Kenapa Orang Mudah Overthinking Sebelum Tidur

AKURAT.CO Pernah merasa terus mengingat percakapan yang sebenarnya sudah selesai sejak siang atau sore hari? Misalnya, memikirkan kembali jawaban yang diberikan kepada teman, perkataan seseorang yang terasa kurang menyenangkan, atau respons yang dianggap kurang tepat.
Hal seperti ini terkadang muncul ketika seseorang sudah berada di tempat tidur dan bersiap untuk beristirahat. Meski percakapannya terlihat sederhana, pikiran justru terus mengulang kejadian tersebut.
Kebiasaan memikirkan suatu kejadian secara berlebihan sering disebut sebagai overthinking. Kondisi ini bisa membuat seseorang mempertanyakan kembali perkataan dan tindakannya, bahkan membayangkan kemungkinan yang sebenarnya belum tentu terjadi.
Baca Juga: Inggris vs Kroasia: Thomas Tuchel Akui Three Lions Sempat Gugup, Terlalu 'Overthinking'
Lantas, mengapa percakapan sepele bisa terus terpikirkan sebelum tidur
1. Takut Salah Bicara Saat Berinteraksi dengan Orang Lain
Salah satu penyebab seseorang terus mengingat percakapan adalah kekhawatiran telah mengatakan sesuatu yang kurang tepat.
Setelah berbicara dengan orang lain, seseorang mungkin mulai mempertanyakan kalimat yang sebelumnya diucapkan. Misalnya, apakah perkataannya menyinggung perasaan lawan bicara atau apakah respons yang diberikan sudah sesuai.
Pikiran tersebut bisa muncul berulang kali meskipun tidak ada tanda bahwa orang lain merasa tersinggung. Jika terus dipikirkan, percakapan yang sebenarnya sudah selesai justru terasa seperti masalah yang belum menemukan jawaban.
2. Terlalu Memikirkan Penilaian Orang Lain
Keinginan untuk diterima oleh lingkungan sosial terkadang membuat seseorang terlalu memperhatikan bagaimana dirinya dinilai orang lain.
Setelah bertemu teman, rekan kerja, atau orang baru, seseorang bisa kembali mengingat setiap perkataan dan sikap yang ditunjukkan selama percakapan.
Ia mungkin bertanya-tanya apakah dirinya terlihat aneh, terlalu banyak bicara, atau justru kurang memberikan respons. Kekhawatiran terhadap penilaian orang lain ini dapat membuat seseorang sulit berhenti memikirkan interaksi yang sudah berlalu.
3. Ada Perkataan Orang Lain yang Masih Mengganjal
Tidak semua percakapan meninggalkan kesan menyenangkan. Terkadang, satu kalimat sederhana dari orang lain justru membuat seseorang merasa tidak nyaman.
Misalnya, komentar mengenai penampilan, pekerjaan, pendidikan, atau kehidupan pribadi. Walaupun disampaikan secara singkat, perkataan tersebut bisa terus teringat karena dianggap menyentuh perasaan.
Ketika suasana mulai tenang pada malam hari, ingatan mengenai percakapan tersebut dapat kembali muncul dan membuat seseorang memikirkan maksud di balik perkataan itu.
Baca Juga: Cara Melatih Pikiran Agar Lebih Tenang dan Tidak Overthinking
4. Terbiasa Mengulang Kejadian yang Sudah Berlalu
Sebagian orang memiliki kebiasaan mengevaluasi kembali kejadian yang sudah dialami. Sebenarnya, mengingat pengalaman masa lalu bukan sesuatu yang selalu buruk karena dapat membantu seseorang belajar dari kesalahan.
Namun, kebiasaan ini bisa menjadi melelahkan ketika seseorang terus mengulang kejadian yang sama tanpa menemukan kesimpulan baru.
Contohnya, seseorang berkali-kali memikirkan jawaban yang seharusnya diberikan ketika berbicara dengan temannya. Ia bahkan membayangkan berbagai respons berbeda yang mungkin bisa membuat percakapan berjalan lebih baik.
Kebiasaan mengulang pengalaman negatif seperti ini dikenal dalam psikologi sebagai rumination atau perenungan berulang.
5. Suasana Malam Membuat Pikiran Lebih Fokus pada Pengalaman Pribadi
Pada siang hari, seseorang biasanya memiliki berbagai aktivitas yang membutuhkan perhatian. Mulai dari bekerja, belajar, berkomunikasi, hingga menyelesaikan pekerjaan rumah.
Ketika malam tiba, aktivitas tersebut mulai berkurang. Suasana yang lebih tenang memberikan kesempatan bagi seseorang untuk kembali memikirkan kejadian yang dialami sepanjang hari.
Percakapan yang sebelumnya tidak terlalu diperhatikan pun bisa kembali muncul dalam ingatan. Hal ini dapat membuat pikiran terasa lebih ramai ketika tubuh sebenarnya sudah membutuhkan istirahat.
Cara Mengurangi Kebiasaan Memikirkan Percakapan Sebelum Tidur
Memikirkan kembali percakapan yang sudah terjadi memang tidak selalu bisa dihindari. Namun, ada beberapa cara yang dapat dilakukan agar kebiasaan tersebut tidak terus mengganggu waktu istirahat.
1. Bedakan Fakta dan Dugaan
Ketika mulai memikirkan suatu percakapan, cobalah membedakan hal yang benar-benar terjadi dengan sesuatu yang hanya dibayangkan.
Misalnya, teman tidak membalas pesan setelah percakapan selesai. Fakta yang diketahui adalah pesan tersebut belum dibalas, bukan berarti teman tersebut sedang marah atau tidak menyukai kita.
Membedakan fakta dan dugaan dapat membantu mengurangi kesimpulan negatif yang belum tentu benar.
2. Berhenti Mengulang Percakapan yang Sama
Jika sudah memikirkan kejadian tersebut berkali-kali, cobalah menyadari bahwa mengulang percakapan belum tentu menghasilkan jawaban baru.
Tidak semua interaksi harus dievaluasi secara terus-menerus. Ada kalanya seseorang perlu menerima bahwa percakapan sudah selesai dan tidak semua hal harus berjalan sempurna.
3. Alihkan Perhatian dengan Kegiatan yang Menenangkan
Sebelum tidur, seseorang bisa melakukan aktivitas ringan seperti membaca buku, menulis jurnal, atau mendengarkan musik yang menenangkan.
Kegiatan tersebut dapat membantu mengalihkan perhatian dari pikiran yang terus berulang.
4. Berikan Waktu untuk Beristirahat
Tidak perlu menyelesaikan semua persoalan sebelum tidur. Jika memang ada hal yang perlu dibicarakan atau diperbaiki, catat terlebih dahulu dan pikirkan kembali ketika kondisi sudah lebih tenang.
Dengan begitu, waktu istirahat tidak harus dihabiskan untuk memikirkan kejadian yang sama.
Kapan Kebiasaan Ini Perlu Diperhatikan?
Memikirkan kembali percakapan setelah berinteraksi dengan orang lain merupakan pengalaman yang bisa terjadi pada siapa saja. Namun, kebiasaan tersebut perlu diperhatikan apabila berlangsung terus-menerus hingga mengganggu tidur, pekerjaan, pendidikan, atau hubungan sosial.
Jika pikiran berulang disertai kecemasan yang sulit dikendalikan dan mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental dapat menjadi langkah yang tepat.
Pada akhirnya, tidak semua percakapan harus dipikirkan kembali secara mendalam. Seseorang boleh melakukan kesalahan saat berbicara, memberikan respons yang kurang tepat, atau mengalami interaksi yang terasa canggung. Hal tersebut merupakan bagian dari pengalaman sosial yang wajar.
Layya Aulia Cesar (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 2Prediksi Skor Porto vs Napoli 5 November 2026: Tuan Rumah Berpeluang Menang
- 3Jadwal Siaran Langsung Liga Champions Malam Ini: Barcelona vs Aston Villa, MU vs AS Roma
- 4Prediksi Skor Dortmund vs Betis 5 November 2026: Mampukah Die Borussen Hentikan Rekor Sempurna Tim Tamu?
- 5KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 6Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 7Kalender Jawa 4 November 2026: Watak Weton Rabu Kliwon yang Dikenal Berwibawa
- 8Prediksi Skor Leipzig vs Man City 5 November 2026: Haaland Jadi Ancaman, The Citizens Diunggulkan
- 9Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar
- 10Prabowo Tunjuk Letjen Ariyo Windutomo Jadi Pelaksana Tugas Kepala Staf Kepresidenan Menggantikan Listyo Sigit







