Akurat Logo

Prudential Indonesia Soroti Dampak Rupiah Melemah terhadap Biaya Kuliah di AS

Esha Tri Wahyuni | 5 November 2026, 07:50 WIB
Prudential Indonesia Soroti Dampak Rupiah Melemah terhadap Biaya Kuliah di AS
Prudential Indonesia menyoroti kebutuhan perlindungan finansial berbasis USD di tengah pelemahan rupiah yang membuat biaya kuliah anak di AS bertambah Rp193 juta. - AKURAT.CO/Esha Tri Wahyuni

AKURAT.CO Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah dalam lima tahun terakhir membuat kebutuhan dana masyarakat untuk berbagai keperluan internasional semakin besar.

Salah satunya biaya pendidikan anak di luar negeri yang kini membutuhkan persiapan finansial lebih tinggi jika dihitung dalam mata uang rupiah.

Berdasarkan data Kurs Transaksi Bank Indonesia (BI), kurs jual dolar AS meningkat sekitar 27% dari Rp14.372 pada 4 November 2021 menjadi Rp18.239 pada 4 November 2026.

Baca Juga: Rupiah Masih di Bawah Tekanan Dolar AS, Inflasi Oktober Jadi Penentu

Kenaikan tersebut memberikan gambaran mengenai besarnya risiko nilai tukar yang perlu diperhitungkan keluarga ketika mempersiapkan kebutuhan finansial dalam mata uang asing.

Sebagai ilustrasi, biaya kuliah di Amerika Serikat (AS) sebesar USD50.000 yang lima tahun lalu setara sekitar Rp719 juta, kini membutuhkan dana sekitar Rp912 juta. Dengan demikian, terdapat tambahan kebutuhan dana sekitar Rp193 juta untuk membiayai pendidikan dengan nominal dolar yang sama.

Kondisi tersebut turut mendorong kebutuhan perencanaan keuangan yang mempertimbangkan diversifikasi mata uang. Terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi, seperti pengusaha dan eksekutif, yang memiliki kebutuhan finansial lintas negara.

President Director Prudential Indonesia, Mukesh Dhawan mengatakan, kebutuhan finansial nasabah terus berkembang seiring dengan semakin luasnya aktivitas dan aspirasi global masyarakat.

Baca Juga: Klaim Asuransi Prudential Tembus Rp18,2 Triliun pada 2025

"Memasuki tahun ke-31 perjalanan Prudential di Indonesia, kami melihat kebutuhan finansial Nasabah terus berkembang dan semakin beragam. Perencanaan kekayaan bukan hanya tentang menjaga aset saat ini, tetapi bagaimana menjaga nilainya masih tetap relevan seiring dengan kebutuhan ekonomi global yang semakin berkembang di masa depan," ujar Mukesh dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (5/11/2026).

Menurutnya, kebutuhan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan aset, tetapi juga bagaimana keluarga mempersiapkan perlindungan finansial untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.