Akurat Logo

Serangan Siber Lumpuhkan Kulkas Supermarket Eropa, Suhu Freezer Mendadak Naik hingga 50 Derajat Celsius

Fitra Iskandar | 3 November 2026, 07:21 WIB
Serangan Siber Lumpuhkan Kulkas Supermarket Eropa, Suhu Freezer Mendadak Naik hingga 50 Derajat Celsius
Serangan siber membuat freezer di sejumlah swalayan Eropa menjadi panas. - Thenewdaily

AKURAT.CO Serangan siber terhadap supermarket Eropa kembali terjadi. Sejumlah jaringan supermarket di Swedia, Belgia, Luksemburg, hingga Irlandia menjadi sasaran peretasan yang membuat sistem pendingin makanan dan freezer mengalami kenaikan suhu secara drastis. Bahkan, beberapa freezer dilaporkan mencapai suhu 50 derajat Celsius.

Insiden peretasan kulkas supermarket Eropa tersebut terjadi dalam waktu hampir bersamaan pada Senin dini hari. Serangan menyasar sistem pendingin di puluhan gerai supermarket, sehingga mengancam keamanan stok makanan beku dan produk segar yang membutuhkan suhu penyimpanan rendah.

Jaringan supermarket Ahold Delhaize dan Colruyt mengonfirmasi adanya gangguan teknologi informasi yang berdampak pada sistem pendingin di sejumlah toko di Belgia dan Luksemburg. Sementara itu, dua jaringan ritel Swedia, ICA dan Coop, juga melaporkan kejadian serupa.

Engla Ingwall, manajer penjualan sebuah gerai waralaba ICA di Stockholm, mengatakan seluruh freezer di tokonya mengalami kenaikan suhu hingga 50 derajat Celsius.

"Telah terjadi serangan siber dan semua freezer kami mencapai suhu 50 derajat Celsius," kata Ingwall kepada Reuters.

Menurutnya, serangan berlangsung sekitar pukul 02.00 dini hari, tetapi baru diketahui beberapa jam kemudian.

Juru bicara ICA mengatakan pihaknya mengetahui adanya insiden yang berdampak pada sistem pendingin dan freezer di sejumlah kecil gerai. Perusahaan kini berupaya menangani gangguan tersebut.

Serangan siber menyebar ke sejumlah negara Eropa

Serangan terhadap supermarket ini tidak hanya terjadi di Belgia dan Swedia. Di Belanda, sedikitnya 17 toko kecil turut terdampak, menurut perusahaan teknologi pendingin Danfoss.

Colruyt Group, yang mengoperasikan jaringan toko Spar di Belgia melalui sistem waralaba, melaporkan lima gerainya mengalami serangan terhadap sistem pendingin.

Sementara itu, Carrefour mengungkapkan 15 dari sekitar 700 gerainya di Belgia terdampak. Di Irlandia, perusahaan grosir makanan Musgrave menyebut insiden siber memengaruhi sistem pendingin di 13 gerai SuperValu. Sejumlah produk dingin dan beku terpaksa ditarik dari penjualan.

Di Swedia, Coop mengonfirmasi enam gerainya mengalami gangguan serupa. Serangan juga dilaporkan terjadi di Estonia, ketika suhu pendingin supermarket di negara tersebut diatur hingga mencapai 50 derajat Celsius.

Stephan Moelans, CEO perusahaan pendingin asal Belgia, Sabcobel, yang mengoperasikan sistem pendingin Delhaize, memastikan insiden tersebut merupakan serangan siber.

Menurutnya, peretas mengubah pengaturan evaporator pada unit pendingin menjadi mode pencairan bunga es atau defrost.

"Kami sudah bekerja sejak pukul 02.00 dini hari. Sepanjang malam hingga pagi, kami berupaya memutus unit-unit yang terdampak dari jaringan," kata Moelans kepada kantor berita Belga.

Daging senilai 15.000 euro rusak akibat peretasan

Dampak serangan siber tersebut juga dirasakan pelaku usaha makanan. Luc De Laet, pendiri sekaligus pemilik jaringan toko daging De Laet & Van Haver di Belgia, mengaku mengalami kerugian besar setelah sistem pendingin tokonya diretas.

Ia terbangun sekitar pukul 03.30 setelah menerima telepon dari karyawan yang melaporkan adanya masalah pada sistem pendingin.

Ketika tiba di tokonya di Hove, sebelah selatan Antwerpen, ia mendapati suhu lemari pendingin telah meningkat hingga 18 derajat Celsius.

Akibat kejadian tersebut, sekitar 15.000 euro atau setara puluhan juta rupiah dalam bentuk stok daging rusak dan tidak dapat dijual.

De Laet mengaku khawatir karena peretas ternyata dapat mengakses sistem pengaturan suhu dari jarak jauh.

"Mereka meretas sistem yang mencatat suhu dan bisa mengaturnya dari jarak jauh," ujarnya kepada Reuters.

Ia menilai serangan tersebut sangat mengkhawatirkan karena berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi Eropa. De Laet juga mengaku telah menghubungi polisi, meskipun belum mengetahui apakah penyelidikan resmi telah dilakukan.

Sistem pendingin menjadi sasaran baru peretas

Serangan terbaru ini mengingatkan pada insiden di Prancis bulan lalu. Saat itu, polisi menyebut peretas berhasil mengambil alih kendali unit pendingin di ratusan supermarket. Akibatnya, sejumlah toko mengalami kebakaran dan kerugian akibat kerusakan bahan makanan.

Ahold juga sebelumnya melaporkan insiden keamanan siber kepada polisi pada bulan lalu. Namun, hingga kini belum diketahui siapa pelaku serangan terbaru maupun apakah terdapat hubungan dengan peretasan di Prancis pada Oktober.

Pusat Keamanan Siber Swedia menyatakan sedang menangani sejumlah insiden yang memengaruhi jaringan toko bahan makanan di negara tersebut.

Kepala pusat tersebut, John Billow, mengatakan pihaknya dalam beberapa pekan terakhir menemukan banyak perangkat teknologi operasional di Swedia yang masih rentan terhadap serangan karena belum diperbarui atau mendapatkan pembaruan keamanan.

Menurutnya, perangkat yang terhubung ke jaringan internet kini semakin beragam. Mulai dari kulkas, sistem pemanas, kamera pengawas, hingga jaringan alarm dapat dipantau dan dikendalikan dari jarak jauh.

Kemudahan tersebut sekaligus membuka celah baru bagi penjahat siber untuk mengambil alih perangkat yang sebelumnya hanya berfungsi secara mekanis.

Hingga kini, belum ada kepastian mengenai identitas kelompok peretas maupun motif di balik serangan yang meluas ke sejumlah negara Eropa tersebut. Namun, insiden ini memperlihatkan bahwa ancaman siber tidak lagi terbatas pada pencurian data atau gangguan layanan digital, tetapi juga dapat merusak infrastruktur fisik dan menyebabkan kerugian ekonomi secara langsung.

Sumber: Thenewdaily

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.