Penanganan Pertama pada Patah Tulang Dalam dan Luar, Jangan Dipijat!

AKURAT.CO Patah tulang merupakan cedera yang dapat terjadi akibat kecelakaan lalu lintas, terjatuh, benturan keras, atau aktivitas olahraga. Kondisi ini membutuhkan penanganan yang tepat agar tidak menimbulkan kerusakan lebih lanjut pada tulang, jaringan, pembuluh darah, maupun saraf di sekitarnya.
Penanganan pertama pada patah tulang perlu disesuaikan dengan kondisi korban. Secara umum, patah tulang dibedakan menjadi patah tulang tertutup dan patah tulang terbuka. Patah tulang tertutup tidak disertai luka terbuka yang berhubungan dengan patahan, sedangkan patah tulang terbuka terjadi ketika cedera tulang disertai kerusakan kulit.
Meski terlihat berbeda, kedua kondisi tersebut sama-sama membutuhkan pemeriksaan medis. Pertolongan pertama bertujuan membatasi pergerakan bagian yang cedera, mengurangi risiko komplikasi, serta menjaga keselamatan korban sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Mengenal Patah Tulang Tertutup dan Patah Tulang Terbuka
Patah tulang atau fraktur merupakan kondisi ketika struktur tulang mengalami retakan atau terputus, baik sebagian maupun seluruhnya. Tingkat keparahannya bervariasi, mulai dari retakan kecil hingga patahan yang menyebabkan perubahan bentuk anggota tubuh.
1. Patah Tulang Tertutup
Patah tulang tertutup atau closed fracture adalah kondisi ketika tulang mengalami retak atau patah, tetapi kulit di atas area cedera tetap utuh dan tidak terdapat luka terbuka yang berhubungan dengan patahan.
Gejala yang dapat muncul meliputi nyeri hebat, pembengkakan, memar, serta kesulitan menggerakkan bagian tubuh yang mengalami cedera. Pada beberapa kasus, bentuk anggota tubuh juga dapat terlihat tidak normal.
Kulit yang masih utuh bukan berarti cedera tersebut ringan. Patah tulang tertutup tetap berpotensi merusak pembuluh darah, saraf, dan jaringan lunak di sekitarnya.
2. Patah Tulang Terbuka
Patah tulang terbuka atau open fracture adalah kondisi ketika patahan tulang disertai luka pada kulit yang berhubungan dengan lokasi patahan. Tulang bisa terlihat menonjol keluar, tetapi tidak semua patah tulang terbuka memperlihatkan tulang dari luar.
Jenis cedera ini memerlukan perhatian khusus karena luka dapat menjadi jalan masuk bakteri ke jaringan dan tulang. Selain itu, perdarahan dapat terjadi apabila cedera turut merusak pembuluh darah.
Karena berisiko menimbulkan infeksi dan komplikasi serius, patah tulang terbuka perlu mendapatkan pertolongan medis segera.
Penanganan Pertama pada Patah Tulang Tertutup
Jika menemukan seseorang yang diduga mengalami patah tulang tertutup, penolong perlu menjaga agar bagian tubuh yang cedera tidak banyak bergerak. Berikut beberapa langkah pertolongan pertama yang dapat dilakukan.
1. Hentikan Aktivitas dan Tenangkan Korban
Langkah pertama adalah menghentikan aktivitas korban dan memintanya tetap tenang. Jangan meminta korban berdiri, berjalan, atau menggunakan anggota tubuh yang mengalami cedera.
Amati kondisi korban secara keseluruhan, termasuk kesadaran, pernapasan, dan kemungkinan perdarahan. Apabila terdapat tanda cedera berat, segera hubungi layanan kegawatdaruratan.
2. Topang Bagian Tubuh yang Cedera
Topang bagian yang diduga patah menggunakan tangan, bantal, selimut, atau pakaian yang dilipat. Tujuannya untuk membatasi pergerakan dan membantu mengurangi rasa sakit.
Pertahankan posisi anggota tubuh sebagaimana ditemukan. Jangan menarik, memutar, atau meluruskan bagian yang tampak bengkok karena tindakan tersebut dapat memperburuk kerusakan jaringan.
3. Gunakan Bidai Jika Memungkinkan
Bidai dapat digunakan untuk membantu menstabilkan anggota tubuh yang cedera. Namun, pemasangannya harus dilakukan secara hati-hati dan tidak boleh memaksa tulang kembali ke posisi normal.
Jika tidak memiliki keterampilan memasang bidai, penolong sebaiknya cukup menopang bagian yang cedera sambil menunggu bantuan medis. Jangan memindahkan anggota tubuh secara berlebihan hanya untuk memasang alat penyangga.
4. Berikan Kompres Dingin dengan Aman
Pada patah tulang tertutup, kompres dingin yang dibungkus kain dapat membantu mengurangi pembengkakan dan rasa nyeri. Tempelkan secara hati-hati tanpa menekan bagian yang diduga patah.
Jangan menempelkan es secara langsung ke kulit. Hentikan tindakan apabila kompres menambah rasa sakit atau menyebabkan ketidaknyamanan.
5. Segera Periksakan ke Fasilitas Kesehatan
Korban perlu mendapatkan pemeriksaan medis untuk memastikan apakah cedera benar-benar merupakan patah tulang dan mengetahui tingkat keparahannya.
Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan pencitraan, seperti rontgen, jika diperlukan. Jangan menunda pemeriksaan hanya karena korban masih mampu menggerakkan anggota tubuhnya.
Penanganan Pertama pada Patah Tulang Terbuka
Patah tulang terbuka memerlukan penanganan lebih cepat karena terdapat luka yang berisiko terkontaminasi dan dapat disertai perdarahan. Prioritas utama adalah meminta bantuan medis, mengendalikan perdarahan, dan membatasi pergerakan korban.
1. Segera Hubungi Layanan Kegawatdaruratan
Apabila tulang terlihat menonjol, luka cukup besar, atau perdarahan berlangsung deras, segera hubungi layanan kegawatdaruratan. Di Indonesia, masyarakat dapat menghubungi layanan darurat medis 119 sesuai ketersediaan layanan di wilayahnya.
Sampaikan lokasi kejadian, kondisi korban, serta adanya dugaan patah tulang terbuka atau perdarahan hebat. Ikuti instruksi petugas sambil menunggu bantuan datang.
2. Tutup Luka dengan Balutan Bersih
Jika tersedia, gunakan kasa steril atau balutan bersih untuk menutupi luka secara hati-hati. Tindakan ini membantu mengurangi kontaminasi dari lingkungan.
Jangan menyentuh bagian tulang yang menonjol, memasukkan tulang kembali ke dalam luka, atau mencoba membersihkan luka dalam secara mendalam. Penanganan luka lebih lanjut harus dilakukan tenaga medis.
3. Kendalikan Perdarahan
Jika luka mengalami perdarahan, gunakan kasa atau kain bersih untuk memberikan tekanan pada area yang berdarah, selama tekanan tersebut tidak mengenai tulang yang menonjol atau memperparah cedera.
Pada perdarahan hebat, segera minta bantuan medis dan ikuti petunjuk petugas kegawatdaruratan. Jangan menunda pertolongan karena berusaha memasang balutan yang sempurna.
4. Batasi Pergerakan Bagian yang Patah
Topang bagian tubuh yang mengalami cedera dalam posisi saat ditemukan. Jangan menarik, meluruskan, atau mengembalikan tulang ke tempatnya.
Hindari pemasangan bidai apabila tindakan tersebut mengharuskan anggota tubuh digerakkan secara berlebihan. Jika korban mengalami dugaan cedera kepala, leher, punggung, atau tulang belakang, jangan memindahkannya kecuali lokasi kejadian membahayakan keselamatan atau petugas darurat menginstruksikan tindakan tertentu.
5. Pantau Kondisi Korban
Sambil menunggu bantuan, perhatikan kesadaran dan pernapasan korban. Waspadai tanda-tanda syok, seperti kulit pucat dan dingin, keringat dingin, napas cepat, atau penurunan kesadaran.
Patah tulang terbuka dapat disertai perdarahan serius, termasuk perdarahan yang tidak langsung terlihat. Oleh karena itu, korban harus segera mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.
Perawatan lanjutan dapat mencakup pembersihan luka, pemberian antibiotik, evaluasi kebutuhan pencegahan tetanus, serta tindakan operasi sesuai kondisi cedera.
Baca Juga: Bikin Pengendaranya Patah Tulang, Roller Coaster Tercepat di Dunia Ditutup
Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Menolong Korban Patah Tulang
Pertolongan pertama yang keliru dapat memperparah cedera. Karena itu, ada beberapa tindakan yang perlu dihindari ketika menemukan korban yang diduga mengalami patah tulang.
Pertama, jangan memijat bagian yang cedera. Pijatan tidak dapat menyambungkan tulang yang patah dan berpotensi memperburuk kerusakan jaringan.
Kedua, jangan menarik atau meluruskan tulang secara paksa. Tindakan ini berisiko merusak pembuluh darah, saraf, dan jaringan lunak di sekitarnya.
Ketiga, jangan mendorong tulang yang menonjol ke dalam luka. Biarkan penanganan tulang dan luka dilakukan oleh tenaga medis.
Keempat, jangan mengikat bidai terlalu kencang. Ikatan yang terlalu ketat dapat mengganggu aliran darah. Jika memasang penyangga, pastikan bagian tersebut tetap stabil tanpa memberikan tekanan berlebihan.
Kelima, jangan memindahkan korban sembarangan. Pergerakan yang tidak perlu dapat memperburuk cedera, khususnya jika terdapat kemungkinan patah tulang belakang, leher, atau panggul.
Keenam, jangan menganggap cedera bukan patah tulang hanya karena korban masih bisa bergerak. Beberapa jenis patah tulang tidak selalu menyebabkan perubahan bentuk yang jelas. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Kapan Patah Tulang Harus Segera Mendapat Pertolongan Darurat?
Patah tulang perlu mendapatkan perhatian segera, terutama apabila disertai tanda bahaya. Hubungi layanan kegawatdaruratan apabila korban mengalami perdarahan hebat, tulang terlihat menonjol, perubahan bentuk anggota tubuh yang nyata, atau nyeri yang sangat berat.
Perhatikan pula apabila jari tangan atau kaki di bagian yang cedera menjadi pucat, kebiruan, dingin, atau mati rasa. Gejala tersebut dapat menandakan gangguan aliran darah atau kerusakan saraf yang membutuhkan penanganan segera.
Cedera akibat kecelakaan berat, jatuh dari ketinggian, atau benturan keras juga perlu diwaspadai. Patah tulang paha, misalnya, dapat menyebabkan perdarahan internal yang signifikan meskipun tidak terdapat luka terbuka.
Jika korban tidak sadar atau mengalami kesulitan bernapas, kondisi tersebut harus diperlakukan sebagai keadaan darurat. Prioritaskan keselamatan korban dan segera ikuti arahan petugas medis.
Penanganan pertama pada patah tulang tertutup dan terbuka bertujuan menjaga keselamatan korban, membatasi pergerakan bagian yang cedera, serta mencegah komplikasi sebelum bantuan medis datang.
Pada patah tulang tertutup, bagian yang cedera perlu ditopang dan tidak digerakkan secara berlebihan. Sementara itu, pada patah tulang terbuka, penolong perlu memperhatikan perdarahan, menutup luka dengan balutan bersih, serta segera meminta bantuan medis.
Hal terpenting yang perlu diingat adalah jangan memijat, menarik, atau meluruskan tulang yang patah secara paksa. Penanganan yang tepat sejak awal dapat membantu mengurangi risiko cedera tambahan dan mendukung proses perawatan selanjutnya.
Informasi ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan atau saran tenaga medis profesional.
Taqiyuddin Abdurrahman Leboe (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ancaman Denny Indrayana ke Presiden Prabowo Bentuk Penghinaan pada Mandat Rakyat
- 2Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 3Memutus Mata Rantai Kejahatan Keuangan Digital: Upaya OJK Melindungi Masyarakat dari Jerat Judi Online
- 4Tak Tergilas Disrupsi, Tak Terjebak Perang Harga: Rahasia Bluebird Menjaga Takhta di Industri Transportasi Dalam Negeri
- 5Ina Liem Kini Setuju Gibran Mundur dari Wapres, Alasannya Bikin Heboh
- 6Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 7Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 8Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 9Pemerintah Pastikan Fundamental Ekonomi Tetap Kuat
- 10Harga Cabai Berangsur Turun Awal November






