Akurat Logo

Kurs Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.210, Ini Pemicunya

Esha Tri Wahyuni | 4 November 2026, 07:40 WIB
Kurs Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.210, Ini Pemicunya
Ilustrasi mata uang dolar dan mata Rupiah

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (4/11/2026).

Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik AS dan Iran, hingga tekanan ekonomi domestik menjadi sejumlah faktor yang berpotensi membebani pergerakan mata uang Garuda.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp18.160 hingga Rp18.210 per USD pada perdagangan besok.

Baca Juga: Mirae Asset Ingatkan IHSG Masih Rapuh, Rupiah Jadi Salah Satu Penentu

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah masih berfluktuatif, tetapi diperkirakan ditutup melemah di rentang Rp18.160-Rp18.210 per USD," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Selasa (3/11/2026).

Pada perdagangan hari ini, rupiah ditutup melemah tipis ke level Rp18.156 per USD. Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.152 per USD.

Ibrahim menilai sentimen eksternal masih menjadi salah satu penentu arah pergerakan rupiah. Ketidakpastian hubungan Washington dan Teheran menjadi perhatian pasar, terutama setelah muncul laporan mengenai serangan militer AS terhadap Pulau Qeshm, Iran.

Mengutip laporan Wall Street Journal, Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan terbatas terhadap Pulau Qeshm. Sejumlah pejabat AS menyebut operasi tersebut sebagai tindakan defensif untuk membatasi kemampuan Iran menyerang kapal-kapal komersial di kawasan Selat Hormuz.

Baca Juga: Berawal dari Modal Ratusan Ribu Rupiah, Et si Fleur Berkembang Jadi Bisnis Buket Bunga Handmade

Situasi tersebut menambah ketidakpastian di tengah upaya diplomasi kedua negara untuk mengakhiri konflik.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga membuka kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Teheran, meskipun perkembangan di lapangan menunjukkan bahwa risiko eskalasi militer belum sepenuhnya hilang.

Selat Hormuz menjadi salah satu kawasan strategis yang diperhatikan pelaku pasar karena merupakan jalur penting perdagangan energi dunia.

Apabila ketegangan di kawasan tersebut kembali meningkat, lanjut Ibrahim, pasar berpotensi menghadapi perubahan sentimen terhadap harga minyak, aset berisiko, dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.