Akurat Logo

10 Sunah Nabi Muhammad SAW Ketika Melakukan Perjalanan, Muslim Perlu Tahu!

Redaksi Akurat | 6 November 2026, 08:24 WIB
10 Sunah Nabi Muhammad SAW Ketika Melakukan Perjalanan, Muslim Perlu Tahu!
Safar

AKURAT.CO Bepergian merupakan aktivitas yang sering dilakukan manusia, baik untuk bekerja, menuntut ilmu, berlibur, maupun mengunjungi keluarga. Dalam ajaran Islam, terdapat sejumlah adab dan sunah yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW ketika melakukan perjalanan.

Perjalanan dalam Islam dikenal dengan istilah safar. Seorang muslim dianjurkan untuk memperhatikan berbagai adab ketika bepergian, mulai dari membaca doa sebelum berangkat, memilih waktu perjalanan, menjaga perilaku, hingga mengabarkan kepulangan kepada keluarga.

Sunah-sunah tersebut bukan sekadar kebiasaan, tetapi juga mengandung nilai ibadah dan mengajarkan umat Islam untuk senantiasa mengingat Allah SWT dalam berbagai keadaan.

Baca Juga: Kendali Penuh Bagi Jemaah, Safaraya Dorong Kemudahan dan Keamanan Umrah Mandiri

Lantas, apa saja sunah Nabi Muhammad SAW ketika melakukan perjalanan? Berikut penjelasannya.

1. Membaca doa sebelum memulai perjalanan

Salah satu amalan yang dianjurkan ketika hendak melakukan perjalanan adalah membaca doa. Hal ini menjadi bentuk permohonan seorang muslim kepada Allah SWT agar diberikan keselamatan, kemudahan, dan perlindungan selama bepergian.

Membaca doa juga merupakan wujud tawakal, yaitu menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT setelah melakukan persiapan dan ikhtiar.

Dengan berdoa, seorang muslim diharapkan dapat menjalani perjalanan dengan hati yang lebih tenang serta senantiasa mengingat bahwa keselamatan merupakan karunia dari Allah SWT.

2. Membaca doa ketika naik kendaraan

Rasulullah SAW mengajarkan umat Islam untuk membaca doa ketika menaiki kendaraan. Amalan ini berlaku ketika menggunakan kendaraan seperti unta pada masa Rasulullah maupun kendaraan modern seperti mobil, sepeda motor, kereta, dan pesawat.

Doa naik kendaraan terdapat dalam Al-Qur'an surah Az-Zukhruf ayat 13–14.

Berikut bacaannya:

Arab:

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ ۝ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

Latin:

Subhaanalladzi sakhkhara lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahu muqriniin. Wa innaa ilaa rabbinaa lamunqalibuun.

Artinya:

"Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami."

Doa tersebut juga dicontohkan Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Muslim. Setelah membacanya, Rasulullah SAW melanjutkan dengan memohon kebaikan dan ketakwaan selama perjalanan serta perlindungan dari kesulitan dan keburukan.

3. Memilih waktu pagi untuk melakukan perjalanan

Rasulullah SAW juga mendoakan keberkahan bagi umatnya pada waktu pagi.

Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda:

"Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya."

Hadis tersebut menunjukkan keutamaan waktu pagi dalam berbagai aktivitas, termasuk mencari rezeki dan melakukan perjalanan.

Selain itu, terdapat riwayat yang menganjurkan perjalanan pada malam hari karena perjalanan pada waktu tersebut dapat terasa lebih mudah ditempuh.

Meski demikian, pemilihan waktu keberangkatan tetap perlu mempertimbangkan kondisi tubuh, keamanan lingkungan, cuaca, dan situasi perjalanan.

4. Bepergian bersama teman atau rombongan

Islam memberikan perhatian terhadap keselamatan seseorang ketika melakukan perjalanan. Salah satu adab yang diajarkan adalah tidak sembarangan melakukan perjalanan seorang diri, terutama jika perjalanan tersebut memiliki risiko tertentu.

Dalam hadis riwayat Shahih Bukhari, Rasulullah SAW memperingatkan bahaya bepergian seorang diri pada malam hari.

Selain itu, dalam hadis riwayat Abu Dawud, Rasulullah SAW menganjurkan agar tiga orang yang melakukan perjalanan bersama menunjuk salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin rombongan.

Keberadaan pemimpin perjalanan dapat membantu mengatur koordinasi, menentukan keputusan, dan menjaga ketertiban selama perjalanan.

5. Membaca takbir ketika melewati jalan menanjak

Ketika melakukan perjalanan melewati jalan menanjak atau tempat yang lebih tinggi, Rasulullah SAW mencontohkan membaca takbir.

Bacaan takbir yang dimaksud adalah:

اللَّهُ أَكْبَرُ

Allahu Akbar.

Artinya: Allah Maha Besar.

Sementara itu, ketika melewati jalan menurun atau lembah, Rasulullah SAW mencontohkan membaca tasbih:

سُبْحَانَ اللَّهِ

Subhanallah.

Artinya: Maha Suci Allah.

Anjuran tersebut terdapat dalam hadis riwayat Shahih Bukhari dari Jabir bin Abdullah RA.

Amalan ini mengajarkan umat Islam untuk senantiasa mengingat kebesaran Allah SWT selama perjalanan, baik ketika berada di tempat tinggi maupun rendah.

6. Menjaga perilaku dan ucapan selama perjalanan

Menjaga akhlak merupakan bagian penting dari ajaran Islam, termasuk ketika seseorang sedang bepergian.

Selama perjalanan, seorang muslim dianjurkan untuk menjaga perkataan dan tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain.

Contohnya adalah tidak mudah marah ketika menghadapi kemacetan, tidak mencela pengendara lain, menghindari pertengkaran, serta menghormati sesama pengguna jalan.

Selain itu, seorang muslim juga dianjurkan untuk saling membantu ketika menemukan orang yang mengalami kesulitan selama perjalanan.

Dengan menjaga perilaku, perjalanan tidak hanya menjadi aktivitas untuk mencapai tujuan, tetapi juga kesempatan untuk menerapkan akhlak yang diajarkan Rasulullah SAW.

7. Memanfaatkan keringanan salat bagi musafir

Salah satu bentuk kemudahan yang diberikan Islam kepada orang yang sedang melakukan perjalanan adalah rukhsah atau keringanan dalam melaksanakan salat.

Keringanan tersebut meliputi salat jamak dan qasar bagi musafir yang memenuhi ketentuan syariat.

Salat jamak merupakan pelaksanaan dua salat wajib dalam satu waktu. Salat yang dapat dijamak adalah Zuhur dengan Asar serta Magrib dengan Isya.

Sementara itu, salat qasar merupakan meringkas salat wajib yang terdiri dari empat rakaat menjadi dua rakaat. Salat yang dapat diqasar adalah Zuhur, Asar, dan Isya.

Dasar mengenai keringanan salat qasar terdapat dalam Al-Qur'an surah An-Nisa ayat 101.

Namun, pelaksanaan jamak dan qasar memiliki ketentuan tersendiri, seperti persyaratan jarak perjalanan, tujuan safar, dan status seseorang sebagai musafir. Karena itu, umat Islam perlu memahami ketentuan fikih yang berlaku sebelum melaksanakannya.

8. Beristirahat ketika melakukan perjalanan

Menjaga kondisi tubuh juga merupakan hal penting ketika melakukan perjalanan. Rasulullah SAW memberikan teladan agar seseorang memperhatikan kebutuhan tubuh dan tidak memaksakan diri.

Dalam hadis riwayat Abu Dawud, Rasulullah SAW memberikan arahan kepada rombongan yang melakukan perjalanan agar memperhatikan kondisi kendaraan dan tempat pemberhentian.

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW juga mengajarkan agar perjalanan dilakukan dengan memperhatikan kemampuan dan tidak menyiksa hewan tunggangan.

Nilai yang dapat dipetik adalah pentingnya memperhatikan keselamatan dan kondisi selama perjalanan.

Dalam kehidupan modern, hal tersebut dapat diterapkan dengan berhenti untuk beristirahat ketika lelah, mencukupi kebutuhan air minum, serta tidak memaksakan diri berkendara ketika mengantuk.

9. Segera kembali setelah urusan selesai

Rasulullah SAW juga mengajarkan agar seorang muslim tidak berlama-lama melakukan perjalanan tanpa keperluan yang jelas.

Dalam hadis riwayat Shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa perjalanan merupakan bagian dari kesulitan yang dapat menghalangi seseorang dari makan, minum, dan tidurnya.

Karena itu, ketika urusan telah selesai, seorang musafir dianjurkan segera kembali kepada keluarga.

Hal ini juga mengajarkan pentingnya memperhatikan keluarga dan tanggung jawab yang ditinggalkan selama bepergian.

10. Memberi kabar kepada keluarga sebelum pulang

Sunnah lainnya yang perlu diperhatikan adalah memberi kabar kepada keluarga sebelum kembali ke rumah setelah melakukan perjalanan jauh.

Dalam hadis riwayat Shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW melarang seseorang mendatangi keluarganya secara tiba-tiba pada malam hari setelah melakukan perjalanan jauh tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Anjuran tersebut mengajarkan pentingnya menjaga komunikasi dengan keluarga.

Dalam kehidupan sekarang, hal ini dapat dilakukan dengan menghubungi keluarga melalui telepon atau pesan singkat untuk memberitahukan perkiraan waktu kedatangan.

Dengan demikian, keluarga dapat mempersiapkan diri dan tidak merasa khawatir ketika mengetahui anggota keluarganya sedang dalam perjalanan pulang.

Baca Juga: Panduan Spiritual dan Doa Safar saat Bepergian Lewat Jalur Laut, agar Selamat

Doa ketika pulang dari perjalanan

Selain mengajarkan doa sebelum dan selama perjalanan, Rasulullah SAW juga mencontohkan doa ketika kembali ke rumah.

Berdasarkan hadis riwayat Shahih Muslim, Rasulullah SAW membaca:

Arab:

آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ

Latin:

Aa'ibuuna taa'ibuuna 'aabiduuna lirabbinaa haamiduun.

Artinya:

"Kami kembali, bertaubat, beribadah, dan memuji Tuhan kami."

Doa tersebut merupakan ungkapan rasa syukur seorang muslim karena telah diberikan kesempatan untuk menyelesaikan perjalanan dan kembali dengan selamat.

Sunah Nabi Muhammad SAW ketika melakukan perjalanan mengajarkan umat Islam untuk senantiasa mengingat Allah SWT, menjaga keselamatan, memperhatikan kondisi tubuh, serta menjaga hubungan baik dengan sesama manusia dan keluarga.

Mulai dari membaca doa sebelum berangkat, membaca doa naik kendaraan, memilih waktu perjalanan, hingga memberi kabar kepada keluarga sebelum pulang merupakan beberapa amalan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan menjalankan adab dan sunah perjalanan tersebut, seorang muslim diharapkan dapat menjadikan setiap perjalanan tidak hanya sebagai aktivitas duniawi, tetapi juga sebagai kesempatan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Taqiyuddin Abdurrahman Leboe (Magang)

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
R