10 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan saat Ikut MTQ Menurut Islam

AKURAT.CO Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) bukan sekadar perlombaan membaca dan menghafal Al-Qur'an, tetapi juga menjadi sarana syiar Islam. Melalui kegiatan ini, peserta didorong untuk meningkatkan kemampuan sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap kitab suci.
Namun, keinginan menjadi juara tidak boleh mengalahkan adab dan nilai agama. Ada sejumlah perilaku yang perlu dihindari peserta MTQ agar perlombaan tidak kehilangan makna spiritualnya. Berikut sepuluh hal yang perlu diperhatikan.
1. Menjadikan Riya sebagai Tujuan Utama
Mengikuti MTQ untuk memperoleh prestasi bukanlah sesuatu yang dilarang. Namun, jika tujuannya semata-mata mencari pujian dan popularitas, peserta perlu berhati-hati terhadap riya. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ma'un ayat 6:
الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
"(Yaitu) orang-orang yang berbuat riya."
Karena itu, jadikan MTQ sebagai sarana meningkatkan kemampuan dan kecintaan terhadap Al-Qur'an, bukan sekadar membangun citra diri.
2. Bersikap Sombong ketika Menjadi Juara
Kemenangan tidak seharusnya membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada peserta lain. Kemampuan membaca Al-Qur'an merupakan karunia Allah yang semestinya disyukuri, bukan alasan untuk menyombongkan diri.
Allah SWT berfirman dalam QS. Luqman ayat 18:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا
"Janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh."
Peserta yang menang hendaknya tetap rendah hati, sedangkan yang belum berhasil tidak perlu kehilangan semangat.
Baca Juga: Ngelike Konten Maksiat, Apakah Mendapatkan Dosa?
3. Merendahkan Peserta Lain
MTQ merupakan kompetisi, bukan ruang untuk saling menjatuhkan. Menghina kualitas bacaan, menertawakan kesalahan, atau mempermalukan peserta lain bertentangan dengan akhlak Islam.
Allah SWT mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 11:
لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ
"Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain."
Sebaliknya, perlombaan seharusnya menjadi ruang saling memotivasi dan belajar.
4. Menghalalkan Segala Cara demi Menang
Keinginan mendapatkan juara tidak boleh membuat peserta melakukan kecurangan, seperti memalsukan identitas, memanipulasi dokumen, atau menggunakan bantuan yang dilarang.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
"Barang siapa menipu kami, maka ia bukan termasuk golongan kami." (HR. Muslim).
Kemenangan yang diperoleh melalui kejujuran jauh lebih bermakna daripada prestasi yang dibangun melalui kecurangan.
5. Menghina Dewan Hakim
Keputusan dewan hakim terkadang tidak sesuai dengan harapan peserta. Namun, ketidakpuasan tidak boleh dilampiaskan melalui penghinaan, ancaman, atau tindakan tidak sopan.
Jika terdapat dugaan kesalahan penilaian, peserta dapat menyampaikan keberatan melalui mekanisme resmi panitia. Kritik boleh disampaikan, tetapi etika dan kehormatan orang lain harus tetap dijaga.
6. Mengabaikan Kewajiban Salat
Kesibukan mengikuti MTQ, mulai dari latihan hingga menunggu giliran tampil, tidak boleh menjadi alasan meninggalkan salat.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ankabut ayat 45:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
"Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar."
Jangan sampai seseorang sibuk memperindah bacaan Al-Qur'an di hadapan manusia, tetapi justru melalaikan kewajibannya kepada Allah.
7. Menjadikan Hadiah sebagai Satu-satunya Tujuan
Hadiah MTQ pada dasarnya boleh diterima selama mekanismenya sesuai syariat. Namun, menjadikan uang sebagai satu-satunya motivasi dapat menggeser tujuan utama mempelajari Al-Qur'an.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
"Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadiah sebaiknya menjadi bonus atas prestasi, bukan alasan satu-satunya untuk berinteraksi dengan Al-Qur'an.
8. Menggunakan Al-Qur'an untuk Mencari Popularitas Semata
Membagikan video penampilan atau foto kemenangan MTQ di media sosial tidak otomatis dilarang. Publikasi bahkan dapat menjadi sarana syiar dan inspirasi.
Namun, peserta perlu menghindari perilaku yang menjadikan Al-Qur'an sekadar alat memperoleh popularitas, pengikut, dan pujian. Jangan sampai semangat syiar justru berubah menjadi ajang kesombongan digital.
9. Melanggar Adab dan Kesopanan
Peserta MTQ hendaknya menjaga tutur kata, penampilan, pergaulan, dan perilaku. Mengucapkan kata-kata kasar, membuat keributan, atau mengganggu peserta lain tidak sejalan dengan nilai-nilai Al-Qur'an.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak."
Karena itu, kualitas seorang peserta tidak hanya terlihat dari kemerduan suara, tetapi juga dari akhlaknya selama mengikuti perlombaan.
Baca Juga: Dosa Besar Merendahkan Harkat dan Martabat Perempuan dalam Islam
10. Berhenti Membaca Al-Qur'an setelah MTQ Selesai
Jangan menjadikan MTQ sebagai satu-satunya momentum untuk membaca dan mempelajari Al-Qur'an. Semangat berlatih seharusnya tetap terjaga meskipun perlombaan telah berakhir.
Rasulullah SAW bersabda:
اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
"Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya." (HR. Muslim).
MTQ semestinya menjadi pintu untuk semakin dekat dengan Al-Qur'an, bukan sekadar kegiatan musiman demi memperoleh penghargaan.
MTQ Bukan Sekadar Kompetisi, tetapi Pendidikan Akhlak
Pada akhirnya, keberhasilan mengikuti MTQ bukan hanya tentang memperoleh nilai tertinggi, membawa pulang piala, atau mendapatkan hadiah. Lebih dari itu, MTQ merupakan momentum memperkuat hubungan manusia dengan Al-Qur'an.
Jangan sampai seseorang berhasil menjadi juara dalam perlombaan membaca Al-Qur'an, tetapi gagal menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman perilaku. Piala mungkin akan disimpan dan tepuk tangan akan berhenti, tetapi akhlak serta kecintaan terhadap Al-Qur'an semestinya terus hidup dalam kehidupan sehari-hari.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Ancaman Denny Indrayana ke Presiden Prabowo Bentuk Penghinaan pada Mandat Rakyat
- 2Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 3Memutus Mata Rantai Kejahatan Keuangan Digital: Upaya OJK Melindungi Masyarakat dari Jerat Judi Online
- 4Tak Tergilas Disrupsi, Tak Terjebak Perang Harga: Rahasia Bluebird Menjaga Takhta di Industri Transportasi Dalam Negeri
- 5Ina Liem Kini Setuju Gibran Mundur dari Wapres, Alasannya Bikin Heboh
- 6Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 7Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 8Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 9Pemerintah Pastikan Fundamental Ekonomi Tetap Kuat
- 10Harga Cabai Berangsur Turun Awal November



