Ekonomi RI Diramal Tumbuh 5,2 Persen pada 2026 Ditopang Konsumsi dan Hilirisasi

AKURAT.CO Ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh sebesar 5,2% pada 2026. Konsumsi rumah tangga dan investasi diperkirakan masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian perdagangan dan kondisi keuangan global.
Chief Economist & Head OCBC Group Research, Selena Ling menilai, Indonesia masih memiliki fondasi pertumbuhan yang relatif kuat berkat permintaan domestik. Selain itu, pengembangan industri dan infrastruktur digital dinilai dapat membuka sumber pertumbuhan ekonomi baru dalam jangka panjang.
"Indonesia tetap memiliki fondasi pertumbuhan yang ditopang konsumsi rumah tangga dan investasi. Kami memproyeksikan pertumbuhan sebesar 5,2 persen pada tahun 2026," ujar Selena dalam media gathering OCBC Outlook di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Baca Juga: Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen pada 2027, Investasi Dunia Usaha Harus Naik 7 Persen
Optimisme tersebut didukung oleh kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026. Berdasarkan data yang disampaikan dalam paparan OCBC, produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,3% secara tahunan atau year on year (YoY).
Pada periode yang sama, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,1% YoY. Sementara itu, investasi yang tercermin dari pembentukan modal tetap bruto (PMTB) meningkat lebih tinggi, yakni sebesar 6,9% YoY.
Kinerja tersebut menunjukkan konsumsi domestik dan aktivitas investasi masih menjadi dua komponen penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Di kawasan ASEAN, sejumlah negara juga mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat. Vietnam mencatat pertumbuhan 9,95% YoY pada kuartal III 2026, Singapura sebesar 5,4%, dan Malaysia mencapai 5,3%.
Meski demikian, Selena mengingatkan bahwa prospek ekonomi Indonesia tetap perlu dilihat dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi global. Sejumlah faktor eksternal berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan dan aktivitas investasi di dalam negeri.
Risiko tersebut antara lain berasal dari perkembangan inflasi Amerika Serikat (AS), arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), serta dinamika geopolitik global.
Perubahan kebijakan moneter AS dapat memengaruhi pergerakan arus modal internasional, nilai tukar rupiah, hingga biaya pendanaan. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor dalam menentukan strategi investasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Ancaman Denny Indrayana ke Presiden Prabowo Bentuk Penghinaan pada Mandat Rakyat
- 2Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 3Memutus Mata Rantai Kejahatan Keuangan Digital: Upaya OJK Melindungi Masyarakat dari Jerat Judi Online
- 4Tak Tergilas Disrupsi, Tak Terjebak Perang Harga: Rahasia Bluebird Menjaga Takhta di Industri Transportasi Dalam Negeri
- 5Ina Liem Kini Setuju Gibran Mundur dari Wapres, Alasannya Bikin Heboh
- 6Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 7Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 8Prediksi Skor Shakhtar vs Sporting CP 4 November 2026: Sama-Sama Incar Kebangkitan
- 9Pemerintah Tegaskan Perekonomian Indonesia Masih Positif Jelang Akhir Tahun
- 10Ketua KPK Ingatkan Nusron Wahid Penuhi Panggilan Penyidik Tanpa Harus Dijemput Paksa








