AKURAT.CO Perang dagang antara China dan Amerika Serikat kini merambah sektor drone yang merupakan elemen penting dalam strategi pertahanan Ukraina. Bahkan baru-baru ini beberapa produsen di China kabarnya mulai membatasi penjualan komponen penting untuk drone ke AS dan Eropa.
Pembatasan tersebut diyakini sebagai langkah awal Beijing untuk menerapkan kontrol ekspor lebih luas mulai awal tahun depan. Batasan itu kemungkinan melibatkan izin penggunaan atau kewajiban melaporkan pengiriman komponen ke pemerintah, ujar salah satu sumber.
Melansir dari Bloomberg, Selasa (10/12/2024), di tengah ketegangan, Washington dikabarkan juga kembali memperketat pembatasan penjualan cip dan peralatan semikonduktor ke China.
Sebagai balasan, merespon tarif tidak masuk akal tersebut, China pun juga memperluas cakupan larangan ekspor ke barang yang mengandung komponen buatan China, baik yang dijual di dalam maupun luar negeri.
Ini meniru langkah sanksi ekstrateritorial ala AS dan Uni Eropa.
Baca Juga: Larangan Ekspor Mineral dari China Jadi Ancaman Industri Pertahanan AS
Sehingga pada akhirnya, pembatasan tersebut malah mempengaruhi rantai pasok AS dan Eropa, termasuk komponen drone seperti motor dan baterai.
Menurut CEO Auterion, Lorenz Meier menyebutkan bahwa kebijakan saling balas seperti ini makin sering terdengar. Langkah ini juga memicu upaya produsen Barat untuk memindahkan produksi keluar dari China, demi mengamankan suplai.
"Di tengah situasi ini, China tetap menjadi penguasa pasar drone global dengan pangsa hampir 80 persen. Sementara itu, negara-negara Barat mulai mendorong pengembangan drone di luar China untuk mengurangi ketergantungan. Ditambah konflik ini menjadi semakin kompleks dengan tuduhan AS terhadap China yang mendukung industri pertahanan Rusia," ucapnya.
Meskipun begitu Beijing membantah dan menyatakan pengawasan ketat terhadap ekspor barang penggunaan ganda. Dengan ketegangan yang memanas, pembatasan ini diperkirakan akan memacu persaingan dari negara lain seperti Korea Selatan dan Jepang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 7Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








