AKURAT.CO Indonesia terus memperkuat komitmennya dalam mendorong perdagangan berkelanjutan dan transisi menuju energi bersih.
Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri menyampaikan, perdagangan rendah karbon kini menjadi strategi utama dalam menjawab tantangan krisis iklim global.
“Transisi energi adalah langkah strategis untuk menghadapi perubahan iklim dan krisis energi. Ini bukan sekadar upaya lingkungan, tapi juga menjadi arah baru kebijakan perdagangan nasional,” ujar Roro dalam acara peluncuran laporan CSIS dan DfD Lab di Jakarta, Jumat (20/6/2025).
Dirinya mengungkapkan, sejumlah langkah telah ditempuh pemerintah menuju Net Zero Emissions (NZE), antara lain elektrifikasi sektor transportasi, efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan, hingga teknologi penyimpanan karbon.
Penerapan kebijakan perdagangan rendah emisi, menurut Wamendag, tidak hanya penting bagi pemenuhan komitmen Indonesia dalam Perjanjian Paris, tetapi juga untuk menjaga daya saing produk ekspor di pasar global yang kini semakin memperketat aturan lingkungan.
Berdasarkan data Forum Ekonomi Dunia, Indonesia berada di peringkat 54 dari 120 negara dalam indeks transisi energi tahun 2024. Di kawasan ASEAN, Indonesia menempati posisi ketiga setelah Vietnam dan Malaysia.
Dalam pidato inagurasinya pada Oktober 2024 lalu, Presiden RI Prabowo Subianto juga menegaskan bahwa ketahanan energi bersih merupakan prioritas nasional.
Komitmen tersebut kini mulai terefleksi dalam berbagai perjanjian dagang internasional, termasuk IC-CEPA (Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement).
“IC-CEPA jadi langkah konkret kerja sama di bidang mineral kritis, teknologi bersih, dan investasi ramah lingkungan yang menekankan standar ESG,” jelas Roro.
Dalam situasi tantangan rantai pasok global dan meningkatnya proteksionisme lingkungan, Indonesia memilih memperkuat posisi sebagai mitra dagang strategis yang menjunjung prinsip berkelanjutan.
Wamendag juga menyebut bahwa konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional, di tengah tekanan eksternal. Pada triwulan I 2025, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 4,87% secara tahunan (YoY).
Kepala Pusat Kebijakan Perdagangan Internasional Olvy Andrianita yang turut hadir dalam diskusi menegaskan bahwa perdagangan kini tidak bisa dilepaskan dari isu lingkungan.
“Tarif dan volume ekspor bukan lagi satu-satunya ukuran. Regulasi lingkungan, penurunan emisi, dan kepatuhan ESG kini menentukan,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 10Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto








