Akurat Logo

Pulau Jawa Sumbang 58,7 Persen Sampah Nasional, Pengolahan dari Sumber Jadi Alternatif

Idham Nur Indrajaya | 25 Oktober 2026, 07:06 WIB
Pulau Jawa Sumbang 58,7 Persen Sampah Nasional, Pengolahan dari Sumber Jadi Alternatif
Pulau Jawa disebut menyumbang 58,7 persen sampah nasional. Pengolahan sampah organik langsung dari sumber bisa menjadi alternatif. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Pulau Jawa disebut menyumbang sekitar 58,7 persen dari total timbulan sampah nasional. Besarnya kontribusi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya memperkuat pengelolaan sampah sejak dari sumber, termasuk melalui pemilahan dan pengolahan sampah organik sebelum dibawa ke tempat pemrosesan akhir (TPA).

Salah satu alternatif yang diperkenalkan untuk menangani persoalan tersebut adalah teknologi biochemical chamber dari PT Wannan Inti Teknologi. Teknologi ini diklaim mampu mereduksi massa sampah organik hingga 80 persen dalam siklus 1 x 24 jam, dengan kapasitas pengolahan yang disesuaikan dengan model dan spesifikasi mesin.

Direktur PT Wannan Inti Teknologi Jeremy Wijaya memaparkan teknologi tersebut dalam seminar “Advanced Composting Technology 2026: Transforming Organic Waste into Valuable Resources” yang diselenggarakan bersama PT Indonesia Environment Consultant dalam rangkaian ALLPACK INDONESIA EXPO 2026 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.

Menurut Jeremy, pengolahan sampah organik sebelum mencapai TPA dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap sistem pengelolaan sampah yang berorientasi pada pengumpulan dan pembuangan.

“Pertanyaannya adalah, seberapa banyak sampah yang sebenarnya bisa kita selesaikan sebelum mencapai tempat pembuangan akhir? Karena semakin besar sampah atau limbah organik yang diolah lebih awal, maka semakin kecil ketergantungan kita terhadap tempat pembuangan akhir,” kata Jeremy melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Sabtu, 24 Oktober 2026.

Angka kontribusi sampah Pulau Jawa sebesar 58,7 persen tersebut dipaparkan dalam seminar. Namun, informasi mengenai periode pengumpulan dan lembaga penerbit data tidak dijelaskan dalam narasi yang tersedia. Angka itu karena itu perlu dipahami sesuai konteks pemaparannya, bukan langsung dianggap sebagai statistik resmi terbaru.

Pulau Jawa Disebut Menyumbang 58,7 Persen Sampah Nasional

Kontribusi sampah Pulau Jawa menjadi perhatian karena pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan pengangkutan menuju TPA. Sampah yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga, perdagangan, industri, dan berbagai kegiatan ekonomi juga membutuhkan proses pemilahan, pengolahan, serta penanganan residu yang sesuai.

Besarnya timbulan sampah dapat menambah kebutuhan terhadap sarana pengumpulan, transportasi, dan fasilitas pengolahan. Sampah organik juga memerlukan penanganan yang tepat karena karakteristiknya, termasuk kadar air dan potensi menimbulkan bau selama proses penguraian.

Meski demikian, angka 58,7 persen tidak berarti seluruh sampah yang dihasilkan Pulau Jawa merupakan sampah organik. Sampah nasional terdiri atas berbagai jenis material dengan karakteristik dan kebutuhan pengelolaan yang berbeda. Karena itu, penanganannya perlu mempertimbangkan komposisi sampah di setiap wilayah maupun sumber penghasilnya.

Dalam konteks tersebut, pengolahan sampah organik langsung dari sumber menjadi salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan. Pendekatan ini memungkinkan material tertentu ditangani lebih awal sehingga tidak seluruhnya harus melewati alur pengangkutan dan penanganan konvensional dalam kondisi awalnya.

Mengapa Pengolahan Sampah Perlu Dimulai dari Sumber?

Pengelolaan sampah dari sumber berarti melakukan pemilahan dan, jika memungkinkan, pengolahan di lokasi tempat sampah dihasilkan. Lokasi tersebut dapat berupa kawasan permukiman, tempat usaha, fasilitas komersial, atau area industri yang menghasilkan sampah dengan karakteristik tertentu.

Pendekatan ini berbeda dari sistem yang hanya mengumpulkan sampah untuk kemudian mengangkutnya ke fasilitas pengolahan atau TPA. Dengan pengolahan sejak awal, sebagian material yang sesuai dapat ditangani sebelum masuk ke tahap berikutnya dalam rantai pengelolaan sampah.

Bagi pelaku usaha yang menghasilkan sampah organik dalam jumlah besar, pendekatan tersebut berpotensi menjadi bagian dari strategi pengelolaan limbah. Namun, penerapannya membutuhkan perencanaan, mulai dari pemilahan material, penentuan kapasitas pengolahan, hingga penanganan hasil dan residu.

Pengolahan dari sumber juga tidak otomatis menghilangkan kebutuhan terhadap TPA. Material yang tidak dapat diproses, residu pengolahan, dan sampah lain yang tidak memiliki jalur pemanfaatan tetap membutuhkan penanganan sesuai ketentuan. Efektivitas pendekatan ini perlu dinilai berdasarkan jumlah sampah yang benar-benar berhasil diolah dan berkurang dari alur pembuangan.

Teknologi Biochemical Chamber Jadi Salah Satu Alternatif

Dalam seminar tersebut, PT Wannan Inti Teknologi memperkenalkan biochemical chamber sebagai salah satu opsi untuk mengolah sampah organik. Perusahaan menempatkan teknologi ini sebagai bagian dari pendekatan pengolahan material sebelum sampah masuk ke tahap penanganan berikutnya.

Jeremy menjelaskan bahwa mesin tersebut dirancang untuk memproses sampah organik dalam siklus 1 x 24 jam. Perusahaan mengklaim prosesnya dapat menghasilkan reduksi massa hingga 80 persen.

“Dengan mesin biochemical chamber, dalam 1 x 24 jam reduksi massanya mencapai 80 persen. Hasil dari reduksi massa itu bisa digunakan untuk media tanam, membantu menstabilkan pH tanah, meningkatkan unsur hara, serta mendukung reklamasi lahan,” ujar Jeremy.

Klaim tersebut menjadi salah satu aspek yang ditawarkan perusahaan dalam pengolahan sampah organik. Meski demikian, angka reduksi massa perlu dipahami sebagai klaim teknologi yang disampaikan perusahaan, bukan sebagai hasil pengujian independen yang telah diverifikasi dalam semua kondisi pengolahan.

Kinerja pengolahan dapat bergantung pada karakteristik material yang masuk, kondisi operasional, serta spesifikasi unit yang digunakan. Informasi mengenai kebutuhan energi, biaya operasional, dan hasil pengujian produk akhir juga diperlukan untuk menilai kelayakan penerapan teknologi dalam skala tertentu.

Kapasitas Pengolahan Mesin Mulai 30 Kilogram hingga 120 Ton per Hari

PT Wannan Inti Teknologi menyebut mesin biochemical chamber tersedia dalam pilihan kapasitas input mulai dari 30 kilogram hingga 120 ton per hari. Kapasitas tersebut bergantung pada model dan spesifikasi unit yang digunakan.

Rentang kapasitas itu menunjukkan bahwa perusahaan menawarkan pilihan mesin untuk kebutuhan pengolahan dengan skala berbeda. Namun, kapasitas maksimum tidak berarti setiap unit dapat mengolah semua jenis sampah organik dengan hasil yang sama.

Sebelum memilih teknologi, pengelola perlu mengetahui jumlah dan karakteristik sampah yang dihasilkan setiap hari. Data tersebut dapat membantu menentukan apakah kapasitas mesin sesuai dengan kebutuhan aktual, sekaligus menghindari penggunaan fasilitas yang terlalu kecil atau tidak efisien untuk skala operasional tertentu.

Pengelola juga perlu memperhitungkan kebutuhan ruang, tenaga kerja, pemeliharaan, dan penanganan material yang tidak sesuai untuk diproses. Aspek-aspek tersebut menjadi bagian penting dalam menilai manfaat teknologi dibandingkan dengan sistem pengelolaan sampah yang sudah berjalan.

Dari 120 Ton Menjadi 24 Ton, Apa Arti Reduksi Massa 80 Persen?

Sebagai ilustrasi, jika 120 ton material mengalami reduksi massa sebesar 80 persen, massa yang tersisa secara matematis adalah sekitar 24 ton. Perhitungan tersebut menunjukkan selisih massa sebesar 96 ton dari material awal.

Namun, selisih massa tidak boleh langsung ditafsirkan sebagai 96 ton sampah yang sepenuhnya hilang atau tidak lagi menimbulkan dampak lingkungan. Penilaian yang lebih lengkap perlu memperhitungkan proses pengolahan, karakteristik material sebelum dan sesudah diproses, serta kondisi hasil akhirnya.

Reduksi massa juga berbeda dari reduksi volume. Massa merujuk pada berat material, sedangkan volume menunjukkan ruang yang ditempatinya. Perubahan pada salah satu ukuran tidak selalu menghasilkan perubahan dengan persentase yang sama pada ukuran lainnya.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah jumlah sampah yang akhirnya dikirim ke TPA. Angka tersebut dipengaruhi oleh seberapa banyak sampah yang dipilah, berapa banyak yang benar-benar diolah, bagaimana hasilnya dimanfaatkan, dan ke mana residu pengolahan dibawa.

Dengan demikian, klaim reduksi massa hingga 80 persen perlu dibaca sebagai salah satu indikator kinerja yang ditawarkan perusahaan. Dampaknya terhadap pengurangan beban TPA perlu dinilai berdasarkan penerapan nyata dan keseluruhan alur pengelolaan sampah.

Hasil Pengolahan Sampah Organik Berpotensi Digunakan Kembali

Selain mengurangi massa material, pemanfaatan hasil pengolahan menjadi bagian penting dalam pendekatan ekonomi sirkular. Material yang semula dianggap sebagai limbah berpotensi memiliki kegunaan lain apabila memenuhi persyaratan kualitas dan keamanan yang relevan.

Jeremy menyebut hasil pengolahan biochemical chamber berpotensi dimanfaatkan sebagai media tanam, membantu menstabilkan pH tanah, meningkatkan unsur hara, serta mendukung reklamasi lahan.

Potensi tersebut perlu dibedakan dari jaminan bahwa seluruh hasil pengolahan dapat langsung digunakan untuk keperluan tersebut. Kelayakan material bergantung pada bahan baku yang diproses, karakteristik produk akhir, serta hasil pemeriksaan yang sesuai dengan tujuan pemanfaatannya.

Jika hasil pengolahan akan digunakan sebagai media tanam, misalnya, pengelola perlu memastikan material tersebut memenuhi kebutuhan penggunaan yang dituju. Pengujian dan pengendalian mutu diperlukan agar pemanfaatan kembali tidak sekadar memindahkan persoalan sampah ke lingkungan lain.

Ketersediaan pengguna hasil olahan juga menentukan keberlanjutan sistem. Pengolahan akan lebih bermanfaat apabila material yang dihasilkan memiliki jalur pemanfaatan yang jelas, bukan hanya menumpuk sebagai produk sampingan setelah proses pengurangan massa.

Pengolahan Sampah dari Sumber Membuka Peluang Ekonomi Sirkular

Ekonomi sirkular menekankan upaya mempertahankan nilai material melalui pengurangan limbah, pemanfaatan kembali, dan daur ulang sesuai karakteristiknya. Dalam pengelolaan sampah organik, pendekatan ini dapat dilakukan dengan mengolah material yang sesuai dan mencari penggunaan yang layak bagi hasilnya.

Jeremy mengatakan pemanfaatan kembali sampah organik dapat mendukung penerapan ekonomi sirkular di masyarakat.

“Pemanfaatan kembali sumber daya ini mendukung ekonomi sirkular di tengah masyarakat. Ketika organic waste tersebut bisa diolah dengan baik, maka kita bisa membayangkan masa depan di mana sampah atau beban limbah organik tersebut bisa menjadi sumber daya yang berkelanjutan,” ujarnya.

CEO PT Indonesia Environment Consultant E. Kurniawan Padma juga menekankan pentingnya rangkaian proses pengelolaan yang mencakup pemilahan, pengolahan, daur ulang, dan pemulihan material.

“Kita ingin produksi berkelanjutan melalui konsumsi yang bertanggung jawab, penggolongan, pengolahan dan juga daur ulang serta pemulihan material,” kata Kurniawan.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan satu jenis teknologi. Pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan material perlu berjalan sebagai rangkaian yang saling mendukung.

Bagi pelaku usaha, penerapan ekonomi sirkular juga memerlukan pertimbangan praktis. Biaya pengolahan, kebutuhan operasional, kualitas hasil, dan kepastian pemanfaatan material perlu diperhitungkan agar sistem yang dipilih dapat berjalan secara berkelanjutan.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.