Cegah Radikalisme dan Kekerasan Remaja, Kuncinya Fondasi Keluarga Serta Edukasi Berkesinambungan

AKURAT.CO Ancaman intoleransi, radikalisme, dan aksi main hakim sendiri atau vigilantisme di kalangan generasi muda menjadi persoalan serius yang perlu perhatian bersama.
Berbagai tindakan anarkis di ruang publik belakangan ini tidak lepas dari derasnya arus informasi digital. Setiap aksi kekerasan kini mudah terekspos dan cepat viral di media sosial.
Menanggapi fenomena tersebut, pakar pendidikan, Ki Darmaningtyas, menilai akar persoalan berawal dari rapuhnya fondasi sosial di tingkat keluarga.
Ia menyebut perilaku main hakim sendiri tidak terlepas dari bentukan dalam keluarga.
"Anak-anak yang tumbuh tanpa keharmonisan keluarga cenderung lebih mudah untuk kehilangan arah atau pegangan hidup. Anak yang demikian kemudian mengalami kegelisahan di dalam bersikap dan bertindak, dan itu secara tidak langsung akan mempengaruhi perilaku mereka. Di mana ketika mereka mengalami krisis kasih sayang, dia cenderung akan mudah meluapkan emosinya dalam tindakan-tindakan sepihak untuk melakukan kekerasan terhadap sesamanya," jelas Darmaningtyas, melalui keterangannya, Selasa (3/11/2026).
Ia mengatakan, 50 persen pembentukan karakter anak berasal dari keluarga, 30 persen dari sekolah, dan 20 persen dari lingkungan pergaulan. Ketika fondasi keluarga rapuh, maka anak cenderung mengalami masalah psikologis.
"Kalau kita lihat, ini pengalaman saya pribadi dan pengalaman teman yang mengelola SDM cukup banyak, ada kerentanan psikis pada anak milenial dan Gen Z, apalagi generasi Alfa. Tantangannya makin banyak, tapi peletakan dasar dari keluarga semakin minim. Itu berpengaruh terhadap perilaku main hakim sendiri," jelas Darmaningtyas.
Menurutnya, penyebaran paham radikal dan intoleran di era digital juga diperparah obsesi anak muda terhadap perhatian instan di media sosial. Ketika tindakan destruktif mendapat sorotan luas, hal itu sering disalahartikan sebagai prestasi atau pencapaian eksistensi diri.
"Tindakan main hakim atau ekstremisme itu ternyata dianggap bisa mengangkat diri si pelaku agar menjadi viral atau terkenal. Tindakan vigilantisme atau main hakim sendiri menjadi populer di kalangan para pelaku karena mereka merasa belum tentu akan mendapatkan hukuman yang setimpal, bisa jadi dia malah happy karena perbuatan jahatnya itu dicita-citakan sebagai obsesi untuk mendapat perhatian orang banyak," ujarnya.
Fenomena pamer perilaku menyimpang di ruang digital membuat pelaku merasa bebas dari rasa bersalah karena tujuan psikologis untuk mendapat atensi publik telah terpenuhi secara instan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ancaman Denny Indrayana ke Presiden Prabowo Bentuk Penghinaan pada Mandat Rakyat
- 2Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 3Memutus Mata Rantai Kejahatan Keuangan Digital: Upaya OJK Melindungi Masyarakat dari Jerat Judi Online
- 4Tak Tergilas Disrupsi, Tak Terjebak Perang Harga: Rahasia Bluebird Menjaga Takhta di Industri Transportasi Dalam Negeri
- 5Ina Liem Kini Setuju Gibran Mundur dari Wapres, Alasannya Bikin Heboh
- 6Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 7Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 8Prediksi Skor Shakhtar vs Sporting CP 4 November 2026: Sama-Sama Incar Kebangkitan
- 9Pemerintah Tegaskan Perekonomian Indonesia Masih Positif Jelang Akhir Tahun
- 10Ketua KPK Ingatkan Nusron Wahid Penuhi Panggilan Penyidik Tanpa Harus Dijemput Paksa




