Lawan 'Predator" Seksual, NOC Indonesia: Jangan Diam, Setiap Suara Adalah Kekuatan

AKURAT.CO, Komite Olimpiade Indonesia (KOI) atau NOC Indonesia menyerukan genderang perang terhadap segala bentuk kekerasan di lingkungan olahraga.
Hal itu merespons rentetan skandal pelecehan seksual yang mengguncang cabang olahraga panjat tebing dan kickboxing, NOC meminta seluruh insan olahraga untuk tidak lagi menutup mulut.
Ketua Umum NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari, menegaskan bahwa setiap pelanggaran norma, terutama pelecehan seksual, harus dibongkar demi memberikan efek jera yang nyata bagi para pelaku.
"Jangan diam, karena setiap suara itu akan menjadi keterwakilan dari teman-teman yang lain yang mungkin hari ini masih ada yang bungkam. Mudah-mudahan ini menjadi yang terakhir," kata sosok yang akrab disapa Okto itu dalam perayaan HUT ke-74 NOC Indonesia di Jakarta, Rabu (11/3).
Dunia olahraga nasional belakangan ini memang sedang bergejolak. Kasus dugaan pelecehan seksual di pelatnas panjat tebing kini telah bergulir ke meja kepolisian setelah pelatih kepala resmi dinonaktifkan oleh Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI).
Belum tuntas kasus tersebut, publik kembali dikejutkan oleh pengakuan berani atlet kickboxing asal Jawa Timur.
Melalui media sosial, ia menyingkap kronologi kelam yang dialaminya, memicu gelombang dukungan luas sekaligus kecaman terhadap oknum pengurus yang terlibat.
Sementara itu, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Erick Thohir, tidak mampu menyembunyikan amarahnya. Ia menyebut tindakan para oknum tersebut sebagai sesuatu yang sangat keji dan menjijikkan.
"Ini hal-hal yang jahanam. Sejak awal kami bicara langsung bahwa praduga tidak bersalah harus dijalankan, tetapi hukuman secara federasi juga harus terjadi," tegas Erick.
Di sisi lain, Ketua Umum FPTI, Yenny Wahid, memastikan organisasinya bergerak cepat dengan membentuk Tim Pencari Fakta (TPF).
Fokus utama federasi saat ini adalah menjamin keamanan para penyintas agar tidak mengalami trauma ganda.
"Yang paling penting bagi kami adalah memberikan perlindungan maksimal. Identitas mereka kami rahasiakan karena mereka adalah korban, jangan sampai mereka menjadi korban dua kali," jelas Yenny.
FPTI juga berkomitmen mendampingi para atlet melalui bantuan hukum hingga mereka mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya.
Momentum ini diharapkan menjadi titik balik bagi dunia olahraga Indonesia untuk melakukan bersih-bersih dari segala bentuk praktik kekerasan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Trump Akui AS Kembali Serang Iran, Sistem Pertahanan Udara Dihancurkan dalam Hitungan Menit
- 2Moto3 Qatar, Hiroshi Aoyama Terima Penalti Veda Ega Pratama, Tegaskan 'Feeling' Pembalap Bagus
- 3Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 4Arab Saudi Ikuti Jejak Timnas Indonesia, Batalkan Laga Melawan Yordania
- 5Kalender Jawa 6 November 2026: Weton Jumat Pahing, Wataknya Dikenal Gigih dan Ambisius
- 6KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 7Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 8Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar







