Akurat Logo

Studi Zurich: Tidur Kurang dari 6 Jam Bisa Mengancam Ketahanan dan Produktivitas Kerja

Idham Nur Indrajaya | 3 November 2026, 21:06 WIB
Studi Zurich: Tidur Kurang dari 6 Jam Bisa Mengancam Ketahanan dan Produktivitas Kerja
Studi Zurich menempatkan tidur sebagai fondasi ketahanan pekerja. Simak kaitannya dengan kesehatan dan produktivitas kerja. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Tidur seringkali menjadi hal pertama yang dikorbankan pekerja ketika menghadapi tenggat pekerjaan, target perusahaan, atau tanggung jawab keluarga. Padahal, istirahat merupakan salah satu fondasi penting untuk menjaga ketahanan fisik dan mental. Studi Zurich bersama University of Oxford melalui riset The Resilient Workforce menempatkan tidur sebagai faktor yang mendukung kemampuan pekerja menghadapi tekanan dan mempertahankan produktivitas.

Kebiasaan tidur terlalu singkat, termasuk kurang dari enam jam, perlu menjadi perhatian karena dapat membuat pekerja kesulitan menjaga keseimbangan aktivitas sehari-hari. Di tengah tuntutan pekerjaan yang semakin kompleks, kualitas istirahat tidak semestinya dianggap sebagai urusan pribadi semata. Perusahaan juga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan karyawan.

Temuan Zurich tersebut menjadi relevan ketika produktivitas sering kali diukur dari durasi kerja, jumlah tugas yang diselesaikan, atau pencapaian target. Padahal, kemampuan seseorang untuk bekerja secara berkelanjutan juga bergantung pada kondisi fisik, psikologis, dan kemampuannya beradaptasi terhadap perubahan.

Mengapa Tidur Penting bagi Ketahanan dan Produktivitas Pekerja?

Dalam studi The Resilient Workforce, Zurich bersama University of Oxford mengidentifikasi tidur sebagai salah satu faktor penting yang mendukung ketahanan pekerja atau workforce resilience.

Direktur Keuangan PT Zurich Asuransi Indonesia, Musi Samosir, menjelaskan bahwa tidur memiliki peran mendasar dalam menjaga kemampuan seseorang menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

“Berdasarkan studi The Resilient Workforce, tidur merupakan fondasi bagi resilience,” ujar Musi dalam pemaparan hasil penelitian di Jakarta, Selasa, 3 November 2026.

Menurut Musi, tidur berkaitan dengan seluruh dimensi ketahanan yang diukur dalam penelitian, mulai dari fisik, psikologis, sosial, finansial, hingga digital.

Artinya, ketahanan pekerja tidak cukup hanya dibangun melalui kemampuan teknis atau keterampilan profesional. Kondisi tubuh dan pikiran yang terjaga juga dibutuhkan agar seseorang dapat menjalankan aktivitas, mengambil keputusan, serta menghadapi tekanan pekerjaan.

Pekerja yang terus mengurangi waktu istirahat demi menyelesaikan pekerjaan berisiko mengabaikan kebutuhan dasar tubuhnya. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat menjadi persoalan apabila membuat seseorang kesulitan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Meski demikian, penting untuk membedakan antara temuan penelitian dan penjelasan umum mengenai kesehatan tidur. Data yang disampaikan Zurich dalam materi penelitian yang tersedia menegaskan posisi tidur sebagai fondasi ketahanan, bukan menetapkan bahwa durasi tidur di bawah enam jam secara langsung menyebabkan penurunan produktivitas dengan persentase tertentu.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.