Tahun-tahun Awal Masa Kanak-kanak Waktu Penting Mengenal Ruang Hijau

AKURAT.CO Studi baru, yang didanai oleh National Institutes of Health (NIH), diterbitkan pada 10 April di jurnal JAMA Network Open.
“Penelitian kami mendukung bukti yang ada bahwa berada di alam terbuka, baik untuk anak-anak,” kata peneliti Nissa Towe-Goodman, dari Frank Porter Graham Child Development Institute di University of North Carolina. “Hal ini juga menunjukkan bahwa tahun-tahun awal masa kanak-kanak adalah waktu yang penting untuk mengenal ruang hijau.”
Baca Juga: Ibu Kota Negara Pindah, Ruang Terbuka Hijau di Jakarta Bisa Bertambah
Untuk penelitian ini, para peneliti memeriksa data lebih dari 2.100 anak di 199 wilayah di 41 negara bagian AS.
Tim tersebut membandingkan gejala depresi dan kecemasan anak-anak yang berusia antara 2 hingga 11 tahun dengan data satelit tentang ruang hijau yang terletak di dekat rumah mereka.
Lebih banyak ruang hijau secara signifikan dikaitkan dengan berkurangnya kecemasan dan depresi di kalangan anak-anak muda, bahkan setelah memerhitungkan faktor-faktor lain, kata para peneliti.
Balita yang tumbuh dekat dengan alam cenderung tidak memiliki masalah emosional, meskipun ruang hijau hanya berupa taman atau halaman belakang yang luas, seperti yang dilaporkan oleh sebuah penelitian baru-baru ini.
Semakin banyak ruang hijau dalam jarak tiga perempat mil dari rumah seorang anak, semakin sedikit gejala kecemasan dan depresi yang akan mereka alami antara usia 2 dan 5 tahun, demikian temuan para peneliti.
Faktor-faktor lain tersebut mencakup jenis kelamin anak, pendidikan orang tua, dan kualitas sosial dan ekonomi lingkungan tempat tinggal mereka.
Namun, para peneliti tidak menemukan hubungan signifikan antara ruang hijau dan gejala kesehatan mental pada usia 6 hingga 11 tahun, setelah anak-anak mulai bersekolah.
Baca Juga: American Dream, Taman Bermain Sekaligus Mega Mal Terbesar di New Jersey
“Di masa depan, para peneliti dapat melihat pengalaman seperti apa di alam yang berhubungan dengan kesehatan mental awal anak-anak,” kata Towe-Goodman dalam rilis berita NIH.
“Selain itu, kita harus memelajari bagaimana menciptakan atau melestarikan kawasan alami di sekitar rumah dan sekolah dapat memberikan perbedaan pada kesehatan mental anak.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai







