Akurat Logo

Ada Tekanan Baru Sejak Oktober, Bagaimana Kondisi Ekonomi RI?

Andi Syafriadi | 3 November 2026, 22:01 WIB
Ada Tekanan Baru Sejak Oktober, Bagaimana Kondisi Ekonomi RI?
Anggota KSSK yang terdiri dari Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi (Kiri); Menteri Keuangan, Suahasil Nazara (Tengah); Gubernur Bank Indonesia, Destri Damayanti (Kanan Pertama); Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu (Kanan Kedua). - AKURAT.CO/ANDOY

AKURAT.CO Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mulai mencermati peningkatan tekanan terhadap perekonomian Indonesia sejak memasuki Oktober 2026.

Kondisi ini terjadi setelah stabilitas fiskal, moneter, dan sektor keuangan sepanjang kuartal III-2026 dinilai masih terjaga.

Sejumlah faktor menjadi perhatian pemerintah dan otoritas keuangan, mulai dari eskalasi konflik geopolitik, kenaikan harga energi global, hingga kebijakan moneter negara-negara yang masih cenderung ketat.

Merespon hal tersebut, Menteri Keuangan, Suahasil Nazara menjelaskan bahwa tekanan dari luar negeri tersebut turut diikuti sejumlah perkembangan di dalam negeri. Di antaranya pengetatan likuiditas, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta dinamika pasar saham setelah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).

“Meski demikian, KSSK menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menopang stabilitas sistem keuangan,” kata Suahasil dalam konferensi pers KSSK di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Baca Juga: Gejolak Global Tekan Pasar Keuangan RI, Ini Kata KSSK

Suahasil menjelaskan, hasil asesmen KSSK menunjukkan stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga sepanjang kuartal III-2026. Ketahanan tersebut didukung pertumbuhan ekonomi domestik yang masih solid dan intermediasi keuangan yang terjaga.

Namun, perkembangan sejak Oktober menunjukkan adanya tantangan baru yang perlu diantisipasi. Salah satunya berasal dari konflik geopolitik yang mendorong kenaikan harga energi global.

"Ditandai dengan, kenaikan harga energi yang mampu merambat ke perekonomian domestik. Pada saat bersamaan, kebijakan moneter ketat di sejumlah negara juga ikut memengaruhi kondisi keuangan global dan pasar keuangan negara berkembang," papar Menkeu Sua.

Sedangkan dari dalam negeri, tambah Menkeu, adanya pengetatan likuiditas. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga menjadi perhatian karena berlangsung bersamaan dengan peningkatan arus modal keluar dari pasar saham.

Suahasil mengatakan pengumuman MSCI mengenai kondisi pasar saham Indonesia turut memengaruhi perkembangan pasar keuangan domestik.

“Pengumuman MSCI terkait kondisi pasar saham itu juga mewarnai kondisi ekonomi kita. Meningkatnya tekanan terhadap nilai tukar juga menyebabkan terjadinya peningkatan arus modal keluar dari pasar saham,” ujarnya.

Baca Juga: Suahasil Nazara Resmi Jadi Menkeu, Koordinasi KSSK akan Lebih Mesra

Menghadapi perkembangan tersebut, KSSK menyatakan akan terus melakukan asesmen secara forward-looking. Artinya, pemantauan tidak hanya berfokus pada kondisi ekonomi saat ini, tetapi juga mengantisipasi potensi risiko yang dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan ke depan.

KSSK juga menekankan pentingnya koordinasi antarotoritas untuk merespons perubahan kondisi ekonomi. Kerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan akan diperkuat guna mengurangi dampak rambatan risiko global terhadap perekonomian Indonesia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.