Militer Amerika Konfirmasi Iran Kembali Hujani Pangkalan AS dengan Rudal Balistik

AKURAT.CO Iran kembali melancarkan serangan rudal balistik ke pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah pada Selasa (28/7/2026). Serangan itu mengakhiri jeda singkat dalam konflik yang sebelumnya membuka harapan bagi dimulainya kembali perundingan damai.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan seluruh rudal yang ditembakkan Iran berhasil dicegat sistem pertahanan udara, sehingga tidak ada korban maupun kerusakan yang dilaporkan di pihak militer AS.
"Seluruh rudal Iran berhasil diintersep. Pasukan Amerika Serikat tetap waspada dan berada dalam tingkat kesiapan tertinggi," demikian pernyataan CENTCOM.
Serangan tersebut menjadi eskalasi terbaru setelah beberapa hari kedua negara menghentikan aksi militer di tengah upaya para mediator internasional mendorong Washington dan Teheran kembali ke meja perundingan untuk membahas gencatan senjata.
Selat Hormuz Kembali Jadi Titik Panas
Konflik kembali berpusat di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi lintasan sekitar 20 persen distribusi minyak dunia.
Sejak perang pecah, Iran beberapa kali menyerang maupun mengancam kapal-kapal dagang dan tanker yang melintas di kawasan tersebut. Setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata sementara pada Juni lalu, perebutan kendali atas Selat Hormuz kembali memanas.
Teheran bahkan sempat mewajibkan kapal asing menggunakan jalur pelayaran yang lebih dekat dengan wilayah pantainya dan membuka kemungkinan mengenakan biaya bagi kapal yang melintas.
Sebagai respons, banyak kapal dagang memilih berlayar melalui jalur selatan di dekat pesisir Oman di bawah pengawasan militer Amerika Serikat. Namun, Iran kembali menyerang sejumlah kapal di rute tersebut.
Arab Saudi Tembak Jatuh Drone Pro-Iran
Di tengah meningkatnya ketegangan, Arab Saudi mengumumkan berhasil menembak jatuh sejumlah drone yang disebut diluncurkan milisi pro-Iran dari wilayah Irak untuk hari kedua berturut-turut.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan drone-drone tersebut menargetkan fasilitas minyak di wilayah timur kerajaan.
"Serangan kembali diluncurkan dari wilayah Irak dan dilakukan oleh milisi teroris yang berafiliasi dengan Iran," demikian pernyataan pemerintah Saudi.
Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi langsung memerintahkan penyelidikan atas tuduhan tersebut. Sementara itu, militer Irak menegaskan tidak akan membiarkan wilayah negaranya digunakan sebagai titik peluncuran serangan terhadap negara sahabat.
Meski demikian, kelompok Islamic Resistance in Iraq membantah terlibat dan menyebut tuduhan Arab Saudi sebagai rekayasa. Mereka justru mengisyaratkan bahwa serangan tersebut dilakukan kelompok Houthi di Yaman.
Houthi Klaim Serang Kapal Tanker Saudi
Kelompok Houthi yang didukung Iran juga mengklaim telah menembakkan rudal ke kapal tanker minyak Arab Saudi NCC Ghazal, sehingga kapal tersebut terpaksa berbalik arah.
Pekan lalu, Houthi mengumumkan blokade terhadap pelayaran Saudi melalui Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan internasional.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan sebuah kapal tanker mendengar ledakan saat berlayar di Laut Merah bagian selatan. Meski tidak menyebut nama kapal, seluruh awak dan kapal dilaporkan dalam kondisi aman.
Iran Klaim Infrastruktur Hancur Akibat Serangan AS
Pemerintah Iran juga menuduh serangan Amerika Serikat pada fase konflik sebelumnya telah menghancurkan sebuah bandara, menara pengawas pelabuhan, 12 jembatan, dua terowongan, serta sejumlah infrastruktur penting lainnya.
Sebelumnya, militer AS mengaku menyerang berbagai target militer Iran sebagai balasan atas aksi Teheran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah negara Arab yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.
Eskalasi terbaru ini terjadi ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerima kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih.
Sumber: PBS
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ancaman Denny Indrayana ke Presiden Prabowo Bentuk Penghinaan pada Mandat Rakyat
- 2Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 3Memutus Mata Rantai Kejahatan Keuangan Digital: Upaya OJK Melindungi Masyarakat dari Jerat Judi Online
- 4Tak Tergilas Disrupsi, Tak Terjebak Perang Harga: Rahasia Bluebird Menjaga Takhta di Industri Transportasi Dalam Negeri
- 5Ina Liem Kini Setuju Gibran Mundur dari Wapres, Alasannya Bikin Heboh
- 6Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 7Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 8Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 9Pemerintah Pastikan Fundamental Ekonomi Tetap Kuat
- 10Harga Cabai Berangsur Turun Awal November








