Kenapa Saat Mendung Terasa Panas? Ini Penyebabnya

AKURAT.CO Cuaca mendung biasanya identik dengan udara yang sejuk dan nyaman. Namun, pernahkah kamu merasa udara justru semakin panas dan gerah meskipun matahari tertutup awan?
Kondisi ini cukup sering terjadi, terutama di wilayah perkotaan seperti Jakarta. Langit terlihat gelap, tetapi tubuh tetap terasa lengket dan mudah berkeringat. Lantas, kenapa saat mendung terasa panas?
Dikutip dari berbagai sumber, udara gerah saat mendung bisa disebabkan oleh kelembapan udara yang tinggi, proses penguapan keringat yang kurang maksimal, hingga panas yang masih tersimpan di lingkungan sekitar.
Baca Juga: Cristiano Ronaldo: Selalu Ada Hikmah di Balik Setiap Awan Mendung
1. Kelembapan Udara Tinggi Membuat Tubuh Lebih Gerah
Salah satu penyebab utama kenapa saat mendung terasa panas adalah tingginya kelembapan udara. Kelembapan menunjukkan banyaknya uap air yang terkandung di udara.
Ketika kelembapan tinggi, keringat yang keluar dari tubuh menjadi lebih sulit menguap. Padahal, penguapan keringat merupakan cara alami tubuh untuk melepaskan panas.
Akibatnya, tubuh terasa lebih lengket dan gerah meskipun suhu udara sebenarnya tidak terlalu tinggi. Itulah sebabnya cuaca mendung terkadang terasa lebih pengap dibandingkan cuaca cerah dengan kelembapan yang lebih rendah.
2. Mendung Tidak Selalu Membuat Suhu Udara Turun
Banyak orang mengira langit mendung pasti membuat udara lebih dingin. Padahal, awan yang menutupi matahari tidak selalu langsung menurunkan suhu di sekitar kita.
Sebelum mendung, permukaan tanah, jalan beraspal, dan bangunan mungkin sudah menyerap panas matahari selama beberapa jam. Panas tersebut dapat dilepaskan kembali ke lingkungan sehingga udara tetap terasa hangat.
Kondisi ini lebih mudah dirasakan di perkotaan yang dipenuhi bangunan dan jalan beraspal. Karena itu, meskipun sinar matahari tidak terasa terik, udara masih bisa terasa panas.
3. Penguapan Keringat Menjadi Kurang Maksimal
Tubuh manusia memiliki mekanisme alami untuk mengatur suhu, salah satunya melalui keringat. Saat keringat menguap dari permukaan kulit, panas tubuh ikut dilepaskan.
Namun, ketika udara mengandung banyak uap air, proses penguapan keringat menjadi kurang efektif. Akibatnya, panas tubuh lebih sulit dilepaskan dan rasa gerah semakin terasa.
Kondisi ini bisa membuat seseorang merasa cepat lelah ketika beraktivitas di luar ruangan, terutama jika udara juga minim angin.
Perlu diketahui, rasa gerah tidak selalu berarti suhu udara benar-benar lebih tinggi. Kelembapan dan pergerakan udara juga memengaruhi seberapa panas kondisi tersebut terasa bagi tubuh.
Cara Mengatasi Udara Gerah Saat Mendung
Ada beberapa cara sederhana untuk mengurangi rasa gerah saat cuaca mendung. Pertama, gunakan pakaian yang ringan dan nyaman agar keringat lebih mudah menguap.
Kedua, pastikan sirkulasi udara di rumah berjalan dengan baik. Kipas angin bisa membantu menggerakkan udara, sedangkan pendingin ruangan dapat membantu menurunkan suhu dan, bergantung pada pengaturannya, mengurangi kelembapan.
Selain itu, jangan lupa minum air yang cukup untuk mengganti cairan tubuh yang hilang melalui keringat. Jika udara terasa sangat panas, kurangi aktivitas fisik berat dan beristirahatlah di tempat yang lebih sejuk.
Jadi, kenapa saat mendung terasa panas? Penyebabnya bukan hanya suhu udara, tetapi juga kelembapan yang tinggi, penguapan keringat yang kurang maksimal, serta panas yang masih tersimpan di lingkungan sekitar.
Karena itu, langit mendung tidak selalu berarti udara akan terasa sejuk. Dengan memahami penyebab udara gerah, kita bisa lebih mudah menyesuaikan aktivitas dan menjaga tubuh tetap nyaman.
Primandha Rachma Auzia (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 7Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 8Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 9Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon








