Zurich: Konsultasi Anxiety di Halodoc Melonjak 47,2 Persen, Kesehatan Mental Pekerja Jadi Sorotan

AKURAT.CO Konsultasi terkait gangguan kecemasan atau anxiety di Halodoc meningkat 47,2% pada semester I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini menjadi perhatian di tengah meningkatnya pembahasan mengenai kesehatan mental dan ketahanan pekerja. Studi Zurich bersama University of Oxford juga menempatkan kondisi psikologis sebagai salah satu fondasi penting dalam menjaga kemampuan seseorang menghadapi tekanan dan mempertahankan produktivitas.
Tekanan pekerjaan, tuntutan pencapaian target, ketidakpastian finansial, hingga tanggung jawab keluarga dapat menjadi bagian dari tantangan yang dihadapi pekerja. Ketika berbagai tuntutan tersebut bertemu dengan keterbatasan waktu istirahat dan dukungan sosial, menjaga kesejahteraan psikologis menjadi semakin penting.
CEO dan Co-Founder Halodoc, Jonathan Sudharta, mengungkapkan bahwa kebutuhan konsultasi terkait gangguan kecemasan di platform tersebut mengalami peningkatan signifikan.
“Konsultasi terkait gangguan kecemasan (anxiety) di Halodoc pada semester I 2026 meningkat 47,2% dibandingkan dengan semester I 2025,” ujar Jonathan melalui catatan tertulis Zurich Asuransi Indonesia, dikutip Selasa, 3 November 2026.
Baca Juga: Tak Cuma Tanam Mangrove, Zurich Dukung UMKM Lokal di Tanjung Pasir
Baca Juga: Kesadaran Proteksi Finansial Meningkat, Zurich Perkuat Layanan di Berbagai Daerah
Data tersebut menggambarkan peningkatan konsultasi di Halodoc, bukan angka prevalensi gangguan kecemasan seluruh penduduk Indonesia. Meski demikian, perkembangan ini menjadi salah satu konteks untuk melihat pentingnya akses terhadap dukungan kesehatan mental, termasuk bagi pekerja yang menghadapi tekanan dalam kehidupan sehari-hari.
Konsultasi Anxiety di Halodoc Meningkat 47,2%
Kenaikan konsultasi gangguan kecemasan sebesar 47,2% menunjukkan bahwa semakin banyak konsultasi terkait anxiety yang tercatat di Halodoc pada semester I 2026 dibandingkan semester I 2025.
Namun, angka tersebut tidak dapat langsung diartikan bahwa jumlah penderita gangguan kecemasan di Indonesia juga meningkat dengan persentase yang sama. Peningkatan penggunaan layanan konsultasi dapat dipengaruhi berbagai faktor, sementara materi yang disampaikan Halodoc tidak merinci penyebab kenaikan tersebut.
Perbedaan ini penting untuk dipahami agar data platform tidak disamakan dengan hasil survei kesehatan masyarakat. Data konsultasi menggambarkan aktivitas layanan pada suatu platform, sedangkan prevalensi mengukur proporsi penduduk yang mengalami kondisi tertentu dalam populasi.
Terlepas dari batasan tersebut, peningkatan konsultasi ini memperlihatkan relevansi layanan kesehatan mental dalam kehidupan masyarakat. Akses terhadap tenaga profesional dapat menjadi salah satu sarana bagi seseorang untuk memahami kondisi psikologis yang dialaminya dan memperoleh bantuan yang sesuai.
Dalam lingkungan kerja, perhatian terhadap kesehatan mental juga semakin penting. Pekerja tidak hanya dituntut menyelesaikan tugas dan memenuhi target, tetapi juga harus beradaptasi dengan perubahan teknologi, dinamika organisasi, serta kondisi ekonomi yang tidak selalu pasti.
Tekanan yang muncul dari berbagai arah tersebut dapat membuat kesejahteraan psikologis menjadi bagian penting dari kemampuan seseorang menjalankan pekerjaannya secara berkelanjutan.
Kesehatan Mental Menjadi Bagian Penting dari Ketahanan Pekerja
Pentingnya kesehatan mental dalam dunia kerja juga menjadi salah satu pembahasan dalam studi The Resilient Workforce yang dilakukan Zurich bersama University of Oxford.
Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 11.000 responden dari 16 negara, termasuk Indonesia. Studi ini mengukur ketahanan pekerja melalui lima dimensi, yaitu fisik, psikologis, sosial, finansial, dan digital.
Kelima dimensi tersebut menggambarkan bahwa ketahanan pekerja tidak hanya ditentukan oleh kemampuan fisik atau keterampilan profesional. Kondisi psikologis, hubungan sosial, kesiapan finansial, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi juga menjadi bagian dari kemampuan seseorang menghadapi perubahan.
Direktur Keuangan PT Zurich Asuransi Indonesia, Musi Samosir, menjelaskan bahwa ketahanan atau resilience berbeda dengan well-being. Kesejahteraan menggambarkan kondisi seseorang, sedangkan ketahanan berkaitan dengan kemampuan menghadapi perubahan dan kembali menuju kondisi yang lebih positif.
Dengan demikian, seseorang tidak harus selalu berada dalam keadaan baik untuk disebut memiliki ketahanan. Pekerja tetap dapat mengalami tekanan, masalah kesehatan, atau kondisi psikologis yang tidak ideal, tetapi memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan mencari dukungan ketika menghadapi situasi tersebut.
Pemahaman ini penting dalam pembahasan kesehatan mental. Mengalami kecemasan atau tekanan psikologis tidak otomatis berarti seseorang kehilangan seluruh kemampuan untuk bekerja dan beradaptasi. Sebaliknya, kondisi tersebut perlu dipahami secara tepat agar individu dapat memperoleh dukungan sesuai kebutuhannya.
Musi juga menjelaskan bahwa ketahanan pekerja Indonesia mencatatkan skor relatif tinggi dalam studi tersebut.
“Secara keseluruhan, skor resilience Indonesia mencapai 4,37,” kata Musi.
Skor tersebut dihitung dari skala 5 dan hanya terpaut 0,01 poin dari negara dengan skor tertinggi, yakni 4,38. Sementara itu, rata-rata global berada di angka 4,11.
Indonesia juga tercatat memiliki skor di atas rata-rata global pada kelima dimensi ketahanan yang diukur. Meski demikian, skor agregat tersebut tidak berarti seluruh pekerja Indonesia telah memiliki kondisi psikologis yang sama baiknya.
Tekanan Pekerjaan dan Kehidupan Dapat Memengaruhi Kesejahteraan
Kesehatan mental pekerja tidak dapat dilepaskan dari berbagai tuntutan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Pekerjaan dengan target tinggi, jam kerja panjang, ketidakpastian karier, hingga persoalan finansial dapat menjadi bagian dari tekanan yang harus dikelola seseorang.
Di luar pekerjaan, tanggung jawab keluarga juga dapat menambah kompleksitas kehidupan pekerja. Studi Zurich dan University of Oxford mencatat sebanyak 73% responden Indonesia memiliki tanggung jawab caregiving atau pengasuhan dan perawatan anggota keluarga.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 63%. Tanggung jawab caregiving dapat mencakup mengasuh anak, merawat orang tua, hingga memberikan dukungan fisik dan finansial kepada anggota keluarga.
Musi menyoroti besarnya proporsi tanggung jawab pengasuhan yang dimiliki responden Indonesia.
“Indonesia itu punya proporsi caregiving yang lebih tinggi dibandingkan global, 73%,” ujar Musi.
Tanggung jawab tersebut dapat menyita waktu, tenaga, dan sumber daya finansial. Bagi pekerja yang harus membiayai kebutuhan anak sekaligus membantu orang tua, misalnya, tekanan kehidupan tidak berhenti ketika jam kerja selesai.
Persoalan finansial juga dapat menjadi tantangan tambahan. Studi tersebut mencatat sebanyak 34% responden Indonesia belum memiliki dana cadangan yang memadai untuk menghadapi keadaan darurat.
Kondisi keuangan yang belum stabil dapat menambah beban pikiran ketika seseorang menghadapi kebutuhan mendadak atau ketidakpastian pendapatan. Namun, data tersebut tidak secara langsung membuktikan bahwa persoalan finansial menjadi penyebab peningkatan konsultasi anxiety di Halodoc.
Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana berbagai tuntutan tersebut dapat hadir secara bersamaan. Pekerja mungkin harus mempertahankan kinerja di kantor, memenuhi kebutuhan keluarga, mengelola pengeluaran, dan tetap menjaga kesehatan diri sendiri.
Karena itu, kesehatan mental tidak semestinya hanya dipahami sebagai persoalan individu. Lingkungan keluarga, kondisi ekonomi, dan budaya kerja turut menjadi konteks yang perlu diperhatikan dalam membangun kesejahteraan pekerja.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ancaman Denny Indrayana ke Presiden Prabowo Bentuk Penghinaan pada Mandat Rakyat
- 2Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 3Memutus Mata Rantai Kejahatan Keuangan Digital: Upaya OJK Melindungi Masyarakat dari Jerat Judi Online
- 4Tak Tergilas Disrupsi, Tak Terjebak Perang Harga: Rahasia Bluebird Menjaga Takhta di Industri Transportasi Dalam Negeri
- 5Ina Liem Kini Setuju Gibran Mundur dari Wapres, Alasannya Bikin Heboh
- 6Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 7Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 8Prediksi Skor Shakhtar vs Sporting CP 4 November 2026: Sama-Sama Incar Kebangkitan
- 9Pemerintah Tegaskan Perekonomian Indonesia Masih Positif Jelang Akhir Tahun
- 10Ketua KPK Ingatkan Nusron Wahid Penuhi Panggilan Penyidik Tanpa Harus Dijemput Paksa







