Iran Berdiri Gagah di Meja Perdamaian, Benamkan Reputasi Amerika sebagai Adi Daya Kawasan?

AKURAT.CO Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan ditandatangani pada 19 Juni di Swiss memicu perdebatan di kalangan pengamat geopolitik dunia. Sejumlah analis menilai hasil negosiasi tersebut justru memberikan keuntungan lebih besar bagi Teheran dibanding Washington.
Pakar hubungan internasional Richard Rousseau, Ph.D., menyebut Iran berhasil keluar dari konflik dengan posisi tawar yang lebih kuat, sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi risiko kehilangan kredibilitas politik dan diplomatik di Timur Tengah.
Menurut Rousseau, meskipun rincian lengkap memorandum of understanding (MoU) belum dipublikasikan secara resmi, sejumlah informasi yang beredar menunjukkan bahwa Iran berhasil mengamankan beberapa kepentingan strategis utama selama proses negosiasi.
Iran Dinilai Berhasil Pertahankan Pengaruh di Selat Hormuz
Salah satu poin yang menjadi sorotan adalah masa depan Selat Hormuz, jalur pelayaran yang mengangkut sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melalui laut.
Trump sebelumnya mengklaim kesepakatan tersebut akan membuka kembali Selat Hormuz tanpa pembatasan maupun biaya tambahan bagi kapal-kapal internasional.
Namun laporan dari media Iran menyebut Teheran berhasil memasukkan klausul baru yang memungkinkan pengelolaan lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut bersama Oman.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghtchi, bahkan menegaskan bahwa pengelolaan Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelum perang.
"Iran ingin memastikan Selat Hormuz tetap menjadi instrumen pencegah strategis di masa depan," tulis Rousseau dalam analisanya.
Jika benar diterapkan, langkah tersebut akan memberikan Iran pengaruh yang lebih besar terhadap salah satu jalur energi paling vital di dunia.
Gencatan Senjata Permanen Dinilai Untungkan Teheran
Selain isu Selat Hormuz, Iran juga disebut berhasil memperoleh penghentian operasi militer secara permanen di seluruh front konflik, termasuk Lebanon.
Poin tersebut sebelumnya menjadi salah satu garis merah yang tidak ingin dikompromikan oleh Teheran selama perang berlangsung.
Keberhasilan memasukkan klausul tersebut dinilai sebagai kemenangan diplomatik yang signifikan bagi Iran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 2Prediksi Skor Shakhtar vs Sporting CP 4 November 2026: Sama-Sama Incar Kebangkitan
- 3Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 4Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 5Prediksi Skor LASK Linz vs Slovan Bratislava 4 November 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Pertandingan Galatasaray vs Stuttgart 4 November 2026: Skor, Starting XI, dan Jadwal
- 7Prediksi Skor Atletico Madrid vs Bayern Munchen 4 November 2026: Los Rojiblancos Diunggulkan
- 8Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 9Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar
- 10Prabowo Tunjuk Letjen Ariyo Windutomo Jadi Pelaksana Tugas Kepala Staf Kepresidenan Menggantikan Listyo Sigit








