Mengapa Daun Menguning Saat Kemarau? Ini Penjelasan Ilmiahnya

AKURAT.CO Saat musim kemarau, perubahan warna daun menjadi kuning, kecokelatan, hingga mengering adalah pemandangan yang umum.
Namun, fenomena ini bukan sekadar tanda kekurangan air, melainkan bagian dari proses biologis kompleks dalam tubuh tumbuhan.
Daun Kehilangan Klorofil
Warna hijau pada daun berasal dari klorofil, pigmen yang berperan penting dalam proses fotosintesis. Ketika musim kemarau tiba, pasokan air dari akar berkurang drastis.
Kondisi ini membuat tumbuhan memperlambat, bahkan menghentikan produksi klorofil. Seiring waktu, klorofil yang ada akan rusak dan tidak tergantikan, sehingga warna hijau daun mulai memudar.
Pigmen Lain Mulai Terlihat
Ketika klorofil berkurang, pigmen lain dalam daun menjadi lebih dominan, antara lain:
Karotenoid, yang menghasilkan warna kuning hingga oranye dan tetap stabil meski klorofil rusak.
Xantofil, yang memberi warna kuning pucat serta membantu melindungi daun dari stres cahaya.
Tanin, yang muncul sebagai warna cokelat pada daun kering akibat pemecahan jaringan saat kekeringan ekstrem.
Inilah sebabnya daun tidak hanya terlihat kering, tetapi berubah warna menjadi kuning, oranye, atau cokelat.
Strategi Hemat Energi dan Air
Perubahan warna daun juga merupakan bagian dari strategi bertahan hidup tanaman. Saat air terbatas, proses fotosintesis melambat sehingga kebutuhan energi ditekan.
Baca Juga: Diplomasi Prabowo ke Rusia dan Prancis Tegaskan Politik Bebas Aktif Indonesia
Tanaman kemudian mulai menarik kembali nutrisi penting dari daun, seperti nitrogen, fosfor, dan kalium, untuk disimpan di bagian lain yang lebih vital.
Proses Gugur Daun (Meranggas)
Setelah nutrisi ditarik kembali, tanaman membentuk lapisan pemisah di pangkal daun. Proses ini membuat daun akhirnya gugur.
Langkah ini memberikan beberapa keuntungan bagi tanaman:
Mengurangi penguapan air secara drastis
Melindungi diri dari stres akibat kekeringan
Menyimpan cadangan nutrisi untuk bertahan hingga musim hujan
Bukan Sekadar “Mati”
Perubahan warna daun saat kemarau bukanlah tanda kematian, melainkan mekanisme adaptasi yang cerdas.
Dengan mengurangi klorofil, mendaur ulang nutrisi, dan menggugurkan daun, tanaman tetap dapat bertahan dalam kondisi minim air.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tumbuhan memiliki cara alami untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, sekaligus memastikan kelangsungan hidupnya hingga musim hujan kembali datang.
Laporan: Vidhia Ramadhanti/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T








