Akurat Logo

Berawal dari Modal Ratusan Ribu Rupiah, Et si Fleur Berkembang Jadi Bisnis Buket Bunga Handmade

Saeful Anwar | 3 November 2026, 16:24 WIB
Berawal dari Modal Ratusan Ribu Rupiah, Et si Fleur Berkembang Jadi Bisnis Buket Bunga Handmade
Et si Fleur, usaha buket bunga handmade berbahan kawat bulu (chenille wire).

AKURAT.CO Keterbatasan modal tidak menghalangi Nathasya Sanjaya membangun bisnis kreatif.

Berbekal sisa uang saku ratusan ribu rupiah, Nathasya mendirikan Et si Fleur, usaha buket bunga handmade berbahan kawat bulu (chenille wire) yang kini berkembang melalui penjualan online dan berbagai bazaar kampus.

Et si Fleur mulai beroperasi pada Februari 2025, tepat satu minggu sebelum Hari Valentine.

Bisnis tersebut berawal dari keinginan Nathasya memiliki penghasilan sendiri tanpa membebani orang tua sekaligus membuktikan bahwa usaha dapat dibangun tanpa modal besar.

Nathasya mengaku tidak memiliki dukungan modal usaha yang besar dari keluarga. Karena itu, ia memulai Et si Fleur dari nol dengan memanfaatkan uang saku yang tersisa.

“Menurut saya, modal terpenting untuk memulai bisnis adalah keberanian mengambil langkah pertama, kemauan untuk terus belajar, kreativitas, dan komitmen dalam menjalankannya. Kita tidak harus menunggu semuanya sempurna untuk memulai,” ujar Nathasya Sanjaya, pendiri Et si Fleur, Minggu (1/11/2026).

Sebelum membuka toko online, Nathasya mempelajari teknik pembuatan bunga secara otodidak selama satu bulan melalui berbagai platform media sosial.

Ia juga mempelajari cara merangkai dan membungkus bunga agar menghasilkan buket yang menarik.

Setelah yakin dengan kualitas produknya, Nathasya membuka toko online Et si Fleur menggunakan sistem pre-order.

Pada awal operasional, ia berhasil menerima sembilan pesanan buket. Meski jumlahnya belum banyak, pesanan tersebut menjadi langkah awal untuk mengembangkan bisnis.

Sebelum mendirikan Et si Fleur, Nathasya juga telah melakukan riset pasar selama satu tahun dengan mengamati tren dan konsep berbagai toko bunga.

Dari pengamatan tersebut, ia melihat peluang bisnis bunga kawat bulu di Indonesia, khususnya Jakarta, masih terbuka.

Ia kemudian menghadirkan konsep berbeda dari toko bunga pada umumnya. Jika banyak florist mengusung nuansa feminin dengan dominasi warna merah muda dan kesan formal, Et si Fleur memilih warna krem dengan tema doodle yang lebih santai, ceria, dan playful.

Selain identitas merek, Nathasya juga mengembangkan konsep make your own bouquet.

Melalui konsep ini, pelanggan dapat memilih sendiri jenis dan warna bunga, termasuk motif serta warna kertas pembungkus sesuai keinginan.

“Bagi saya, menjual bunga bukan hanya tentang menghasilkan produk yang cantik, tetapi juga menciptakan pengalaman menyenangkan bagi pelanggan. Melalui konsep make your own bouquet, pelanggan bisa terlibat langsung dalam memilih dan menyusun bunga sesuai keinginan mereka,” jelasnya.

Konsep tersebut pertama kali diperkenalkan melalui bazaar di BINUS. Saat itu, Nathasya hanya membawa 100 tangkai bunga. Namun, seluruh stok terjual habis dalam waktu kurang dari empat jam.

Antusiasme pengunjung bahkan berlanjut setelah stok habis. Sejumlah pelanggan berharap Et si Fleur kembali mengikuti bazaar. Respons positif tersebut turut meningkatkan pengenalan produk dan jumlah pesanan melalui toko online.

Setelah sukses di bazaar pertama, Nathasya mengikuti bazaar di Universitas Tarumanagara (UNTAR) selama lima hari. Untuk mempersiapkan kegiatan tersebut, ia memproduksi sendiri 600 tangkai bunga dalam waktu satu bulan.

Pada kesempatan itu, Et si Fleur mengusung tema musim panas (summer) dengan menghadirkan 15 jenis bunga berwarna-warni. Pilihan warnanya terinspirasi dari bunga asli dan dibuat semirip mungkin dengan warna aslinya.

Untuk memperkuat konsep, Nathasya menggunakan properti pendukung seperti pasir pantai dan kulit kerang. Ia juga menyediakan area mirror selfie serta hadiah bagi pengunjung yang datang ke stan Et si Fleur.

Hasilnya, seluruh bunga yang dibawa terjual habis dalam waktu kurang dari tiga hari, meskipun bazaar berlangsung selama lima hari.

Pada tahun pertama operasional, Et si Fleur telah mengikuti enam bazaar di kampus BINUS, UNTAR, dan Universitas Multimedia Nusantara (UMN).

Berbagai kegiatan tersebut membantu Nathasya memahami karakter pelanggan, menyusun strategi pemasaran, dan mengembangkan produk agar memiliki ciri khas.

Et si Fleur juga berupaya menghadirkan alternatif bagi orang-orang yang memiliki alergi terhadap bunga asli agar tetap dapat menikmati keindahan bunga melalui produk handmade berbahan kawat bulu.

Memasuki tahun kedua, bisnis tersebut terus berkembang. Nathasya mencatat Et si Fleur telah menghasilkan lebih dari 500 buket melalui toko online, mengikuti tujuh bazaar, dan menjual sekitar 5.000 tangkai bunga.

Perkembangan tersebut menghadirkan tantangan baru, mulai dari meningkatkan kapasitas produksi, menjaga kualitas produk, mengelola persediaan, hingga memastikan operasional setiap bazaar berjalan dengan baik.

Baca Juga: PTPP Raih Kontrak Rp400 Miliar dari Pupuk Kaltim, Garap Proyek Dermaga 11 di Bontang

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.