Akurat Logo

Ekonomi RI Diprediksi Tumbuh 5,5 Persen

Andi Syafriadi | 3 November 2026, 22:10 WIB
Ekonomi RI Diprediksi Tumbuh 5,5 Persen
Menteri Keuangan, Suahasil Nazara saat paparan laporan Komite Stabilitas sistem keuangan - AKURAT.CO/ANDOY

AKURAT.CO Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 menjadi 5,4–5,5 persen.

Meski demikian, sejumlah indikator aktivitas ekonomi domestik masih menunjukkan penguatan, mulai dari penjualan kendaraan hingga aktivitas industri manufaktur.

Proyeksi terbaru tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan KSSK pada Agustus 2026 lalu yang berada di kisaran 5,6–6,0 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).

Menteri Keuangan, Suahasil Nazara menyampaikan revisi proyeksi itu dalam konferensi pers KSSK di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Baca Juga: Gejolak Global Tekan Pasar Keuangan RI, Ini Kata KSSK

“Ekonomi Indonesia di tahun 2026 diprakirakan tumbuh di sekitar 5,4–5,5 persen year-on-year,” kata Suahasil.

Penurunan proyeksi tersebut mencerminkan adanya tekanan terhadap prospek perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global. Namun, KSSK menilai aktivitas ekonomi domestik masih memiliki daya tahan.

Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah penjualan kendaraan bermotor. KSSK mencatat penjualan mobil pada September 2026 tumbuh 28,1 persen secara tahunan. Sementara itu, penjualan sepeda motor meningkat 15,4 persen pada periode yang sama.

Indikator lain terlihat dari aktivitas industri manufaktur. Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia melanjutkan ekspansi dari kisaran 52 pada September menjadi 54 pada Oktober 2026.

Baca Juga: Yusril: Belum Ada Indikasi Makar dalam Aksi Penyadapan Presiden Prabowo

Angka PMI di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi. Kenaikan indeks tersebut mengindikasikan aktivitas industri masih berkembang dibandingkan bulan sebelumnya.

Permintaan domestik dan ekspor menopang ekonomi

KSSK memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2026 tetap kuat. Permintaan domestik dan kinerja ekspor menjadi dua faktor yang menopang aktivitas ekonomi.

Dari sisi konsumsi rumah tangga, lanjut Menkeu Suahasil, pemerintah masih mengandalkan berbagai stimulus fiskal untuk menjaga daya beli masyarakat. Sementara itu, konsumsi pemerintah didukung oleh percepatan belanja negara dan penyaluran bantuan sosial.

"Investasi juga diperkirakan tetap tumbuh seiring berjalannya proyek hilirisasi dan pembangunan infrastruktur dalam program prioritas pemerintah," jelas Menkeu Suahasil.

Pada sektor eksternal, ekspor nonmigas masih mencatatkan kinerja positif. Kondisi tersebut didukung oleh kenaikan harga dan permintaan terhadap sejumlah komoditas ekspor.

Suahasil mengatakan pemerintah terus menjaga Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar dapat berfungsi sebagai peredam guncangan ekonomi atau shock absorber.

Peran tersebut dijalankan melalui subsidi, kompensasi, perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan, hingga program penciptaan lapangan kerja.

Pemerintah perkuat koordinasi dengan BI

Dalam rangka menjaga momentum pertumbuhan, KSSK menekankan pentingnya sinergi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia (BI).

Koordinasi juga diperkuat melalui kolaborasi pemerintah dengan Danantara menggunakan pendekatan two arms of the state.

Menurut Suahasil, sinergi tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Dengan proyeksi pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya, perkembangan konsumsi, investasi, ekspor, dan aktivitas manufaktur menjadi sejumlah indikator penting untuk melihat kemampuan ekonomi domestik mempertahankan momentum pertumbuhan hingga akhir 2026.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.