Akurat Logo

Prioritas Utama Pemimpin Saat Menghadapi Krisis dan Bencana, Belajar dari Umar bin Khattab

Lufaefi | 15 Oktober 2026, 08:00 WIB
Prioritas Utama Pemimpin Saat Menghadapi Krisis dan Bencana, Belajar dari Umar bin Khattab
Karhutla. (ANTARA/Puspen Mabes TNI)

AKURAT.CO Ketika bencana datang, masyarakat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang mampu memberikan instruksi. Mereka membutuhkan sosok yang hadir, mendengar, mengambil keputusan dengan cepat, dan memastikan tidak ada rakyat yang merasa ditinggalkan.

Dalam sejarah Islam, salah satu teladan yang sering dikenang adalah Umar bin Khattab ketika menghadapi krisis kelaparan yang dikenal sebagai Tahun Ramadah. Krisis tersebut terjadi sekitar 18 Hijriah ketika wilayah Madinah dan sekitarnya mengalami kekeringan parah. Tanah mengering, tanaman gagal tumbuh, dan masyarakat menghadapi kesulitan memperoleh makanan.

Bagi Umar, krisis bukan sekadar persoalan angka dan laporan. Ia melihat penderitaan rakyat sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Dikisahkan, Umar sangat memperhatikan kondisi masyarakat selama masa paceklik. Ia mengurangi kemewahan dirinya dan memilih hidup dalam keadaan sederhana sebagaimana yang dirasakan rakyat. Bahkan, perhatian terhadap kebutuhan masyarakat membuat kebijakan distribusi pangan menjadi salah satu prioritas pemerintahannya.

Baca Juga: Yuk Cek Lagi! Ini Cara Mudah Dapat Sertifikat Halal Gratis Sebelum Batas Waktu 2026

Sikap tersebut memperlihatkan satu prinsip penting dalam kepemimpinan Islam: ketika masyarakat berada dalam keadaan darurat, keselamatan dan kebutuhan dasar rakyat harus menjadi prioritas.

Al-Qur'an mengingatkan bahwa kepemimpinan memiliki konsekuensi moral yang besar. Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil." (QS. An-Nisa: 58)

Ayat ini relevan ketika sebuah daerah menghadapi bencana. Amanah pemimpin bukan hanya memastikan birokrasi berjalan, tetapi memastikan bantuan benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.

Ada beberapa pelajaran yang dapat diambil dari keteladanan Umar.

Pertama, keselamatan manusia harus ditempatkan di atas kepentingan politik. Dalam kondisi bencana, energi pemerintah seharusnya diarahkan pada penyelamatan warga, evakuasi, kebutuhan pangan, kesehatan, tempat tinggal, dan pemulihan kehidupan masyarakat.

Kedua, pemimpin harus hadir di tengah masyarakat. Krisis tidak cukup dihadapi dari balik meja. Mendengar langsung keluhan warga memungkinkan pemimpin memahami persoalan yang terkadang tidak terlihat dalam laporan administratif.

Ketiga, distribusi bantuan harus dilakukan secara adil. Bencana sering kali memperbesar kesenjangan. Mereka yang memiliki akses dan informasi lebih baik dapat memperoleh bantuan lebih cepat, sementara kelompok rentan justru tertinggal. Karena itu, keadilan menjadi prinsip penting dalam pengelolaan bantuan.

Keempat, pemimpin harus mampu mengambil keputusan berdasarkan kemaslahatan. Dalam fikih terdapat prinsip bahwa kebijakan pemimpin terhadap rakyat harus diarahkan pada kemanfaatan mereka: تَصَرُّفُ الإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوطٌ بِالْمَصْلَحَةِ.

Artinya, "Kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyat bergantung pada kemaslahatan."

Kelima, pemimpin harus memiliki rasa tanggung jawab moral. Bencana bukan momentum untuk mencari popularitas. Justru dalam situasi seperti ini kualitas kepemimpinan terlihat. Apakah pemimpin mampu melindungi masyarakat, mengelola sumber daya secara transparan, dan memastikan kelompok paling rentan mendapatkan perhatian?

Baca Juga: Puluhan Ribu Warga Korea Selatan Disebut Memeluk Islam di Tengah Tekanan Kehidupan Modern

Keteladanan Umar bin Khattab menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam Islam tidak berhenti pada kewenangan. Kekuasaan adalah amanah, sedangkan penderitaan rakyat merupakan ujian bagi orang yang memegang amanah tersebut.

Karena itu, ketika krisis dan bencana terjadi, pertanyaan terpenting bukan hanya siapa yang paling banyak berbicara, tetapi siapa yang paling cepat melindungi, paling adil mendistribusikan bantuan, dan paling bertanggung jawab memastikan masyarakat dapat bangkit kembali.

Dalam perspektif Islam, pemimpin yang baik bukanlah pemimpin yang terlihat paling kuat ketika keadaan normal. Ia justru diuji ketika rakyat berada dalam keadaan paling lemah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi