Akurat Logo

Pasar Fesyen Global Tembus USD1,8 Triliun, Bisakah Indonesia Ambil Peluang Emas?

Esha Tri Wahyuni | 28 Oktober 2026, 11:20 WIB
Pasar Fesyen Global Tembus USD1,8 Triliun, Bisakah Indonesia Ambil Peluang Emas?
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), Dyah Roro Esti Widya Putri - AKURAT.CO/Esha Tri Wahyuni

AKURAT.CO Ekspor pakaian jadi Indonesia mencapai USD5,90 miliar pada Januari-Agustus 2026. Nilai tersebut menyumbang sekitar 72,4% dari total ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional yang mencapai USD8,15 miliar pada periode yang sama.

Meski mencatat pertumbuhan, industri fesyen Indonesia masih perlu memperkuat daya saing untuk memperluas penetrasi ke pasar global.

Penguatan industri dari hulu ke hilir, peningkatan penggunaan bahan baku dalam negeri, serta inovasi desain menjadi sejumlah langkah yang didorong pemerintah.

Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri mengatakan, industri fesyen nasional memiliki peluang besar untuk berkembang di pasar internasional.

Meskipun begitu, potensi tersebut juga perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas produk dan kemampuan bersaing dengan produk dari negara lain.

"Sektor fesyen Indonesia memiliki potensi besar karena didukung kreativitas dan karakter produk yang kuat. Ke depan, kita perlu memperkuat daya saing agar produk fesyen lokal tidak hanya dikenal, tetapi juga mampu bersaing dan semakin diminati konsumen dunia," ujar Roro dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (28/10/2026).

Baca Juga: Tangani 60 Kasus Hambatan Dagang, Kemendag Identifikasi Rp8 Triliun Potensi Ekspor

Mengutip hasil data dari Kementerian Perdagangan, ekspor TPT Indonesia mencapai USD8,15 miliar selama Januari-Agustus 2026, dengan surplus perdagangan sebesar USD2,18 miliar. Dari jumlah tersebut, ekspor pakaian jadi tumbuh 2,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sehingga, lanjut Roro, capaian tersebut menunjukkan pakaian jadi menjadi kontributor utama ekspor TPT nasional. Meski demikian, pertumbuhan ekspor perlu diikuti penguatan rantai pasok domestik agar industri nasional dapat meningkatkan nilai tambah dan mengoptimalkan peluang perdagangan internasional.

Roro mengatakan, peningkatan penggunaan bahan baku dalam negeri perlu berjalan beriringan dengan pengembangan desain, inovasi produk, dan pemenuhan standar internasional. Kolaborasi antara industri, desainer, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga dinilai penting untuk memperkuat posisi produk fesyen Indonesia di pasar global.

Baca Juga: Dukung Ekspor UMKM, Kemendag-Astra Jalin 10 Kerja Sama Senilai Rp69 Miliar

"Ke depan, kita perlu meningkatkan penggunaan bahan baku dalam negeri, pengembangan desain dan inovasi, pemenuhan standar internasional, serta memperkuat kolaborasi lintas sektor antara industri, desainer, dan UMKM. Dengan demikian, produk fesyen Indonesia tidak hanya dikenal, tetapi juga makin diminati dan dipercaya konsumen dunia," katanya.

Kementerian Perdagangan, lanjut Roro, mendorong peningkatan daya saing produk nasional melalui pengembangan produk, promosi perdagangan, dan perluasan akses pasar. Upaya tersebut diarahkan untuk memperkuat posisi pelaku usaha fesyen Indonesia dalam rantai perdagangan global.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.