Akurat Logo

Tata Cara Merawat Dan Mengurus Jenazah dalam Agama Buddha Sesuai Tradisi

Redaksi Akurat | 3 November 2026, 22:10 WIB
Tata Cara Merawat Dan Mengurus Jenazah dalam Agama Buddha Sesuai Tradisi
Tata Cara Merawat Dan Mengurus Jenazah dalam Agama Buddha Sesuai Tradisi

AKURAT.CO Mengurus anggota keluarga yang meninggal dunia dalam ajaran Buddha bukan sekadar prosesi fisik pemakaman, melainkan bentuk penghormatan terakhir yang sarat nilai spiritual.

Dalam pandangan Buddha, kematian adalah transisi kesadaran menuju kehidupan berikutnya. Oleh karena itu, seluruh tata cara pengurusan jenazah dirancang untuk menciptakan ketenangan batin, memperlancar proses pelepasan, serta mengalirkan kebajikan bagi almarhum.

Berikut ada beberapa panduan mendalam dan tata cara mengurus jenazah dalam tradisi Buddha dari masa kritis, perawatan fisik, hingga ritual pelimpahan jasa:

Baca Juga: Bukan Sekadar Lomba Lari, Buddhayana Run 2026 Ajak Masyarakat Rawat Kerukunan

Tahap awal pasca-kematian berfokus penuh pada menjaga suasana tetap hening dan bebas dari gejolak emosi yang berlebihan:

  • Menciptakan Suasana Kondusif Menjelang Ajal: Saat pasien berada dalam masa kritis, keluarga wajib menjaga ketenangan ruangan. Pembacaan paritta, sutra, atau pembacaan mantra Amitabha dilakukan secara lembut di dekat telinga almarhum guna mengarahkan pikirannya pada ketenangan dan ingatan akan kebajikan.

  • Masa Tenang Pascameninggal: Setelah dinyatakan meninggal secara medis, tubuh almarhum sebaiknya dibiarkan tenang tanpa langsung dipindahkan atau disentuh secara kasar selama beberapa jam pertama. Hal ini bertujuan memberi ruang bagi proses pelepasan kesadaran secara alami.

  • Pemandian Dan Penyucian Jenazah: Jenazah dimandikan dengan air bersih yang diberi wewangian atau bunga secara perlahan oleh keluarga dekat atau petugas medis. Setelah dikeringkan, jenazah dikenakan pakaian yang bersih, rapi, dan sopan—biasanya pakaian favorit atau pakaian serba putih.

  • Tata Letak Altar Dan Persemayaman: Jenazah dimasukkan ke dalam peti lalu disemayamkan di rumah duka (umumnya berlangsung 3 hingga 5 hari untuk memberi kesempatan keluarga dan kerabat memberikan penghormatan terakhir). Di depan peti didirikan altar utama yang memuat patung atau gambar Buddha, foto almarhum, lilin, dupa, bunga segar, serta persembahan (amisa-puja) berupa air bersih, buah-buahan, dan makanan vegetaris. Persembahan makanan vegetaris tanpa unsur daging ini melambangkan kasih sayang (karuna) dan penghormatan terhadap kehidupan agar tidak ada makhluk lain yang terbunuh demi prosesi duka.

Baca Juga: Serangan Paramotor di Myanmar Saat Festival Hari Raya Buddha Tewaskan 24 Orang

Ritual Upacara Doa Dan Pelimpahan Jasa

Selama masa persemayaman hingga setelah prosesi pemakaman atau kremasi, rangkaian ibadah difokuskan untuk mengalirkan energi positif kepada almarhum:

  • Pembacaan Paritta Dan Sutra Penghormatan: Keluarga bersama para bhikkhu, pandita, atau umat memimpin pembacaan doa (seperti Karancompatible Metta Sutta, Anattalakkhana Sutta, atau Sutra Amitabha). Doa ini bertujuan memancarkan cinta kasih serta mengingatkan almarhum akan hukum ketidakkekalan (Anicca).

  • Praktik Pelimpahan Jasa (Pattidana): Prinsip utama dalam tradisi Buddhis adalah Pattidana. Keluarga melakukan aksi kebajikan nyata atas nama almarhum—seperti berdana makanan kepada Sangha, menyumbang untuk kaum duafa, atau melepas satwa (fangshen). Jika almarhum tidak sempat melakukan banyak kebajikan semasa hidupnya, kebajikan dan doa penuh ketulusan dari keluarga inilah yang mengalir dan membantu meringankan penderitaan almarhum di alam transisi.

  • Prosesi Pemakaman Dan Kremasi: Agama Buddha membolehkan kremasi maupun pemakaman tanah. Namun, kremasi lebih dianjurkan dan menjadi pilihan utama karena meneladani Sang Buddha Gautama yang jenazahnya dikremasi, sekaligus melambangkan pelepasan ikatan fisik secara mutlak. Sebelum peti ditutup dan diberangkatkan, keluarga mengelilingi peti (padakkhina) sebagai bentuk pelepasan terakhir.

  • Jadwal Peringatan Kematian Berkala: Setelah prosesi kremasi atau pemakaman selesai, doa pelimpahan jasa tidak berhenti di situ. Upacara peringatan dan doa berkala dilanjutkan oleh keluarga pada hari ke-7, hari ke-40 atau ke-49, hari ke-100, serta setiap peringatan tahunan (anniversary) kematian almarhum.

Layya Aulia Cesar (Magang)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
R