Pangsa Kerajinan RI di Kanada Baru 1,2 Persen, 200 UMKM Disiapkan Tembus Pasar

AKURAT.CO Produk kerajinan Indonesia memiliki peluang memperbesar pasar di Kanada. Namun, kontribusi produk lokal di pasar negara tersebut masih relatif kecil. Pangsa pasar kerajinan Indonesia di Kanada tercatat baru sekitar 1,2% dari total impor produk kerajinan negara itu yang mencapai USD700,7 juta pada 2025.
Kondisi tersebut menjadi salah satu peluang yang ingin dimanfaatkan Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui kerja sama dengan Trade Facilitation Office (TFO) Kanada.
Kedua pihak meluncurkan proyek Trade for Resilient, Inclusive and Sustainable Economic Growth (TRISEG) untuk meningkatkan kapasitas 200 usaha kecil dan menengah (UKM) Indonesia agar mampu menembus pasar Kanada.
Baca Juga: Cerita Thio Siujinata, Sukses Padukan Bisnis Kerajinan Tangan dan Coffee Shop
Program tersebut akan berlangsung selama lima tahun hingga Maret 2030. Fokus pendampingannya meliputi pengembangan desain produk, pemahaman karakteristik pasar Kanada, tren konsumen, hingga strategi penetapan harga.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi mengatakan, peningkatan kapasitas menjadi salah satu aspek penting agar produk UKM Indonesia mampu bersaing di pasar internasional.
"TFO ini memberi bantuan untuk meningkatkan capacity building UKM, baik untuk desain produk, pengetahuan pasar Kanada, tren dan juga pricing," ujar Puntodewi dalam peluncuran TRISEG di Kantor Kemendag, Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Program ini memprioritaskan pelaku usaha perempuan serta UKM berskala kecil dan menengah. Dari total 200 UKM yang menjadi sasaran pendampingan, sekitar dua pertiganya ditargetkan merupakan usaha yang dipimpin atau dimiliki perempuan.
Direktur Pengembangan Ekspor Produk Manufaktur Kemendag, Deden Muhammad Fajar Shiddiq mengatakan, proyek TRISEG mendapatkan dukungan hibah sebesar UCD334.783 dari TFO.
Selain meningkatkan kapasitas pelaku usaha, program tersebut menargetkan terciptanya 20 kesepakatan pasar baru dan penambahan 20 pembeli baru dari Kanada.
Menurut Deden, penguatan ekspor melalui program tersebut juga diharapkan dapat membantu memperbaiki neraca perdagangan Indonesia dengan Kanada yang masih mengalami defisit.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ancaman Denny Indrayana ke Presiden Prabowo Bentuk Penghinaan pada Mandat Rakyat
- 2Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 3Memutus Mata Rantai Kejahatan Keuangan Digital: Upaya OJK Melindungi Masyarakat dari Jerat Judi Online
- 4Tak Tergilas Disrupsi, Tak Terjebak Perang Harga: Rahasia Bluebird Menjaga Takhta di Industri Transportasi Dalam Negeri
- 5Ina Liem Kini Setuju Gibran Mundur dari Wapres, Alasannya Bikin Heboh
- 6Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 7Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 8Prediksi Skor Shakhtar vs Sporting CP 4 November 2026: Sama-Sama Incar Kebangkitan
- 9Pemerintah Tegaskan Perekonomian Indonesia Masih Positif Jelang Akhir Tahun
- 10Ketua KPK Ingatkan Nusron Wahid Penuhi Panggilan Penyidik Tanpa Harus Dijemput Paksa










