Akurat Logo

IHSG Bangkit ke 4.919 di Tengah Isu Politik dan Sentimen Global yang Memanas

Esha Tri Wahyuni | 4 November 2026, 18:08 WIB
IHSG Bangkit ke 4.919 di Tengah Isu Politik dan Sentimen Global yang Memanas
IHSG bangkit 0,32% ke 4.919,77 pada Rabu (4/11/2026)

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri perdagangan di zona hijau pada Rabu (4/11/2026). Penguatan ini terjadi setelah indeks sempat tertekan cukup dalam pada awal perdagangan, di tengah berbagai sentimen domestik dan global yang masih membayangi pasar keuangan Indonesia.

Berdasarkan data perdagangan, IHSG ditutup menguat 15,48 poin atau 0,32% ke level 4.919,77. Padahal, pada awal perdagangan, indeks sempat mengalami tekanan jual hingga menyentuh kisaran 4.826.

Pergerakan IHSG cenderung sideways sepanjang sebagian besar perdagangan. Penguatan baru terlihat setelah pukul 14.00 WIB dan semakin meningkat menjelang penutupan pasar sekitar pukul 15.00 WIB.

Baca Juga: Mirae Asset Ingatkan IHSG Masih Rapuh, Rupiah Jadi Salah Satu Penentu

Mengutip data Refinitiv, sektor keuangan atau financials menjadi penopang utama penguatan IHSG dengan kenaikan 1,15%. Disusul sektor teknologi yang menguat 0,80% dan consumer non-cyclicals sebesar 0,27%.

Sejumlah saham perbankan turut memberikan dorongan terhadap pergerakan indeks. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masuk dalam jajaran saham yang menopang penguatan IHSG.

Selain itu, penguatan juga ditopang saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk (MKNT), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).

Di sisi lain, sejumlah saham justru memberikan tekanan terhadap indeks. Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) masuk dalam jajaran saham penekan IHSG.

Isu Politik Domestik Jadi Perhatian Investor

Di tengah upaya IHSG mempertahankan penguatan, pasar keuangan Indonesia masih dihadapkan pada sejumlah ketidakpastian. Salah satu perkembangan domestik yang menjadi perhatian adalah kasus dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto.

Kasus tersebut berpotensi menjadi perhatian pelaku pasar karena berkaitan dengan aspek keamanan, kepastian hukum, dan stabilitas politik dalam negeri. Ketiga aspek tersebut merupakan bagian dari pertimbangan investor dalam menilai risiko berinvestasi di suatu negara.

Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri sebelumnya mengumumkan penetapan tiga tersangka dalam perkara dugaan penyadapan ilegal, penghapusan data elektronik, dan akses ilegal atau illegal access.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.