Akurat Logo

Jakarta Ingin Masuk Top 20 Kota Global, Target PDRB Per Kapita Tembus Rp2,4 Miliar

Idham Nur Indrajaya | 4 November 2026, 18:05 WIB
Jakarta Ingin Masuk Top 20 Kota Global, Target PDRB Per Kapita Tembus Rp2,4 Miliar
Jakarta bidik Top 20 kota global pada 2045 dengan target PDRB per kapita Rp2,4 miliar. Simak strategi dan tantangannya. - dok. Kearney

AKURAT.CO Kemacetan, polusi udara, mahalnya biaya hidup, hingga kesenjangan ekonomi masih menjadi persoalan yang melekat pada kehidupan masyarakat Jakarta. Namun, di tengah berbagai tantangan tersebut, ibu kota justru memasang ambisi besar untuk menembus jajaran 20 besar kota global pada 2045 dengan target Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita mencapai Rp2–2,4 miliar.

Target Jakarta menjadi kota global bukan sekadar mengejar peringkat internasional. Pemerintah juga perlu memastikan pertumbuhan ekonomi berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas hidup, penguatan infrastruktur, konektivitas transportasi, dan pemerataan kesempatan ekonomi bagi masyarakat.

Fondasi ekonomi Jakarta sebenarnya cukup kuat. Pada triwulan II 2026, PDRB Jakarta mencapai Rp1.058,02 triliun. Sementara itu, realisasi investasi pada semester I 2026 tercatat sebesar Rp173,6 triliun atau berkontribusi 17,2% terhadap total investasi nasional.

Ambisi tersebut kembali menjadi pembahasan dalam perhelatan Kearney 100 Years of Impact di The Ritz-Carlton, Pacific Place, Jakarta. Acara yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan tersebut mengangkat tema Shaping the Next Global City Together.

Jakarta Bidik Top 20 Kota Global pada 2045, Seberapa Besar Targetnya?

Jakarta menargetkan masuk jajaran Top 20 Global City Ranking pada 2045. Untuk mendukung ambisi tersebut, pemerintah menargetkan PDRB per kapita Jakarta meningkat menjadi Rp2–2,4 miliar.

Target ini mencerminkan besarnya transformasi ekonomi yang ingin dicapai Jakarta dalam dua dekade mendatang. Kota ini tidak hanya dituntut mempertahankan posisinya sebagai pusat aktivitas ekonomi nasional, tetapi juga memperkuat daya saing dalam persaingan antarkota di tingkat internasional.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan optimisme terhadap kondisi ekonomi ibu kota. Menurutnya, sejumlah indikator menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Jakarta masih memiliki momentum pertumbuhan yang positif.

"Jakarta mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,52%, sementara Indeks Keyakinan Konsumen berada di angka 150, mencerminkan optimisme masyarakat," kata Pramono melalui catatan tertulis Kearney yang diterima AKURAT.CO, dikutip Rabu, 4 November 2026.

Pertumbuhan ekonomi dan optimisme konsumen menjadi dua indikator penting untuk melihat kondisi perekonomian daerah. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan peningkatan aktivitas produksi barang dan jasa, sedangkan Indeks Keyakinan Konsumen memberikan gambaran mengenai persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan prospeknya.

Meski demikian, ambisi menjadi kota global tidak bisa hanya diukur melalui besarnya aktivitas ekonomi. Jakarta juga perlu memastikan bahwa pertumbuhan tersebut mampu meningkatkan produktivitas, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan memperluas akses masyarakat terhadap berbagai fasilitas perkotaan.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Tempat Wisata di Jakarta untuk Libur Natal dan Tahun Baru 2026

Baca Juga: Vietjet Buka Rute Langsung Jakarta–Da Nang Mulai 20 Desember

Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,52%, Investasi Capai Rp173,6 Triliun

Salah satu modal utama Jakarta untuk mengejar status kota global adalah kapasitas ekonominya. Dengan PDRB mencapai Rp1.058,02 triliun pada triwulan II 2026, Jakarta memiliki basis aktivitas ekonomi yang besar untuk menopang pembangunan jangka panjang.

Kekuatan tersebut juga terlihat dari realisasi investasi. Sepanjang semester I 2026, investasi Jakarta mencapai Rp173,6 triliun atau menyumbang 17,2% dari keseluruhan investasi nasional.

Besarnya kontribusi tersebut memperlihatkan posisi strategis Jakarta sebagai salah satu pusat penanaman modal di Indonesia. Aktivitas investasi yang berkembang dapat mendukung ekspansi bisnis, pembangunan infrastruktur, penciptaan lapangan kerja, hingga penguatan sektor jasa dan perdagangan.

Namun, besarnya realisasi investasi tidak otomatis menunjukkan bahwa seluruh sektor ekonomi telah berkembang secara merata. Dampak investasi terhadap masyarakat juga bergantung pada jenis usaha yang menerima modal, penyerapan tenaga kerja, tingkat upah, serta keterkaitan bisnis tersebut dengan pelaku ekonomi lokal.

Sebagai ilustrasi, investasi pada sektor teknologi dan jasa keuangan dapat mendorong permintaan tenaga kerja dengan keterampilan khusus. Di sisi lain, perkembangan sektor tersebut juga membutuhkan dukungan pendidikan dan pelatihan agar tenaga kerja lokal tidak tertinggal dari kebutuhan industri.

Dengan demikian, tantangan Jakarta bukan hanya mendatangkan modal dalam jumlah besar, melainkan memastikan investasi menghasilkan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan.

Hal tersebut menjadi penting karena target PDRB per kapita Rp2–2,4 miliar pada 2045 membutuhkan peningkatan produktivitas ekonomi dalam jangka panjang. Jakarta harus mampu memperkuat sektor-sektor bernilai tambah tinggi sekaligus menjaga agar masyarakat dapat berpartisipasi dalam pertumbuhan tersebut.

Infrastruktur dan Transportasi Publik Jadi Modal Jakarta Menuju Kota Global

Selain investasi, pembangunan infrastruktur menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing Jakarta. Kota dengan aktivitas ekonomi yang padat membutuhkan sistem transportasi dan konektivitas yang mampu mendukung mobilitas masyarakat maupun distribusi barang dan jasa.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat cakupan transportasi publik telah menjangkau 92,5% wilayah pada 2026. Pemerintah juga merencanakan ekspansi jaringan Mass Rapid Transit (MRT) dan Light Rail Transit (LRT) untuk memperkuat konektivitas perkotaan.

Capaian tersebut menjadi modal penting karena akses transportasi berpengaruh langsung terhadap produktivitas masyarakat. Semakin mudah seseorang menjangkau tempat kerja, pusat pendidikan, fasilitas kesehatan, dan kawasan bisnis, semakin besar pula peluang untuk meningkatkan aktivitas ekonomi.

Persoalan konektivitas juga tidak berhenti pada batas administratif Jakarta. Banyak pekerja yang setiap hari melakukan perjalanan dari wilayah penyangga seperti Bekasi, Depok, Tangerang, dan Bogor untuk beraktivitas di ibu kota.

Karena itu, penguatan jaringan transportasi dari selatan ke utara, barat ke timur, hingga kawasan kota penyangga menjadi salah satu prioritas pembangunan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai penguatan konektivitas tersebut menjadi bagian penting dari arah pembangunan Jakarta.

"Pembangunan Jakarta berada di jalur yang tepat, terutama melalui penguatan konektivitas dari selatan ke utara, barat ke timur, hingga kawasan kota-kota penyangga," ujar Airlangga.

Dari perspektif ekonomi, konektivitas yang baik dapat mengurangi hambatan mobilitas tenaga kerja dan distribusi barang. Waktu perjalanan yang lebih efisien berpotensi mengurangi biaya operasional perusahaan sekaligus meningkatkan produktivitas pekerja.

Sebagai simulasi, seorang karyawan yang tinggal di Bekasi dan bekerja di kawasan Sudirman membutuhkan perjalanan pulang-pergi setiap hari. Apabila integrasi transportasi publik semakin baik, perjalanan tersebut berpotensi menjadi lebih efisien dari sisi waktu maupun biaya.

Dampaknya tidak hanya dirasakan pekerja. Pelaku usaha juga berpotensi memperoleh manfaat melalui akses tenaga kerja yang lebih luas dan distribusi barang yang lebih lancar.

Meski demikian, cakupan transportasi publik yang mencapai 92,5% tidak serta-merta menjamin seluruh masyarakat memiliki akses mobilitas yang sama. Kualitas layanan, frekuensi perjalanan, integrasi antarmoda, keterjangkauan tarif, dan akses menuju halte atau stasiun tetap menjadi faktor yang menentukan.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.