BRI Finance Salurkan Bantuan Sarana Pengolahan Sampah di Jakarta, Kurangi Distribusi Sampah ke Bantar Gebang

AKURAT.CO Sampah rumah tangga yang tercampur sering kali berakhir di tempat pemrosesan akhir tanpa sempat dimanfaatkan kembali. Padahal, sebagian sampah organik bisa diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik tertentu masih memiliki nilai ekonomi. Persoalannya, kebiasaan memilah sampah perlu didukung sarana dan keterlibatan masyarakat. Inilah yang menjadi salah satu fokus program BRI Finance dalam mendukung pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Jakarta.
PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) di RW 06, Srengseng Sawah, Jakarta. Program ini mencakup bantuan sarana pengolahan sampah, edukasi pemilahan sampah kepada warga, serta pelatihan bagi anak-anak dan anggota karang taruna.
Dukungan tersebut sejalan dengan upaya pengelolaan sampah dari hulu, yakni sejak sampah dihasilkan di rumah tangga dan lingkungan permukiman. Langkah ini diharapkan membantu mengurangi sampah yang harus diangkut keluar wilayah, termasuk yang berakhir di tempat pemrosesan akhir Bantargebang.
Baca Juga: Laba BRI Finance Tumbuh 89 Persen meski Penjualan Kendaraan Tertekan, Apa Strateginya?
BRI Finance Berikan Sarana Pengolahan Sampah di Srengseng Sawah
Melalui program TJSL, BRI Finance berpartisipasi sebagai Mitra Utama dengan menyediakan sejumlah sarana untuk menunjang pengelolaan sampah di RW 06, Srengseng Sawah.
Bantuan tersebut meliputi tujuh unit tong komposter berkapasitas 200 liter, sebelas unit tong biru berkapasitas 60 liter, lima unit tempat sampah jenis dust bin berkapasitas 120 liter, serta satu unit mesin ayak kompos rotary dengan kapasitas 100–150 kilogram per jam.
BRI Finance juga mendukung satu paket kegiatan pelatihan untuk anak-anak dan remaja. Program edukasi pemilahan sampah menyasar warga di empat RT, yaitu RT 02, RT 03, RT 06, dan RT 11, sedangkan pelatihan pengelolaan sampah bagi anak-anak dan anggota karang taruna ditargetkan menjangkau 50 peserta.
Direktur Utama BRI Finance, Ignatius Susatyo Wijoyo, yang akrab disapa Satyo, mengatakan bahwa tanggung jawab sosial dan lingkungan merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan kegiatan bisnis.
“Bagi kami di BRI Finance, CSR adalah tanggung jawab moral dan investasi masa depan,” ujar Satyo dalam seremoni program di Jakarta, Rabu, 28 Oktober 2026.
Menurut Satyo, persoalan sampah bukan hanya menjadi tantangan Jakarta, melainkan juga daerah lain di Indonesia. Karena itu, perusahaan berupaya mengambil bagian melalui langkah konkret yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kami ingin berpartisipasi, setidaknya dimulai dari hal-hal kecil yang manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat,” kata Satyo.
Ia menjelaskan bahwa dukungan sarana pengolahan sampah diharapkan tidak hanya membantu menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan sampah agar memiliki nilai tambah.
“Setelah diolah, sampah ternyata bisa memiliki nilai tambah bagi warga, masyarakat, dan lingkungan,” lanjutnya.
Mengapa Pengelolaan Sampah Perlu Dimulai dari Hulu?
Pengelolaan sampah dari hulu berarti menangani sampah sejak dihasilkan, bukan hanya mengandalkan pengangkutan menuju tempat pemrosesan akhir. Dalam praktiknya, langkah ini dapat dimulai dengan memisahkan sampah organik dari sampah anorganik di rumah.
Sampah organik, seperti sisa makanan dan dedaunan, dapat diolah melalui pengomposan jika memenuhi persyaratan pengolahan. Sementara itu, sampah anorganik tertentu, seperti plastik yang dapat didaur ulang, bisa dikumpulkan dan disalurkan ke fasilitas pengolahan yang sesuai.
Pemisahan tersebut penting karena sampah yang sudah tercampur lebih sulit dimanfaatkan kembali. Sisa makanan yang menempel pada material daur ulang, misalnya, dapat menurunkan kualitas bahan dan menambah pekerjaan saat proses pemilahan.
Wakil Kepala DLH DKI Jakarta, Purwanti Suryandari, menjelaskan bahwa pengolahan sampah di tingkat lingkungan dapat membantu menekan volume sampah yang harus diangkut keluar wilayah.
“Harapannya, setiap wilayah memiliki tanggung jawab terhadap lingkungannya sendiri,” kata Purwanti.
Ia menambahkan, sampah yang dihasilkan masyarakat sebisa mungkin diolah di tempat sehingga sampah yang harus dikirim keluar wilayah dapat ditekan.
“Sampah yang dihasilkan di wilayah tersebut sebisa mungkin diolah di tempat, sehingga yang dikirim keluar wilayah hanya sampah residu,” ujarnya.
Residu merupakan sisa sampah yang tidak dapat atau belum dapat dimanfaatkan kembali melalui proses pengolahan yang tersedia. Pengurangan sampah dari sumbernya dapat membantu menekan kebutuhan pengangkutan dan pembuangan, meskipun besarnya dampak bergantung pada jenis sampah, kapasitas pengolahan, serta konsistensi pelaksanaannya.
Pengiriman Sampah ke Bantargebang Masih Menjadi Tantangan Jakarta
Upaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Srengseng Sawah berlangsung di tengah tantangan pengelolaan sampah Jakarta dalam skala yang lebih luas.
Dalam wawancara, Purwanti menyebut pengiriman sampah dari seluruh Jakarta ke Bantargebang berada di kisaran 5.000–6.000 ton per hari. Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah daerah berupaya terus mengurangi volume tersebut melalui pengolahan sampah dari hulu.
Menurut Purwanti, sampah organik menjadi salah satu jenis sampah yang perlu mendapat perhatian. Selain berpotensi menimbulkan bau, sampah organik yang terkena air hujan dapat menyerap air sehingga bobotnya bertambah.
“Kalau sampah organik bisa dikelola dengan baik sejak dari sumbernya, termasuk dari lingkungan tempat tinggal, tentu dampaknya akan sangat besar,” jelasnya.
Pengelolaan sampah organik di lingkungan permukiman dapat dilakukan dengan berbagai metode, termasuk pengomposan. Untuk sampah anorganik, pemerintah dan masyarakat dapat mengoptimalkan bank sampah serta jalur daur ulang sesuai karakteristik material.
Purwanti juga menyebut penggunaan metode seperti pengomposan dan maggot sebagai bagian dari upaya mengolah sampah organik. Sementara itu, sampah anorganik dapat diproses kembali agar material yang masih memiliki nilai guna tidak langsung menjadi residu.
Namun, program di satu RW tidak dapat serta-merta dianggap telah mengurangi pengiriman sampah Jakarta ke Bantargebang dalam jumlah tertentu. Dampak pada tingkat kota baru bisa dihitung jika tersedia data volume sampah sebelum dan sesudah program, termasuk jumlah sampah yang berhasil diolah serta sampah yang masih harus diangkut.
Mesin Ayak Kompos dan Tong Komposter Dukung Pengolahan di Tingkat RW
Bantuan sarana dari BRI Finance ditujukan untuk menunjang proses pengelolaan sampah di lingkungan masyarakat. Tong komposter dapat digunakan untuk mendukung pengolahan sampah organik, sedangkan tempat sampah membantu menyediakan sarana penampungan dan pemilahan.
Adapun mesin ayak kompos rotary berkapasitas 100–150 kilogram per jam dapat membantu proses pengayakan kompos agar material yang dihasilkan memiliki ukuran lebih seragam. Penggunaan alat ini dapat menunjang proses pengolahan, tetapi hasil akhirnya tetap bergantung pada kapasitas operasional, kondisi bahan, dan keterampilan pengguna.
Kapasitas mesin juga tidak sama dengan jumlah sampah yang pasti berhasil diolah setiap hari. Jika mesin beroperasi selama satu jam, misalnya, kapasitas nominalnya berada pada kisaran 100–150 kilogram. Namun, angka tersebut tidak otomatis menggambarkan hasil aktual karena pengoperasian, persiapan bahan, perawatan, dan waktu henti alat turut memengaruhi produktivitas.
Karena itu, keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah peralatan yang diserahkan. Warga juga perlu memahami jenis sampah yang dapat dimasukkan ke komposter, cara mengoperasikan sarana, serta bagaimana mengelola hasil pengolahan agar benar-benar bermanfaat.
Ketersediaan fasilitas perlu diikuti kebiasaan memilah sampah secara konsisten. Jika sampah organik dan anorganik kembali dicampur setelah dikumpulkan, manfaat sarana pengolahan berpotensi tidak optimal.
Pengolahan Sampah Berpotensi Memberikan Manfaat Ekonomi
Selain membantu mengurangi sampah yang dibuang, pengolahan sampah dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Potensi tersebut dapat muncul melalui penjualan material daur ulang, pengelolaan bank sampah, pemanfaatan kompos, maupun pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif.
Purwanti menjelaskan bahwa sampah yang dikelola dengan baik dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Salah satu contoh yang ia sampaikan adalah refuse-derived fuel (RDF), yaitu bahan bakar alternatif yang diproduksi dari sampah yang memenuhi persyaratan pengolahan dan pemanfaatan.
“Untuk RDF, harga jualnya bisa mencapai sekitar Rp300.000–Rp400.000 per ton,” ujar Purwanti.
Menurut dia, sampah yang sebelumnya berpotensi dibuang dapat menghasilkan pendapatan apabila diolah menjadi material yang dapat dimanfaatkan industri.
Meski demikian, angka tersebut merupakan kisaran yang disebut narasumber, bukan harga yang berlaku untuk semua jenis RDF atau seluruh wilayah. Nilai ekonomi bersih juga perlu memperhitungkan biaya pengumpulan, pemilahan, pengolahan, transportasi, tenaga kerja, dan pemeliharaan fasilitas.
Purwanti menambahkan bahwa hasil pengelolaan sampah berpotensi membantu kebutuhan operasional masyarakat di tingkat lingkungan.
“Pada prinsipnya, jika sampah dikelola dengan baik, manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa manfaat tersebut, misalnya, dapat digunakan untuk menambah kas RW atau membiayai operasional lingkungan. Namun, besarnya pendapatan dari pengolahan sampah di RW 06 belum dijelaskan dalam data program yang tersedia.
Pelatihan dan Evaluasi Menjadi Penentu Keberlanjutan Program
Salah satu unsur penting dalam program BRI Finance adalah pelibatan warga, termasuk anak-anak dan remaja. Edukasi pemilahan sampah di empat RT serta pelatihan dengan target 50 peserta diharapkan membantu membangun pemahaman mengenai pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.
Pelibatan generasi muda juga membuka kesempatan agar kebiasaan memilah sampah dikenalkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah maupun lingkungan sekitar. Meski demikian, perubahan perilaku memerlukan pembiasaan dan dukungan sarana yang dapat digunakan secara berkelanjutan.
BRI Finance merencanakan monitoring dan evaluasi secara bertahap hingga September 2027. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi bahan pertimbangan untuk melihat perkembangan program dan partisipasi masyarakat, termasuk peluang pengembangan kegiatan ke wilayah RT lainnya.
Agar evaluasi menghasilkan gambaran yang lebih utuh, sejumlah indikator dapat diperhatikan, seperti tingkat pemanfaatan fasilitas, jumlah warga yang berpartisipasi, volume sampah organik yang berhasil diolah, serta jumlah material yang masih harus dibuang. Indikator tersebut merupakan aspek yang dapat diukur untuk menilai program, bukan hasil yang telah dilaporkan oleh BRI Finance.
Pendekatan ini penting karena fasilitas pengolahan sampah hanya menjadi salah satu bagian dari sistem. Ketersediaan sarana harus diikuti kebiasaan warga, pengelolaan operasional, dan jalur pemanfaatan hasil pengolahan agar pengurangan sampah benar-benar terjadi.
Kontribusi Lingkungan Berjalan Seiring dengan Pertumbuhan Bisnis
Program TJSL pengelolaan sampah menjadi salah satu bentuk kontribusi BRI Finance kepada masyarakat di luar kegiatan pembiayaan. Perusahaan menyatakan bahwa tanggung jawab sosial dan lingkungan merupakan bagian dari komitmen dalam menjalankan bisnis sekaligus memberikan manfaat kepada masyarakat.
Di sisi lain, BRI Finance juga mencatatkan pertumbuhan penyaluran pembiayaan sebesar 99,2% secara tahunan atau year-on-year (YoY) per September 2026.
Capaian tersebut menunjukkan perkembangan bisnis perusahaan pada periode tersebut. Namun, pertumbuhan pembiayaan dan program lingkungan merupakan dua informasi berbeda yang tidak serta-merta menunjukkan hubungan sebab-akibat.
Ke depan, kontribusi program pengelolaan sampah akan lebih mudah dinilai jika hasil monitoring dapat menunjukkan perubahan konkret di tingkat masyarakat. Data mengenai jumlah sampah yang diolah, pemanfaatan sarana, partisipasi warga, dan keberlanjutan operasional akan membantu memperjelas manfaat program.
Pada akhirnya, pengurangan sampah tidak cukup dilakukan dengan memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain. Perubahan perlu dimulai dari cara masyarakat memilah, mengolah, dan memanfaatkan sampah sebelum residu diangkut ke tempat pemrosesan akhir.
Dukungan perusahaan melalui program TJSL dapat menjadi bagian dari upaya tersebut. Tantangan berikutnya adalah memastikan sarana yang diberikan terus digunakan dan kebiasaan pengelolaan sampah tetap berjalan setelah program bantuan dilaksanakan.
Pantau terus perkembangan pengelolaan sampah di Jakarta untuk melihat bagaimana kolaborasi pemerintah, perusahaan, dan masyarakat dapat mendukung lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Baca Juga: BRI Finance Sabet Penghargaan Indonesia Best Multifinance Awards 2025
Baca Juga: Menteri PPPA Sapa Siswa di Bantar Gebang, Serap Harapan dan Cita-cita Anak Bangsa
FAQ
Apa tujuan program pengelolaan sampah BRI Finance?
Program BRI Finance bertujuan mendukung pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui bantuan sarana, edukasi pemilahan sampah, dan pelatihan. Kegiatan ini dilaksanakan bersama DLH DKI Jakarta di RW 06, Srengseng Sawah, untuk mendorong pengolahan sampah dari sumbernya.
Di mana program pengelolaan sampah BRI Finance dilaksanakan?
Program tersebut dilaksanakan di RW 06, Srengseng Sawah, Jakarta. Edukasi pemilahan sampah menjangkau RT 02, RT 03, RT 06, dan RT 11, sedangkan pelatihan ditujukan kepada anak-anak dan anggota karang taruna dengan target 50 peserta.
Apa saja bantuan sarana pengolahan sampah dari BRI Finance?
Bantuan BRI Finance mencakup tujuh tong komposter berkapasitas 200 liter, sebelas tong biru berkapasitas 60 liter, lima tempat sampah dust bin berkapasitas 120 liter, satu mesin ayak kompos rotary berkapasitas 100–150 kilogram per jam, serta satu paket pelatihan bagi anak-anak dan remaja.
Bagaimana pemilahan sampah dari rumah membantu mengurangi sampah ke Bantargebang?
Pemilahan sampah dari rumah membantu memisahkan material organik yang dapat diolah menjadi kompos dari material anorganik yang berpotensi didaur ulang. Jika proses pengolahan berjalan efektif, jumlah sampah yang harus diangkut keluar wilayah dapat berkurang. Besarnya pengurangan perlu dibuktikan melalui pengukuran volume sampah.
Apa perbedaan pengolahan sampah organik dan anorganik?
Sampah organik, seperti sisa makanan dan dedaunan, dapat diolah melalui pengomposan atau metode biologis lain yang sesuai. Sampah anorganik, seperti jenis plastik tertentu, dapat dipilah untuk didaur ulang atau dimanfaatkan kembali jika memenuhi persyaratan pengolahan.
Bagaimana pengolahan sampah dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat?
Pengolahan sampah dapat memberikan nilai ekonomi melalui penjualan material daur ulang, pengelolaan bank sampah, pemanfaatan kompos, atau produksi RDF. Pendapatan bersih bergantung pada harga jual, kualitas material, serta biaya operasional dan pengolahan.
Kapan monitoring dan evaluasi program BRI Finance dilakukan?
BRI Finance merencanakan monitoring dan evaluasi program secara bertahap hingga September 2027. Evaluasi tersebut ditujukan untuk melihat perkembangan pelaksanaan program dan partisipasi masyarakat, serta menjadi bahan pertimbangan untuk pengembangan kegiatan ke wilayah RT lainnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 7Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 8Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 9Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon








