimat tersebut dapat menjadi beban emosional tersendiri. Padahal, tidak semua hal dalam kehidupan rumah tangga berada dalam kendali manusia. Ada perkara yang membutuhkan ikhtiar, kesabaran, dan penerimaan terhadap ketentuan Allah SWT.

Dalam perspektif Islam, kehadiran anak merupakan salah satu bentuk karunia sekaligus amanah dari Allah. Namun, memiliki keturunan bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah pernikahan. Rumah tangga tetap memiliki nilai ibadah meskipun belum dikaruniai anak.

Cinta, kesetiaan, tanggung jawab, dan kesediaan untuk saling menjaga merupakan bagian penting dari tujuan pernikahan. Karena itu, pasangan suami istri yang masih menantikan buah hati tidak seharusnya merasa bahwa kehidupan rumah tangganya kurang sempurna dibandingkan keluarga lain.

Baca Juga: Ngelike Konten Maksiat, Apakah Mendapatkan Dosa?

Al-Qur'an memberikan gambaran bahwa keturunan merupakan bagian dari ketetapan Allah. Dalam QS. Asy-Syura ayat 49–50, Allah SWT berfirman:

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ ۝ أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ

"Milik Allahlah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, serta menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa."

Ayat tersebut menjelaskan bahwa persoalan keturunan berada dalam kekuasaan Allah. Ada pasangan yang dikaruniai anak laki-laki, ada yang memperoleh anak perempuan, ada yang mendapatkan keduanya, dan ada pula yang belum atau tidak dikaruniai keturunan.

Penjelasan ini bukan alasan untuk berhenti berusaha, melainkan pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam mengendalikan hasil dari setiap ikhtiarnya. Tidak tepat pula menjadikan ayat tersebut sebagai dasar untuk menghakimi pasangan yang belum memiliki anak.

Salah satu teladan penting dalam menghadapi penantian keturunan dapat ditemukan dalam kisah Nabi Zakaria AS. Dalam usia yang telah lanjut, beliau bersama istrinya belum juga dikaruniai anak. Meskipun demikian, Nabi Zakaria tidak kehilangan harapan. Beliau terus berdoa kepada Allah agar diberikan keturunan yang saleh. Doa tersebut diabadikan dalam QS. Al-Anbiya ayat 89:

رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

"Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan), dan Engkaulah sebaik-baik Yang Mewarisi."

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi