Zurich Gandeng UNICEF untuk Dukung Kesehatan Mental Generasi Muda Indonesia, Begini Caranya

AKURAT.CO Kesehatan mental generasi muda tidak hanya bergantung pada kemampuan individu menghadapi tekanan, tetapi juga dukungan dari keluarga, sekolah, komunitas, dan lingkungan digital. Untuk memperkuat dukungan tersebut, Zurich dan Z Zurich Foundation berkolaborasi dengan UNICEF serta pemerintah Indonesia melalui program Thriving Together.
Program ini berfokus pada penguatan kesehatan mental dan kesejahteraan psikososial remaja melalui lingkungan yang aman dan suportif. Pendekatannya mencakup peningkatan kapasitas komunitas, penguatan peran keluarga, serta integrasi program dengan inisiatif pemerintah agar dukungan bagi remaja dapat menjangkau lebih banyak orang.
Pada fase pertama yang berlangsung pada 2021–2024, program Thriving Together dilaporkan telah menjangkau 318.048 individu di Indonesia. Memasuki fase kedua pada September 2024 hingga Desember 2027, program ini diperluas dan diintegrasikan dengan sejumlah program pemerintah, termasuk pembinaan keluarga yang menyasar remaja dan orang tua.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem dukungan kesehatan mental generasi muda, sehingga mereka tidak hanya didorong untuk mengenali tantangan yang dihadapi, tetapi juga memiliki lingkungan yang mendukung ketika membutuhkan bantuan.
Bagaimana Zurich dan UNICEF Mendukung Kesehatan Mental Generasi Muda?
Dukungan Zurich terhadap kesehatan mental generasi muda dilakukan melalui keterlibatan perusahaan bersama Z Zurich Foundation dalam kemitraan dengan UNICEF dan pemerintah Indonesia.
Program Thriving Together merupakan bagian dari kemitraan global antara Z Zurich Foundation dan UNICEF yang diluncurkan pada 2021. Di Indonesia, program ini dilaksanakan oleh UNICEF Indonesia bersama pemerintah melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dengan dukungan Zurich dan Z Zurich Foundation.
Fokusnya bukan hanya meningkatkan kesadaran individu mengenai kesehatan mental, melainkan juga memperkuat lingkungan tempat remaja tumbuh dan membangun hubungan sosial.
Pendekatan ini menempatkan keluarga, sekolah, dan komunitas sebagai bagian penting dari sistem dukungan. Ketiganya dapat membantu remaja mengenali tantangan yang mereka hadapi, mengurangi stigma terhadap masalah kesehatan mental, serta mendorong mereka mencari pertolongan ketika diperlukan.
Direktur PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Tini Nurianto, menegaskan bahwa dukungan dari lingkungan sekitar menjadi bagian penting dalam tumbuh kembang anak muda.
“Di Zurich, kami percaya bahwa tumbuh kembang anak muda, termasuk kesehatan mentalnya, membutuhkan kontribusi aktif dari lingkungan di sekitar mereka,” kata Tini melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Sabtu, 24 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, program Thriving Together di Indonesia diarahkan untuk mendorong ruang yang aman bagi remaja sekaligus memperkuat peran keluarga, sekolah, dan komunitas.
Melalui pendekatan tersebut, kesehatan mental tidak ditempatkan semata-mata sebagai tanggung jawab remaja. Lingkungan yang suportif juga perlu dibangun agar mereka dapat berbicara mengenai kesulitan yang dihadapi tanpa takut dihakimi.
Thriving Together Perkuat Dukungan dari Keluarga hingga Sekolah
Salah satu pendekatan utama Thriving Together adalah memperkuat dukungan bagi remaja di lingkungan terdekat mereka. Keluarga, sekolah, dan komunitas memiliki peran yang saling melengkapi dalam menciptakan suasana yang mendukung kesejahteraan psikososial.
Di lingkungan keluarga, komunikasi yang terbuka dapat membantu orang tua memahami perubahan perilaku dan tantangan yang dialami anak. Remaja membutuhkan ruang untuk bercerita dan didengarkan tanpa langsung menerima penilaian negatif.
Di sekolah, dukungan dapat diwujudkan melalui lingkungan yang aman, peningkatan pemahaman mengenai kesehatan mental, serta pengurangan stigma. Pemahaman ini penting agar persoalan emosional tidak dianggap sebagai kelemahan atau sesuatu yang harus selalu disembunyikan.
Sementara itu, komunitas dapat membantu memperluas akses informasi dan membangun hubungan sosial yang positif. Lingkungan yang responsif juga dapat membantu remaja mengenali kapan mereka membutuhkan dukungan lebih lanjut.
Pendekatan tersebut sejalan dengan tujuan program untuk memperkuat sistem dukungan di sekitar anak muda. Namun, upaya meningkatkan kesadaran dan dukungan sosial tetap perlu dibedakan dari layanan profesional. Remaja yang mengalami masalah kesehatan mental dan membutuhkan penanganan lebih lanjut perlu memperoleh bantuan yang sesuai.
Dalam pelaksanaannya, program ini juga melibatkan penguatan kapasitas Forum Generasi Berencana (GenRe). UNICEF dan BKKBN mendukung berbagai upaya peningkatan kapasitas Forum GenRe di 34 provinsi untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan kesehatan mental serta kesejahteraan remaja.
Penguatan kapasitas tersebut penting karena remaja membutuhkan informasi yang dapat dipahami dan dukungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Meski begitu, dukungan dari teman sebaya atau komunitas tidak menggantikan peran tenaga profesional ketika seseorang memerlukan penanganan kesehatan mental lebih lanjut.
Baca Juga: Selalu Terhubung di Media Sosial, Mengapa Anak Muda Masih Merasa Kesepian?
Baca Juga: Terungkap Alasan Anak Muda Korea Selatan Memilih Masuk Islam
Forum GenRe di 34 Provinsi Jadi Bagian dari Upaya Penguatan Kapasitas
Forum Generasi Berencana atau GenRe menjadi salah satu unsur yang dilibatkan dalam upaya memperluas dukungan bagi remaja. Melalui penguatan kapasitas, program ini berupaya membekali pihak-pihak yang berinteraksi dengan remaja agar lebih memahami kebutuhan mereka.
Dalam narasi program, sasaran penguatan kapasitas tidak terbatas pada remaja. Orang tua, guru, dan pengasuh juga perlu memiliki pengetahuan serta keterampilan untuk menciptakan lingkungan yang aman, mendukung kesehatan mental, dan melindungi anak dari kekerasan.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pencegahan dan dukungan kesehatan mental membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Remaja dapat belajar mengenali tekanan yang dialami, sementara orang dewasa di sekitarnya dapat membangun komunikasi yang lebih terbuka dan memahami kapan bantuan lebih lanjut diperlukan.
Namun, cakupan 34 provinsi tidak dengan sendirinya berarti semua remaja di setiap provinsi telah menerima layanan yang sama. Cakupan wilayah, jumlah penerima manfaat, dan hasil program merupakan ukuran berbeda yang perlu dinilai secara terpisah.
Thriving Together Telah Menjangkau 318.048 Individu
Program Thriving Together di Indonesia telah melalui dua fase pelaksanaan. Pada fase pertama, yang berlangsung pada 2021–2024, program tersebut dilaporkan menjangkau 318.048 individu di seluruh Indonesia.
Fase kedua dimulai pada September 2024 dan dijadwalkan berlangsung hingga Desember 2027. Fokusnya adalah memperluas implementasi sekaligus mengintegrasikan pendekatan program ke dalam berbagai inisiatif pemerintah, termasuk program pembangunan keluarga yang menyasar remaja dan orang tua.
Integrasi dengan program pemerintah menjadi bagian penting dari keberlanjutan inisiatif. Pendekatan yang terhubung dengan program yang sudah berjalan berpotensi membantu memperluas jangkauan dukungan, meskipun hasilnya tetap bergantung pada pelaksanaan, sumber daya, serta evaluasi di lapangan.
Di tingkat global, kemitraan Thriving Together antara Z Zurich Foundation dan UNICEF juga diperluas untuk meningkatkan dukungan terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan kaum muda. Dalam pengumuman pada Oktober 2024, kedua pihak menyampaikan target untuk mendukung sedikitnya 11 juta orang tambahan selama tiga tahun berikutnya. Target tersebut berbeda dari sasaran Global Youth Mental Health Coalition dalam kampanye Turn Down the Noise.
Adapun Global Youth Mental Health Coalition menargetkan jangkauan hingga 150 juta anak dan kaum muda di 150 negara pada 2030 melalui berbagai inisiatif yang mempromosikan kesehatan mental dan kesejahteraan generasi muda. Zurich dan Z Zurich Foundation merupakan anggota pendiri koalisi tersebut.
Kedua sasaran itu perlu dibedakan agar tidak menimbulkan kesan bahwa seluruh angka merupakan capaian program di Indonesia. Angka 318.048 individu merujuk pada jangkauan fase pertama program Thriving Together di Indonesia, sedangkan 150 juta anak dan kaum muda merupakan target global koalisi.
Turn Down the Noise Ajak Anak Muda Membangun Hubungan Positif
Selain Thriving Together, Zurich dan Z Zurich Foundation juga terlibat dalam kampanye global Turn Down the Noise yang diluncurkan oleh Global Youth Mental Health Coalition. Kampanye ini mengajak anak muda mengenali inner noise atau “kebisingan dalam diri”, yakni tekanan internal yang dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya.
Kampanye tersebut mendorong generasi muda untuk membangun koneksi sosial yang bermakna, mengambil langkah awal untuk menjalin komunikasi, dan mencari dukungan ketika menghadapi kesulitan. Salah satu sarana yang disediakan adalah platform interaktif Turn Down the Noise.
Istilah inner noise digunakan dalam konteks kampanye untuk menggambarkan tekanan yang dirasakan seseorang. Istilah tersebut bukan diagnosis klinis dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan penilaian tenaga profesional.
Head of the Z Zurich Foundation, Gregory Renand, menilai tantangan kesehatan mental generasi muda membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Ia mengatakan:
“Tidak ada satu organisasi pun yang dapat mengatasi tantangan kesehatan mental generasi muda sendirian. Melalui kemitraan kami dengan UNICEF dan Global Youth Mental Health Coalition, Turn Down the Noise menunjukkan kekuatan aksi kolektif dengan menggabungkan jangkauan para mitra global dan pengalaman nyata kaum muda untuk mendorong terciptanya koneksi sosial yang sangat penting bagi kesehatan mental dan kesejahteraan.”
Pernyataan tersebut menekankan bahwa dukungan terhadap kesehatan mental tidak dapat dibebankan kepada satu organisasi atau individu saja. Pemerintah, keluarga, komunitas, lembaga pendidikan, dan mitra lainnya memiliki peran masing-masing dalam membangun lingkungan yang mendukung generasi muda.
UNICEF: Lingkungan Sosial Berperan dalam Kesehatan Mental Remaja
Kolaborasi dengan UNICEF juga menempatkan lingkungan tempat remaja tumbuh sebagai salah satu perhatian utama. Kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan kemampuan individu menghadapi tekanan, tetapi juga pengalaman mereka di rumah, sekolah, masyarakat, dan ruang digital.
Kepala Perlindungan Anak UNICEF Indonesia, Muhammad Rafiq Khan, menjelaskan:
“Kesehatan mental remaja tidak hanya dipengaruhi oleh resiliensi individu, tetapi juga oleh lingkungan tempat anak-anak dan anak muda tumbuh, berkembang, dan membangun hubungan dengan orang lain.”
Ia juga menyoroti pentingnya lingkungan yang memungkinkan anak merasa aman, dihargai, didengar, dan didukung. Menurut Rafiq, keluarga, sekolah, masyarakat, serta platform digital memiliki peran dalam mendorong hubungan positif dan melindungi anak dari kekerasan.
UNICEF bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dan para mitra untuk memperkuat sistem dukungan tersebut, meningkatkan literasi kesehatan mental, mendorong lingkungan digital yang lebih aman, serta membantu remaja mengakses dukungan dan layanan yang sesuai ketika dibutuhkan.
Pendekatan ini memperluas pembahasan kesehatan mental dari sekadar kemampuan seseorang mengelola emosi menjadi persoalan yang juga memerlukan dukungan sosial dan lingkungan yang aman.
Bagi orang tua dan pendidik, hal tersebut berarti penting untuk menyediakan ruang komunikasi yang terbuka. Remaja perlu dapat menyampaikan masalah tanpa langsung disalahkan atau dianggap berlebihan. Jika masalah yang dihadapi mengganggu keseharian atau membutuhkan penanganan lebih lanjut, mereka juga perlu dibantu mengakses tenaga profesional yang sesuai.
Apa yang Bisa Dilakukan Keluarga untuk Mendukung Kesehatan Mental Remaja?
Kolaborasi melalui program tidak menghilangkan peran lingkungan terdekat. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan keluarga, sekolah, dan komunitas untuk membantu membangun lingkungan yang lebih suportif.
Pertama, mendengarkan tanpa menghakimi. Ketika remaja bercerita tentang tekanan atau masalah yang dihadapi, beri kesempatan kepada mereka untuk menjelaskan pengalaman dan perasaannya. Hindari langsung membandingkan masalah mereka dengan pengalaman orang lain.
Kedua, membangun komunikasi yang terbuka. Percakapan mengenai perasaan, pertemanan, tekanan belajar, dan pengalaman di ruang digital dapat membantu orang dewasa memahami situasi yang dihadapi remaja.
Ketiga, mengurangi stigma. Masalah kesehatan mental tidak seharusnya dijadikan bahan ejekan atau dianggap sebagai tanda kelemahan. Sikap yang lebih terbuka dapat membantu remaja merasa lebih aman untuk mencari bantuan.
Keempat, mengenali kebutuhan akan bantuan lanjutan. Dukungan keluarga dan teman dapat menjadi langkah awal, tetapi tidak selalu cukup untuk menangani setiap persoalan. Ketika remaja membutuhkan bantuan lebih lanjut, keluarga atau pendamping dapat membantu menghubungkan mereka dengan tenaga profesional atau layanan yang sesuai.
Langkah-langkah tersebut sejalan dengan pendekatan yang menempatkan keluarga, sekolah, dan komunitas sebagai bagian dari sistem dukungan. Meski demikian, langkah sederhana tidak menjamin semua masalah dapat teratasi. Kebutuhan setiap remaja berbeda sehingga bentuk bantuan perlu disesuaikan dengan situasinya.
Kolaborasi Jangka Panjang untuk Kesehatan Mental Generasi Muda
Melalui Thriving Together dan keterlibatan dalam Global Youth Mental Health Coalition, Zurich dan Z Zurich Foundation mendukung upaya yang melibatkan berbagai pihak untuk memperkuat kesehatan mental generasi muda. Di Indonesia, program bersama UNICEF dan pemerintah berfokus pada lingkungan yang mendukung, penguatan kapasitas, serta integrasi pendekatan ke dalam program pemerintah.
Tini Nurianto menegaskan bahwa komitmen tersebut merupakan upaya jangka panjang. Dalam pernyataannya, ia mengatakan:
“Melalui program Thriving Together di Indonesia, kami ingin mendorong terciptanya ruang yang aman dan suportif bagi remaja, sekaligus memperkuat peran keluarga, sekolah, dan komunitas dalam mengenali tantangan kesehatan mental, mengurangi stigma, serta mendorong keberanian untuk mencari bantuan.”
Capaian fase pertama berupa jangkauan 318.048 individu dan cakupan program di 34 provinsi menjadi bagian dari gambaran pelaksanaan inisiatif tersebut. Sementara itu, fase kedua yang dijadwalkan berlangsung hingga Desember 2027 berfokus pada perluasan dan integrasi program.
Keberhasilan jangka panjang tidak cukup dinilai dari jumlah orang yang dijangkau atau luas wilayah pelaksanaan. Keberlanjutan dukungan, akses terhadap layanan yang sesuai, serta evaluasi mengenai manfaat program bagi remaja juga penting diperhatikan.
Pada akhirnya, dukungan kesehatan mental generasi muda membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Kolaborasi antara Zurich, Z Zurich Foundation, UNICEF, dan pemerintah Indonesia melalui Thriving Together menjadi salah satu upaya untuk memperkuat lingkungan tersebut, agar remaja memiliki ruang yang lebih aman untuk berkembang dan memperoleh bantuan ketika membutuhkannya.
Baca Juga: FFI 2026: Anak Muda Makin Rajin Nabung, Dana Darurat Masih Minim
Baca Juga: Ekonomi Kreatif Jadi Andalan Baru Serap Tenaga Kerja Anak Muda
FAQ
1. Apa tujuan kolaborasi Zurich dan UNICEF dalam kesehatan mental generasi muda?
Kolaborasi ini mendukung upaya memperkuat kesehatan mental dan kesejahteraan psikososial generasi muda melalui program Thriving Together, dengan melibatkan keluarga, sekolah, komunitas, dan pemerintah.
2. Apa itu program Thriving Together di Indonesia?
Thriving Together merupakan bagian dari kemitraan global Z Zurich Foundation dan UNICEF yang diluncurkan pada 2021. Di Indonesia, program ini dilaksanakan UNICEF bersama pemerintah dengan dukungan Zurich dan Z Zurich Foundation.
3. Bagaimana Thriving Together melibatkan keluarga dan sekolah?
Program ini mendorong terciptanya lingkungan yang aman dan suportif, memperkuat pemahaman mengenai kesehatan mental, mengurangi stigma, serta membantu remaja memperoleh dukungan ketika membutuhkannya.
4. Berapa banyak orang yang dijangkau Thriving Together pada fase pertama di Indonesia?
Program tersebut dilaporkan menjangkau 318.048 individu di Indonesia selama fase pertama yang berlangsung pada 2021–2024.
5. Apa peran Forum GenRe dalam mendukung kesehatan mental remaja?
UNICEF dan BKKBN mendukung peningkatan kapasitas Forum Generasi Berencana (GenRe) di 34 provinsi sebagai bagian dari upaya memperkuat pengetahuan dan keterampilan dalam mendukung kesehatan mental serta kesejahteraan remaja.
6. Apa itu kampanye Turn Down the Noise?
Turn Down the Noise merupakan kampanye Global Youth Mental Health Coalition yang mengajak anak muda mengenali tekanan dalam diri, membangun hubungan sosial yang bermakna, dan mencari dukungan yang sesuai.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prancis Terbuka: Ganda Putra Indonesia Menggila, Leo/Daniel dan Raymond/Joaquin Melesat ke Perempat Final
- 2Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 3Netanyahu: AS Akan Hentikan Bantuan Militer ke Israel, Tinggal Menunggu Waktu
- 4Megawati Hangestri Dapat Julukan Baru dari Media Korea, Apa Artinya?
- 5Prediksi Skor Napoli vs Roma 24 Oktober 2026: Derby del Sole Diprediksi Sengit
- 6Pemecatan Michael Carrick Mulai Disuarakan, Ada 'Monster' Sulit Dijinakkan di Tubuh MU?
- 750 Contoh Ucapan Hari Santri 2026 Terbaru, Singkat dan Penuh Makna
- 8Hasil dan Klasemen Liga Champions: Como Tenggelamkan MU, Real Madrid Merangsek ke 3 Besar
- 9KPK Sita BMW Milik Richard Erlangga dalam Korupsi BNPB, Total Ada Empat Mobil
- 10KPK Buka Peluang Kembangkan Kasus Korupsi Jalan Sumut ke Pemprov, Bobby Nasution Disorot








