Akurat Logo

Mengenal Pink Tax, Kenapa Produk Perempuan Lebih Mahal?

Redaksi Akurat | 15 Oktober 2026, 08:38 WIB
Mengenal Pink Tax, Kenapa Produk Perempuan Lebih Mahal?
Pink Tax

AKURAT.CO Pernah enggak sih kamu melihat dua produk dengan fungsi yang hampir sama, tetapi harganya berbeda hanya karena satu ditujukan untuk perempuan dan satunya lagi untuk pria?

Misalnya, alat cukur perempuan yang harganya lebih mahal dibandingkan alat cukur pria. Padahal, keduanya sama-sama digunakan untuk mencukur rambut atau bulu tubuh.

Perbedaan harga seperti ini sering dikaitkan dengan fenomena pink tax. Lantas, apa sebenarnya pink tax dan bagaimana dampaknya bagi perempuan?

Baca Juga: Hampir 50 Ribu Perempuan dan Anak Perempuan Jadi Korban Perang di Gaza

Dikutip dari berbagai sumber, berikut penjelasan mengenai pink tax, penyebab, hingga kerugian yang bisa ditimbulkan.

Apa Itu Pink Tax?

Pink tax merupakan istilah yang digunakan ketika produk yang dipasarkan untuk perempuan dijual lebih mahal dibandingkan produk serupa untuk pria.

Walaupun ada kata tax yang berarti pajak, pink tax sebenarnya bukan pajak resmi dari pemerintah. Istilah ini lebih menggambarkan perbedaan harga pada produk berdasarkan target gender.

Fenomena ini bisa ditemukan pada barang sehari-hari, mulai dari alat cukur, sampo, sabun, produk perawatan tubuh, hingga pakaian.

Kenapa Produk Perempuan Bisa Lebih Mahal?

Salah satu penyebabnya adalah strategi pemasaran. Produk perempuan sering dibuat dengan kemasan yang lebih menarik, warna tertentu, atau desain khusus agar terlihat berbeda dari produk pria.

Selain itu, produsen juga dapat menentukan harga berdasarkan target konsumen dan nilai yang dianggap dimiliki suatu produk.

Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua produk perempuan yang lebih mahal termasuk pink tax. Harga bisa berbeda karena bahan, ukuran, kandungan, atau kualitas produk yang memang tidak sama.

Apa Kerugian Pink Tax bagi Perempuan?

Pink tax mungkin terlihat sepele karena selisih harga satu produk terkadang tidak terlalu besar. Namun, jika terjadi pada banyak barang yang dibeli secara rutin, pengeluaran tambahan tersebut bisa semakin terasa.

Sebagai contoh, alat cukur pria dijual seharga Rp15.000, sedangkan alat cukur perempuan dengan fungsi dan kualitas setara dijual Rp20.000.

Artinya, ada selisih Rp5.000 untuk satu produk. Jika seseorang membeli dua alat cukur setiap bulan, pengeluaran tambahannya bisa mencapai Rp120.000 dalam setahun.

Kerugian lainnya adalah konsumen bisa merasa harus membeli produk khusus perempuan, padahal ada pilihan lain yang memiliki fungsi serupa dengan harga lebih terjangkau.

Dalam jangka panjang, perbedaan harga seperti ini dapat menambah beban pengeluaran, terutama untuk kebutuhan yang dibeli secara rutin.

Baca Juga: Raja Maroko Tunjuk Fatima Ezzahra El Mansouri sebagai Perdana Menteri Perempuan Pertama

Bagaimana Cara Menghindari Pink Tax?

Salah satu cara paling mudah adalah membandingkan harga sebelum membeli produk.

Jangan hanya terpaku pada warna kemasan atau tulisan khusus perempuan. Coba perhatikan ukuran, kandungan, kualitas, dan fungsi barang yang ingin dibeli.

Jika produk yang dipasarkan untuk pria ternyata memiliki manfaat yang sama dan sesuai kebutuhan, tidak ada salahnya memilih produk tersebut.

Dengan begitu, konsumen bisa lebih hemat tanpa harus mengorbankan kualitas barang yang digunakan.

Pink tax menjadi pengingat bahwa produk dengan fungsi serupa belum tentu dijual dengan harga yang sama.

Meski selisih harganya terlihat kecil, pengeluaran tambahan yang terus berulang bisa merugikan konsumen dalam jangka panjang.

Karena itu, penting untuk lebih teliti saat berbelanja. Jangan sampai hanya karena kemasan atau label gender yang berbeda, kita harus membayar lebih mahal untuk manfaat yang sebenarnya sama.

Primandha Rachma Auzia (Magang)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
R