Krisis Energi Global Tekan Indonesia, DPR-Pemerintah Sepakat Perkuat Strategi WFA

AKURAT.CO DPR RI bersama pemerintah menegaskan komitmen untuk tetap solid dalam menghadapi tekanan krisis energi global yang berdampak pada lonjakan harga minyak dunia.
Sinergi tersebut dinilai penting agar berbagai kebijakan strategis, termasuk opsi kerja fleksibel seperti work from anywhere (WFA), dapat berjalan efektif.
Anggota Komisi VI DPR RI, Herman Khaeron, mengatakan kondisi global saat ini tidak hanya dirasakan Indonesia, tetapi juga hampir seluruh negara.
Meski demikian, ia mengapresiasi langkah pemerintah yang tetap menahan harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah tren kenaikan harga minyak dunia.
“Situasi global ini tidak hanya menjadi persoalan Indonesia, tetapi juga hampir seluruh negara. Namun kita patut bersyukur dan mengapresiasi pemerintah yang mampu menahan harga BBM di tengah kenaikan signifikan harga minyak dunia,” ujar Herman di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Ia menjelaskan, harga minyak dunia yang kini telah melampaui asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi tantangan serius bagi ketahanan fiskal nasional.
“Dalam APBN, asumsi harga minyak sekitar 70 dolar AS per barel. Sementara saat ini sudah berada di kisaran 110 hingga 115 dolar AS per barel. Ini tentu menjadi tekanan besar, tetapi pemerintah mampu menjaga stabilitas sehingga harga BBM tidak naik,” jelasnya.
Dalam kondisi tersebut, Herman mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas di tingkat masyarakat, termasuk mencegah praktik penimbunan BBM oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
“Kita harapkan masyarakat tetap tenang, tidak ada spekulan yang menimbun BBM dan merugikan masyarakat,” tegasnya.
Baca Juga: Kementerian Ekraf Soroti Kasus Video Desa Karo, Dorong Pembenahan Regulasi Industri Kreatif
Sebagai bagian dari strategi penghematan energi, ia menyebut pemerintah juga mendorong penerapan pola kerja fleksibel seperti WFA.
Kebijakan ini dinilai sebagai salah satu langkah adaptif menghadapi tekanan energi global.
“Salah satu opsi yang dilakukan adalah kerja dari rumah, seperti penerapan WFH setiap hari Jumat mulai April ini,” ujarnya.
Herman menegaskan, dalam situasi krisis global, kekompakan antara DPR dan pemerintah menjadi kunci agar setiap kebijakan dapat berjalan optimal dan tepat sasaran.
“Dalam situasi krisis yang membutuhkan kebersamaan, DPR dan pemerintah harus kompak agar setiap keputusan berjalan efektif,” katanya.
Ia pun optimistis tekanan krisis energi global bersifat sementara dan akan mereda seiring membaiknya kondisi geopolitik serta normalisasi pasokan energi dunia.
“Kita berharap konflik global mereda, pasokan energi kembali normal, dan ke depan Indonesia bisa memperkuat kemandirian energi serta mencapai kondisi ekonomi yang lebih stabil,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ancaman Denny Indrayana ke Presiden Prabowo Bentuk Penghinaan pada Mandat Rakyat
- 2Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 3Memutus Mata Rantai Kejahatan Keuangan Digital: Upaya OJK Melindungi Masyarakat dari Jerat Judi Online
- 4Ina Liem Kini Setuju Gibran Mundur dari Wapres, Alasannya Bikin Heboh
- 5Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 6Tak Tergilas Disrupsi, Tak Terjebak Perang Harga: Rahasia Bluebird Menjaga Takhta di Industri Transportasi Dalam Negeri
- 7Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 8Moto3 GP Malaysia: Hiroshi Aoyama Puji Kecerdikan Veda Ega Pratama Taklukkan Suhu Lintasan Sepang
- 9Harga Cabai Berangsur Turun Awal November
- 10Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia









