F1 Kembali Digelar di Afrika Mulai 2030, Rwanda Kontrak Tuan Rumah 10 Tahun

AKURAT.CO, Balapan Formula One (F1) akan kembali digelar di Benua Afrika setelah kali terakhir pada 1993. Negara di Afrika bagian timur, Rwanda, didapuk menjadi tuan rumah F1 selama sepuluh tahun dimulai dari 2030.
BBC menulis bahwa balapan F1 yang akan diberi tajuk Grand Prix Afrika atau African Grand Prix tersebut akan dilangsungkan di sirkuit anyar di Bugesera. Berjarak sekitar 40,23 kilometer ke arah selatan dari ibukota Rwanda, Kigali.
Sirkuit yang berada di bandar udara internasional baru Rwanda itu didesain oleh eks pembalap F1, Alexander Wurz. Eks pembalap asal Austria tersebut mengatakan bahwa Sirkuit Bugesera dirancang dengan memanfaatkan peningkatan tinggi area setempat.
“Sirkuit (F1 GP Afrika) didesain untuk bekerja dalam harmoni dengan panorama alam, menggunakan perubahan naiknya area untuk menciptakan pengalaman membalap yang unik dan menentang seraya menampilkan peluang pemandangan yang luar biasa kepada penggemar,” kata Alex Wurtz.
Baca Juga: F1 GP Singapura: Max Verstappen 'Pecah Telur', Sukses Manajemen Ban di Sirkuit Jalan Raya
Penyelenggaraan F1 GP Afrika mulai 2030 tersebut merupakan upaya balap jet darat paling bergengsi di dunia tersebut untuk memperluas pasar. Afrika relatif merupakan pasar yang belum tergali oleh F! jika dibandingkan dengan benua-benua lainnya.
“Kami punya kesempatan untuk menginspirasi dan gairah F1 ke 100 juga orang seantero Afrika dan olahraga bisa menjadi kekuatan positif untuk kebaikan,” kata juru bicara F1.
Afrika kali pertama menyelenggarakan balapan F1 di Maroko untuk putaran terakhir edisi 1958. Kemudian digelar di Afrika Selatan pada periode 1960-1966 di era apartheid.
Setelah periode 1960-1966 digelar di East London (sekarang KuGompo City), F1 Afrika Selatan, bergeser ke Kyalami dekat Johannesburg pada periode 1976-1985. Terakhir, balapan digelar di Kyalami hanya dua musim pada periode 1992 dan 1993.
Tuduhan Sportwashing atas F1 GP Afrika
Balapan F1 di Rwanda tak terlepas dari tuduhan digunakan sebagai alat pencucian (sportwashing) atas pelanggaran hak manusia. Negara tetangga Rwanda, Republik Demokratik Kongo, diketahui telah mengajukan gugatan ke Pengadilan Internasional (ICJ).
Gugatan diajukan karena Rwanda dianggap melanggar beberapa kesepakatan internasional seperti pencegahan genosida, diskriminasi rasil, dan hak-hak perempuan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini



