Eksplorasi Bahasa Sunda Lewat Seni Kontemporer, Peqho Teater Hadirkan Monda Pelesiran di 5 Kota

AKURAT.CO Kekayaan budaya Nusantara kembali disuguhkan dalam format yang segar dan kekinian.
Melalui dukungan Djarum Foundation, Peqho Teater siap menghentak panggung seni pertunjukan lewat tur keliling lima kota besar di Indonesia, yakni Jakarta, Solo, Jogja, Depok, dan Bandung, dalam pergelaran bertajuk Monda Pelesiran (Monolog Sunda Pelesiran).
Produser Peqho Teater, Mima Yusuf, menjelaskan bahwa pementasan ini menghadirkan tiga sajian berbeda dalam satu malam pertunjukan.
Baca Juga: Aksi Teater di Depan KPK, Seniman Kritik Dugaan Tebang Pilih Penanganan Kasus Blueray Cargo
Mulai dari monolog berjudul Copong yang dibawakan oleh Aditya Lakon, monolog Ngenteung oleh Dedy Delgado, hingga pertunjukan performing art bertajuk MaAink arahan sutradara Adjie N.A.
Meski sempat mengalami kendala dan penundaan di Jakarta akibat situasi di sekitar Bundaran HI yang mendadak tidak kondusif, pihak penyelenggara tetap bersemangat melanjutkan rangkaian tur ke kota-kota berikutnya.
"Jadi... ya agak kecewa banget sih sebenarnya ya, jujur gitu ya. Karena kita sudah kerja keras banget gitu buat tanggal 28 itu. Kemudian di saat mendekati di jam 4-an, tiba-tiba memang kondisi di Bundaran HI sudah sangat genting," ungkap Mima Yusuf di kawasan Cilandak, Jakarta, Minggu (1/11/2026).
Sementara itu, sang sutradara, Adjie N.A. mengungkapkan bahwa pemilihan bahasa Sunda dalam pergelaran ini dilandasi oleh kesadaran untuk merawat akar budaya di tengah gempuran modernitas.
Baca Juga: Pelapor Arteria Dapat Surat Panggilan Polisi, Bukti Kasus Bahasa Sunda Masih Bergulir?
Ia menilai, identitas kultural harus tetap dijaga tanpa harus kehilangan keindonesiaan seseorang.
"Kenapa? Karena menurut saya, bahasa Sunda itu adalah salah satu kekayaan Indonesia. Menjadi Indonesia itu bukan berarti kita kehilangan akar bahasa, gitu, tapi justru harus dipertahankan," tutur Adjie.
Pemilihan kota di luar wilayah Jawa Barat seperti Solo dan Jogja juga dilakukan dengan misi khusus, yakni membuktikan bahwa karya seni tradisional yang dikemas secara kontemporer dapat dinikmati oleh siapa saja lintas budaya.
"Kita ingin berbagi karena biasanya pertunjukan-pertunjukan di panggung itu selalu yang klasik, ya kan? Tradisi gitu, berbahasa Jawa, berbahasa Sunda atau apa. Nah, justru di sini kita mau berbagi bahwa, 'eh, bisa loh dengan format kontemporer, bisa loh dengan format yang begini,'" jelasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ancaman Denny Indrayana ke Presiden Prabowo Bentuk Penghinaan pada Mandat Rakyat
- 2Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 3Memutus Mata Rantai Kejahatan Keuangan Digital: Upaya OJK Melindungi Masyarakat dari Jerat Judi Online
- 4Ina Liem Kini Setuju Gibran Mundur dari Wapres, Alasannya Bikin Heboh
- 5Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 6Tak Tergilas Disrupsi, Tak Terjebak Perang Harga: Rahasia Bluebird Menjaga Takhta di Industri Transportasi Dalam Negeri
- 7Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 8Moto3 GP Malaysia: Hiroshi Aoyama Puji Kecerdikan Veda Ega Pratama Taklukkan Suhu Lintasan Sepang
- 9Harga Cabai Berangsur Turun Awal November
- 10Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia








