Akurat Logo

AS Serang Target-Target Iran di Selat Hormuz, Tetapi Bukan Mau Lanjut Perang

Fitra Iskandar | 3 November 2026, 11:34 WIB
AS Serang Target-Target Iran di Selat Hormuz, Tetapi Bukan Mau Lanjut Perang
Syarat Iran buka Selat Hormuz mencakup enam tuntutan kepada AS, dari pencabutan sanksi hingga kompensasi perang. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap target-target Iran di Selat Hormuz pada hari Senin (2/11/2026). Serangan itu menyasar pasukan Iran yang menggunakan rudal darat-ke-udara terhadap aset-aset AS.

Serangan tersebut disebut hanya berskala terbatas dan terjadi menjelang pemilihan paruh waktu AS. Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan melancarkan serangan terhadap Iran sebelum pemilihan tersebut.

Wakil Presiden JD Vance mengatakan kepada wartawan pada hari Senin bahwa ia telah berbicara dengan Trump mengenai negosiasi dengan Iran. "Presiden dan saya sama-sama cukup optimistis mengenai prospek tercapainya penyelesaian melalui negosiasi," katanya.

Pada hari Senin, Iran menyatakan memiliki rencana dua hari untuk membuka kembali Selat Hormuz dan melanjutkan pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat, dengan syarat Washington memenuhi tuntutan mereka.

Sebelumnya, Iran menyebutkan bahwa rencana tersebut dapat dilaksanakan dalam waktu satu minggu jika AS memenuhi tujuh persyaratan, termasuk mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Iran kini menyatakan bahwa kapal-kapal yang melintasi selat yang dibuka kembali itu harus mengikuti rute yang disepakati oleh Iran dan Oman.

Para pejabat Iran juga menegaskan bahwa Amerika Serikat harus mencabut sanksi terhadap penjualan minyak Iran dan menyetujui gencatan senjata yang mencakup wilayah Lebanon.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmail Baghaei, mengatakan bahwa proposal tersebut tetap menjadi dasar bagi negosiasi dengan Washington melalui pihak penengah, meskipun jangka waktu pelaksanaannya kini lebih singkat.

"Hal ini sekali lagi menunjukkan iktikad baik Iran," ujarnya.

Sementara itu, menurut dua pejabat regional dan satu sumber lain yang mengetahui masalah ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendesak pemerintahan Trump untuk melancarkan gelombang serangan lain terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS pada hari Selasa.

Para pejabat regional tersebut mengungkapkan bahwa pihak penengah sedang berupaya memajukan sebuah kerangka kerja di mana Iran akan menghentikan serangan di Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Pembicaraan lebih lanjut direncanakan akan berlangsung minggu ini, kata mereka. Para pejabat tersebut berbicara dengan syarat anonimitas karena mereka membahas informasi rahasia yang berasal dari pejabat Amerika dan Israel. Netanyahu mendesak dilakukannya serangan dalam sebuah percakapan telepon dengan Trump pada akhir pekan lalu, namun Trump tidak memberikan komitmen untuk melakukan tindakan militer, menurut seseorang yang mengetahui isi percakapan tersebut.

Sekutu AS lainnya di Timur Tengah memperingatkan agar tidak ada lagi serangan, dengan alasan bahwa tindakan tersebut akan mengguncang stabilitas kawasan, ujar seorang pejabat regional.

Pemerintah Israel tidak segera memberikan komentar. Gedung Putih juga tidak memberikan tanggapan langsung atas pertanyaan mengenai diskusi yang berlangsung pada akhir pekan tersebut.

Sebuah kapal yang sedang melintasi Selat Hormuz terkena "proyektil tak dikenal" yang menyebabkan lubang pada badan kapal, demikian pernyataan pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) pada hari Senin. Seluruh awak kapal dilaporkan dalam keadaan selamat.

Iran mengeklaim telah menyerang kapal-kapal yang dianggap menempuh rute tanpa izin, sementara kapal-kapal lain dilaporkan terkena ranjau yang dipasang oleh Iran pada awal konflik. Militer AS membantah klaim mengenai ranjau laut tersebut, dengan menyatakan bahwa semua jalur pelayaran yang diakui secara internasional telah dibersihkan oleh pasukan AS.

Di wilayah lain, kelompok pemberontak Houthi di Yaman—yang didukung oleh Iran—menuduh Arab Saudi menyerang sebuah pelabuhan di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman dan membakar sejumlah kapal.

Kementerian Kesehatan yang dikelola Houthi juga menyatakan bahwa bahan peledak menghantam sebuah pasar di Yaman barat daya, menewaskan tujuh orang—termasuk lima anak-anak—dan melukai delapan orang lainnya.

Pihak berwenang Arab Saudi tidak segera memberikan komentar. Associated Press tidak dapat memverifikasi klaim tersebut secara independen.

Sementara itu, militer Yaman yang didukung Arab Saudi menyatakan bahwa sebuah rudal Houthi menghantam pusat medis di provinsi Lahij, dekat Selat Bab el-Mandeb, yang menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai 15 lainnya.

Serangan Houthi lainnya terhadap sebuah pasar umum di desa Aqroudh mengakibatkan 26 orang tewas atau terluka, menurut Kementerian Hak Asasi Manusia Yaman, tanpa memberikan perincian lebih lanjut.

Tiongkok pada hari Senin menyatakan rencananya untuk mengirim utusan khusus ke Iran, Oman, dan Arab Saudi antara awal hingga pertengahan November. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, mengatakan bahwa utusan tersebut akan berfokus pada upaya meredakan ketegangan dan mendorong stabilitas kawasan.

 Di wilayah Tepi Barat yang diduduki, militer Israel menyatakan telah mengakhiri operasi di Hebron yang dimulai bulan lalu, menyusul insiden di mana dua pria bersenjata Palestina menewaskan dua tentara Israel.

Militer Israel menyebutkan bahwa mereka telah menghancurkan tempat tinggal para pria bersenjata tersebut serta menyita sejumlah senjata dan kendaraan ilegal. Operasi tersebut menyebabkan ratusan warga Palestina mengungsi; mereka mulai kembali ke rumah masing-masing pada hari Senin seiring dengan ditariknya sebagian pasukan Israel. Di Deir Bahha, sejumlah penduduk mendapati rumah mereka rusak akibat penggerebekan militer.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.