Bukan Sekadar Target, BGN Diminta Stop Praktik Bisnis di Program MBG

AKURAT.CO Badan Gizi Nasional (BGN) perlu segera melakukan pembenahan menyeluruh menyusul berbagai persoalan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah, menilai, perbaikan harus dimulai dari aspek fundamental, seperti tata kelola, struktur organisasi, hingga kualitas sumber daya manusia.
Ia menyoroti masih adanya penempatan personel yang tidak memiliki kompetensi di bidang gizi, sehingga berpotensi memengaruhi kualitas program.
“BGN harus diisi oleh tenaga yang benar-benar paham gizi, bukan sekadar penempatan yang tidak sesuai keahlian,” ujar Trubus saat dihubungi Akurat.co, Rabu (25/3/2026).
Ia juga menilai peran tenaga ahli gizi belum berjalan optimal.
Padahal, mereka seharusnya memiliki tanggung jawab penuh dalam memastikan kualitas makanan sebelum didistribusikan kepada masyarakat.
Selain itu, Trubus menekankan pentingnya evaluasi serius terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), terutama setelah muncul sejumlah pelanggaran yang berujung pada penghentian sementara operasional.
Baca Juga: Prabowo Kumpulkan Menteri di Hambalang, Bahas Percepatan Pengolahan Sampah Jadi Energi
Ia mendorong pemberian sanksi yang tegas, termasuk kemungkinan pidana, guna menimbulkan efek jera dan meningkatkan kepercayaan publik.
Tak hanya itu, transparansi kerja sama antara BGN dan SPPG juga menjadi sorotan.
Ia menilai isi perjanjian perlu dibuka kepada publik agar masyarakat dapat mengetahui mekanisme dan standar yang diterapkan.
“Dengan keterbukaan, publik bisa menilai dan ikut mengawasi,” katanya.
Trubus menilai minimnya transparansi selama ini memicu berbagai persepsi negatif di masyarakat, termasuk dugaan pelanggaran dalam pelaksanaan program.
Setelah berjalan lebih dari satu tahun, ia menyebut program MBG seharusnya memasuki tahap evaluasi menyeluruh, baik dari sisi kelembagaan maupun implementasi di lapangan.
Ia juga mengingatkan agar program tersebut tidak bergeser menjadi ladang bisnis, melainkan tetap berorientasi pada pelayanan publik dan peningkatan kualitas gizi masyarakat.
“Ini bukan untuk mencari keuntungan, tapi untuk mencerdaskan masyarakat,” tegasnya.
Ke depan, Trubus mendorong pemerintah membuka ruang dialog dengan masyarakat sebagai bentuk akuntabilitas.
Menurutnya, keterlibatan publik penting karena program ini dibiayai oleh anggaran negara dan harus dipertanggungjawabkan secara terbuka.
Baca Juga: Arus Balik Lebaran 2026 Terkendali, Polri Mulai Setop Sistem One Way Nasional
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai









