Akurat Logo

F1 Kembali ke Afrika Mulai 2030, Presiden Rwanda Sebut Sejarah Kelam Telah Berakhir

Dian Eko Prasetio | 14 Oktober 2026, 18:48 WIB
F1 Kembali ke Afrika Mulai 2030, Presiden Rwanda Sebut Sejarah Kelam Telah Berakhir
Presiden Rwanda, Paul Kagame, saat berpidato pada Rapat Tahunan Federasi Otomobil Internasional (FIA) di Kigali, Rwanda, Selasa (13/10/2026). X/Formula 1

AKURAT.CO, Penunjukkan Rwanda sebagai tuan rumah F1 menandai kembalinya kejuaraan jet darat paling bergengsi di dunia itu ke benua Afrika setelah absen lebih dari tiga dekade.

Formula 1 secara resmi mengumumkan kesepakatan jangka panjang dengan negara di kawasan Afrika Timur tersebut pada Selasa (13/10). Gelaran perdana F1 Grand Prix Rwanda dijadwalkan bakal bergulir pada awal 2030.

Balapan bersejarah ini rencananya dihelat di Sirkuit Bugesera, arena balap modern yang saat ini masih dalam tahap pembangunan intensif. Presiden sekaligus CEO Formula 1, Stefano Domenicali, menyebut kesepakatan ini sebagai tonggak sejarah baru dalam ekspansi global F1.

"Dengan bergabungnya Rwanda dalam kalender mulai dekade mendatang, olahraga kami dipastikan bakal hadir dan menyapa para penggemar di setiap benua berpenghuni di muka bumi," kata Domenicali dikutip AFP.

Baca Juga: F1 Kembali Digelar di Afrika Mulai 2030, Rwanda Kontrak Tuan Rumah 10 Tahun

Kebanggaan Afrika dan Strategi Diplomasi Olahraga Lewat F1

Kegembiraan serupa disuarakan oleh Presiden Rwanda, Paul Kagame. Ia menilai keberhasilan ini sebagai pencapaian kolektif seluruh masyarakat benua Afrika setelah menanti sejak gelaran F1 GP Afrika Selatan terakhir pada 1993 silam.

"Hari ini adalah milik Afrika. Selama lebih dari tiga dekade, kejuaraan balap motor dan mobil utama dunia berlangsung tanpa kehadiran benua ini. Kini, sejarah kelam itu resmi berubah melalui kesepakatan ini," sebut Kagame.

Rwanda sendiri memang gencar memanfaatkan olahraga sebagai instrumen diplomasi internasional, penarik investasi, hingga penggenjot sektor pariwisata.

Sebelumnya, Rwanda telah menjalin kemitraan sponsor bernilai tinggi dengan klub raksasa Eropa seperti Arsenal dan Paris Saint-Germain (PSG), serta kerja sama strategis bersama NBA.

Kendati demikian, keagresifan Rwanda dalam memikat ajang olahraga kelas dunia tak lepas dari sorotan dan kritik tajam. Sejumlah pihak mengaitkan langkah tersebut dengan praktik sports-washing, yakni upaya memanfaatkan ajang olahraga megah demi mengalihkan perhatian publik internasional dari tuduhan isu pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.