Akurat Logo

MATAKIN Dukung Gerakan Tobat Ekologis KLH, Sebut Menjaga Alam sebagai Bentuk Kebaktian

Saeful Anwar | 3 November 2026, 21:01 WIB
MATAKIN Dukung Gerakan Tobat Ekologis KLH, Sebut Menjaga Alam sebagai Bentuk Kebaktian
Ketua Umum Dewan Rohaniwan/Pengurus Pusat MATAKIN, Budi Santoso Tanuwibowo, saat menerima kunjungan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Moh Jumhur Hidayat, di Gedung Khonghucu Yayasan Tepasalira, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (3/11/2026).

AKURAT.CO Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) menyatakan dukungan terhadap Gerakan Tobat Ekologis Nasional yang diinisiasi Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Dalam ajaran Konghucu, menjaga kelestarian alam merupakan bagian dari kebaktian dan penghormatan terhadap kehidupan.

Ketua Umum Dewan Rohaniwan/Pengurus Pusat MATAKIN, Budi Santoso Tanuwibowo, mengatakan, merusak alam merupakan pelanggaran moral karena bertentangan dengan nilai-nilai kebaktian dalam ajaran Konghucu.

Hal itu disampaikan Budi saat menerima kunjungan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Moh Jumhur Hidayat, di Gedung Khonghucu Yayasan Tepasalira, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (3/11/2026).

Pertemuan tersebut membahas kolaborasi lintas agama dalam mendukung Gerakan Tobat Ekologis Nasional.

Menurut Budi, ajaran Konghucu telah menanamkan etika pelestarian lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai tersebut antara lain tercermin dalam larangan menebang pohon sembarangan tanpa melakukan penanaman kembali, menggunakan jaring terlalu rapat untuk menangkap ikan atau burung, serta berburu hewan saat sedang tidur.

"Jadi, pelanggaran terhadap menebang pohon sembarangan sebelum waktunya tanpa mengganti itu dianggap sebagai perbuatan tidak berbakti. Begitu juga kalau menangkap ikan atau burung, tidak boleh pakai jaring yang lubangnya terlalu lengket, karena nanti anak-anaknya (ikan) tidak lepas," kata Budi.

Ia menilai, pelestarian lingkungan tidak cukup hanya disampaikan melalui teori di sekolah maupun ajaran agama. Upaya tersebut harus disertai keteladanan dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Budi juga mendorong pembiasaan perilaku ramah lingkungan, seperti membawa tas belanja sendiri untuk mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai.

"Pada prinsipnya, kami siap membantu Gerakan Tobat Ekologis Nasional yang akan dicanangkan. Apa pun programnya selama kami bisa bantu lakukan, kami pasti siap," tegasnya.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat mengatakan, kunjungannya bersama jajaran KLH ke MATAKIN merupakan bagian dari upaya membangun dukungan tokoh agama terhadap Gerakan Tobat Ekologis Nasional.

"Kedatangan kami (KLH) ke sini ada kaitannya dengan kami punya niat yang memerlukan diskusi atau restu dari tokoh-tokoh agama tentang rencana Gerakan Tobat Ekologis Nasional," kata Jumhur.

Menurut Jumhur, gerakan tersebut memiliki semangat keagamaan karena mengajak setiap individu dan lembaga untuk menyadari serta memperbaiki tindakan yang berdampak buruk terhadap lingkungan.

"Pada prinsipnya semua kita pasti pernah bersalah terhadap bumi, terhadap lingkungan. Karena itu kita ingin bertobat dalam perspektif individu, perspektif organisasi, pemerintahan, korporasi itu pernah berbuat salah lah terhadap bumi ini," ujarnya.

Jumhur menegaskan, upaya menjaga lingkungan membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang usia, latar belakang pendidikan, agama, etnis, maupun negara.

"Ini cocok sekali kita jadi bagian dari itu, tidak ada jarak di antara kita karena sesungguhnya semua berkepentingan untuk menyelamatkan bumi," katanya.

Baca Juga: Bukan Cuma Presiden, Dugaan Penyadapan yang Seret Jenderal Listyo Sigit Sasar Tokoh Politik hingga Media

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.