Pendapatan Blue Bird Naik 10,9 Persen, Bisnis Taksi dan Non-Taksi Kompak Tumbuh

AKURAT.CO Pendapatan Blue Bird meningkat 10,9% menjadi Rp4,57 triliun hingga kuartal III 2026. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh dua lini bisnis utama perseroan, yakni taksi dan non-taksi, yang sama-sama mencatatkan kenaikan pendapatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan PT Blue Bird Tbk (BIRD) tidak hanya bergantung pada layanan taksi konvensional. Bisnis non-taksi yang mencakup layanan shuttle, penyewaan kendaraan, bus, hingga berbagai solusi mobilitas lainnya juga ikut memberikan kontribusi terhadap pendapatan perusahaan.
Berdasarkan kinerja hingga September 2026, bisnis taksi tumbuh sekitar 11,1% secara tahunan atau year-on-year (YoY). Sementara itu, lini non-taksi mencatatkan pertumbuhan sekitar 10,1% YoY.
Direktur Utama PT Blue Bird Tbk Andre Djokosoetono mengatakan, perusahaan berupaya menjaga pertumbuhan bisnis dengan memperhatikan produktivitas operasional dan kualitas layanan.
“Bagi kami, pertumbuhan bisnis harus berjalan seiring dengan kemampuan mengelola operasional secara produktif dan menjaga kualitas layanan. Karena itu, kami terus mengoptimalkan pemanfaatan armada, menyesuaikan ketersediaannya dengan kebutuhan pelanggan, serta mengembangkan pilihan layanan yang relevan. Dengan pendekatan ini, kami ingin memastikan pertumbuhan yang dicapai dapat menjadi fondasi bisnis yang sehat dan berkelanjutan,” ujar Andre melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, Senin, 2 November 2026.
Pendapatan Blue Bird Tumbuh 10,9% hingga September 2026
Berdasarkan laporan kinerja hingga September 2026, Blue Bird membukukan pendapatan neto sebesar Rp4,57 triliun. Angka tersebut meningkat 10,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai sekitar Rp4,12 triliun.
Pertumbuhan pendapatan tersebut turut tercermin pada kinerja EBITDA. Pada kuartal III 2026, EBITDA perseroan meningkat sekitar 16% secara tahunan menjadi Rp377,5 miliar.
Secara kumulatif, EBITDA Blue Bird hingga September 2026 mencapai Rp1,09 triliun atau tumbuh 9,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, laba tahun berjalan perseroan tercatat sekitar Rp474 miliar.
Meski pendapatan dan EBITDA meningkat, pertumbuhan tersebut perlu dibaca bersama perkembangan laba bersih. Laporan keuangan konsolidasian mencatat laba tahun berjalan Rp474,03 miliar, lebih rendah dibandingkan Rp488,01 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Artinya, kenaikan pendapatan belum sepenuhnya diikuti peningkatan laba bersih.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis transportasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan perusahaan mendapatkan lebih banyak pelanggan atau memperluas layanan. Pengelolaan biaya operasional, pemanfaatan armada, dan efisiensi juga menjadi faktor penting dalam menjaga profitabilitas.
Baca Juga: Mobil Bekas Bluebird Kini Jadi Bagian Strategi Bisnis, Bukan Sekadar Menjual Armada Lama
Baca Juga: Di Tengah Gempuran Transportasi Online, 69 Persen Pendapatan Bluebird Masih Berasal dari Taksi
Bisnis Taksi dan Non-Taksi Blue Bird Sama-Sama Tumbuh
Salah satu hal yang menarik dari kinerja Blue Bird hingga kuartal III 2026 adalah pertumbuhan yang relatif merata pada dua lini bisnis utamanya.
Bisnis taksi masih menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 70% dari total pendapatan. Hingga September 2026, lini ini tumbuh sekitar 11,1% YoY.
Di sisi lain, bisnis non-taksi menyumbang sekitar 30% pendapatan perusahaan dan mencatatkan pertumbuhan sekitar 10,1% YoY. Walaupun kontribusinya lebih kecil dibandingkan taksi, lini non-taksi memperlihatkan peran penting dalam memperluas sumber pendapatan perusahaan.
Pertumbuhan kedua lini tersebut menunjukkan bahwa strategi pengembangan bisnis Blue Bird tidak hanya bertumpu pada satu jenis layanan. Perusahaan tetap mengandalkan bisnis taksi sebagai fondasi, tetapi pada saat bersamaan mengembangkan layanan yang menjawab kebutuhan mobilitas dengan karakteristik berbeda.
Perbedaan kebutuhan pelanggan menjadi salah satu alasan mengapa diversifikasi layanan relevan bagi perusahaan transportasi. Perjalanan individu di dalam kota, perjalanan antarkota, penyewaan kendaraan untuk perusahaan, hingga kebutuhan transportasi rombongan memiliki pola permintaan yang tidak selalu sama.
Dalam konteks tersebut, keberadaan bisnis taksi dan non-taksi memungkinkan Blue Bird menjangkau lebih banyak kebutuhan perjalanan. Perusahaan juga memiliki peluang untuk mengoptimalkan penggunaan armada melalui layanan yang memiliki karakteristik permintaan berbeda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ancaman Denny Indrayana ke Presiden Prabowo Bentuk Penghinaan pada Mandat Rakyat
- 2Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 3Memutus Mata Rantai Kejahatan Keuangan Digital: Upaya OJK Melindungi Masyarakat dari Jerat Judi Online
- 4Tak Tergilas Disrupsi, Tak Terjebak Perang Harga: Rahasia Bluebird Menjaga Takhta di Industri Transportasi Dalam Negeri
- 5Ina Liem Kini Setuju Gibran Mundur dari Wapres, Alasannya Bikin Heboh
- 6Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 7Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 8Moto3 GP Malaysia: Hiroshi Aoyama Puji Kecerdikan Veda Ega Pratama Taklukkan Suhu Lintasan Sepang
- 9Harga Cabai Berangsur Turun Awal November
- 10Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia






