Wacana Bentuk Zaken Kabinet, Prabowo Bisa Tempatkan Tokoh Parpol Secara Bijak

AKURAT.CO Wacana pembentukan zaken kabinet atau kabinet yang didominasi oleh figur-figur ahli dan profesional di pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, mendapat respons positif dari berbagai pihak.
Pengamat politik dari Universitas Bung Karno (UBK), Novance Silitonga, menilai memang sudah sepatutnya pos kementerian diisi oleh seseorang yang punya kepakaran di bidang tertentu.
Namun, dia tak memungkiri bahwa Prabowo juga perlu memperhatikan orang-orang yang berjasa dalam proses kemenangannya. Sehingga, tidak ada salahnya jika Prabowo memberi porsi untuk tokoh-tokoh yang berasal dari sejumlah partai politik pengusung.
"Idealnya pemerintahan dijalankan oleh mereka yang pakar dan mumpuni dibidangnya. Tapi ada etika politik yang harus diperhatikan presiden terpilih. Mereka yang punya andil dalam pemenangan presiden layak diperhatikan karir politiknya," kata Novance kepada wartawan di Jakarta, Selasa (17/9/2024).
Baca Juga: Prabowo Siapkan Zaken Kabinet, Ingin Lebih Baik dari Presiden-presiden Sebelumnya
Asalkan, pemberian kursi menteri bagi tokoh parpol bisa dilakukan secara bijak. Di mana, Prabowo perlu memperhatikan kemampuan dari masing-masing tokoh tersebut agar bisa ditempatkan dalam pos kementerian yang sesuai.
Sementara itu, ada beberapa pos inti dalam kementerian yang harus diisi oleh orang-orang profesional. Yaitu pos kementerian yang berkaitan dengan sektor keuangan, hukum, kesehatan dan pendidikan.
"Menurut saya wajar. Namun penempatannya harus bijak. Di parpol ada yang figur pakar diberbagai bidang pemerintahan, tapi sedikit. Mereka yang dikualifikasikan sebagai pakar harus menempati pos-pos inti. Keuangan, hukum, kesehatan dan pendidikan bisa dikatakan pos inti," ujarnya.
Dia juga mengingatkan, bahwa variabel kepakaran seseorang bukan hanya dilihat dari latar belakang pendidikan dan tingkat pendidikan yang ditempuh (doktor atau profesor), tetapi juga harus memperhatikan pengalaman dan kapabilitas berkomunikasi antar sektor pemerintahan.
"Seorang pakar namun lemah dalam berkomunikasi ya menjadi beban pemerintah juga. Mereka yang dianggap kurang pakar karena latar pendidikan dan tingginya tingkat pendidikan, namun punya kemampuan mensinergikan tugas-tugas kementeriannya dengan kementerian lain yang terkait dengannya, juga patut dipertimbangkan untuk isi pos menteri," pungkas Novance yang juga pendiri Populus Indonesia, sarana belajar bagi mahasiswa politik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








