Akurat Logo

Kapan Asap Karhutla Berakhir? DPR Minta Pemerintah Siapkan Tempat Berlindung

Putri Dinda Permata Sari | 16 Oktober 2026, 12:00 WIB
Kapan Asap Karhutla Berakhir? DPR Minta Pemerintah Siapkan Tempat Berlindung
Ilustrasi penderita ISPA. - Magnific

AKURAT.CO Pemerintah pusat dan daerah didesak menyediakan Clean Air Shelter atau ruang perlindungan udara bersih di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Usulan ini muncul menyusul tingginya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan asap kebakaran.

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, mengungkapkan, sebanyak 283 ribu kasus ISPA dilaporkan terjadi di tujuh provinsi terdampak karhutla.

Dari jumlah tersebut, lebih dari 63 ribu kasus dialami anak berusia di bawah lima tahun atau balita.

"Sebanyak 283 ribu kasus ISPA dilaporkan terjadi di tujuh provinsi terdampak karhutla, dan lebih dari 63 ribu kasus terjadi pada balita. Sementara di Palangka Raya, Indeks Standar Pencemar Udara bahkan dilaporkan sempat menembus angka 4.000. Padahal, angka 300 saja sudah masuk kategori berbahaya! Ini bukan lagi sekadar bencana karhutla. Ini sudah menjadi krisis kesehatan masyarakat!" kata Charles dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).

Menurut Charles, paparan asap karhutla mengancam kesehatan masyarakat, termasuk mereka yang berada di dalam rumah.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu menyediakan tempat perlindungan dengan kualitas udara yang lebih aman, terutama bagi kelompok rentan.

"Inilah mengapa pemerintah harus segera menyediakan Clean Air Shelters atau ruang perlindungan udara bersih. Kita tidak harus membangun gedung baru. Sekolah, kantor pemerintah, dan fasilitas publik bisa dimanfaatkan sebagai tempat berlindung, dilengkapi penyaring udara HEPA untuk mengurangi paparan asap," tuturnya.

Charles mengusulkan agar fasilitas tersebut disiapkan di lokasi pengungsian maupun bangunan publik yang dapat difungsikan sebagai tempat perlindungan sementara.

Prioritas diberikan kepada keluarga dengan balita, ibu hamil, lanjut usia (lansia), serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.

"Fasilitas ini bisa difungsikan sebagai tempat pengungsian sementara terutama keluarga dengan balita, ibu hamil, lansia, dan masyarakat dengan penyakit pernapasan," tegas Charles.

Legislator PDI Perjuangan itu menegaskan, perlindungan masyarakat dari paparan asap tidak boleh hanya bergantung pada keberhasilan pemadaman api.

Pemerintah, menurutnya, perlu mengambil langkah pencegahan untuk mengurangi risiko kesehatan selama karhutla masih berlangsung.

"Kita tidak bisa hanya mengobati masyarakat yang sakit, sementara mereka masih terus terpapar asap berbahaya. Saya mendesak pemerintah pusat dan daerah segera memperbanyak Clean Air Shelters, terutama bagi anak-anak, ibu hamil, lansia, dan kelompok rentan lainnya," tegas Charles.

Baca Juga: THE HOUSE OF JULAINE Hadirkan Pendekatan Kecantikan Alami dalam Perayaan 10 Tahun BMDERMA Clinic

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.