Studi Sun Life: Perempuan Sandwich Generation Rela Korbankan Masa Depan Finansial demi Keluarga

AKURAT.CO Menjadi tempat bergantung bagi anak dan orang tua sering kali membuat perempuan harus menempatkan kebutuhan keluarga di atas kepentingan pribadi. Mulai dari memastikan biaya pendidikan anak terpenuhi, mendampingi orang tua yang membutuhkan perawatan kesehatan, hingga menjaga pengeluaran rumah tangga tetap terkendali. Namun, di balik tanggung jawab tersebut, ada konsekuensi finansial yang tidak selalu terlihat: investasi tertunda, dana pensiun berkurang, bahkan kesehatan sendiri terabaikan.
Fenomena tersebut tergambar dalam Sandwich Generation Special Report 2026 yang dirilis Sun Life. Studi ini menemukan bahwa perempuan sandwich generation menghadapi tekanan finansial cukup besar akibat tanggung jawab rumah tangga. Sebanyak 82% responden perempuan menyebut kewajiban tersebut sebagai hambatan dalam memperkuat kondisi finansial, sementara 37% membatasi investasi dan 79% pernah menunda atau melewatkan perawatan medis demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan perempuan sandwich generation bukan semata-mata berkaitan dengan besarnya pengeluaran bulanan. Ada persoalan lebih mendasar, yakni bagaimana tanggung jawab terhadap dua generasi dapat mengurangi kesempatan perempuan untuk membangun keamanan finansial bagi dirinya sendiri.
Perempuan Sandwich Generation Hadapi Beban Ganda dalam Keluarga
Sandwich generation merupakan kelompok masyarakat yang berada di antara dua generasi yang membutuhkan dukungan finansial maupun pengasuhan, yakni anak dan orang tua. Posisi ini membuat seseorang harus membagi pendapatan, waktu, serta sumber daya untuk memenuhi kebutuhan beberapa anggota keluarga sekaligus.
Bagi perempuan, tanggung jawab tersebut dapat menjadi lebih kompleks karena keterlibatan mereka tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi, tetapi juga pengambilan keputusan rumah tangga.
Dalam Sandwich Generation Special Report 2026, Sun Life menemukan bahwa 89% perempuan sandwich generation terlibat dalam pengambilan keputusan terkait kesehatan anak. Angka tersebut bahkan meningkat menjadi 93% ketika menyangkut perawatan anggota keluarga lanjut usia.
Besarnya persentase tersebut memperlihatkan posisi perempuan dalam menjaga kesejahteraan keluarga. Mereka tidak hanya perlu memastikan kebutuhan sehari-hari terpenuhi, tetapi juga mempertimbangkan berbagai keputusan yang berkaitan dengan kesehatan dan kualitas hidup anggota keluarga.
Tanggung jawab tersebut dapat semakin berat ketika perempuan juga memiliki pekerjaan dan kebutuhan finansial pribadi. Pendapatan yang seharusnya dapat digunakan untuk membangun tabungan, investasi, atau persiapan pensiun harus dibagi dengan berbagai kebutuhan keluarga yang terkadang tidak dapat ditunda.
Persoalannya, kebutuhan anak dan orang tua sering kali bersifat mendesak. Biaya pengobatan, pendidikan, maupun kebutuhan rumah tangga harus segera dipenuhi, sedangkan investasi dan persiapan pensiun cenderung dianggap sebagai kebutuhan jangka panjang yang masih bisa ditunda.
Baca Juga: Jumlah Anak Semakin Sedikit, tapi Risiko Sandwich Generation Semakin Berat
Baca Juga: Bisakah Memutus Siklus Generasi Sandwich? Ini yang Perlu Dipersiapkan Sejak Dini
82% Perempuan Sandwich Generation Akui Tanggung Jawab Rumah Tangga Menghambat Kondisi Finansial
Besarnya tanggung jawab keluarga ternyata berdampak langsung terhadap kemampuan perempuan dalam memperkuat kondisi finansial. Sun Life mencatat sebanyak 82% perempuan sandwich generation menyebut tanggung jawab rumah tangga sebagai salah satu hambatan dalam meningkatkan ketahanan ekonomi mereka.
Dampak tersebut terlihat dari keputusan finansial yang harus diambil untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sebanyak 37% responden perempuan membatasi investasi, sedangkan 26% mengambil utang atau pinjaman.
Kedua temuan ini memperlihatkan adanya tekanan dalam mengalokasikan pendapatan. Ketika kebutuhan keluarga meningkat, investasi menjadi salah satu pos yang dapat dikurangi agar pengeluaran yang lebih mendesak tetap terpenuhi.
Sebagai ilustrasi, seorang perempuan pekerja yang memiliki anak dan masih harus membantu kebutuhan orang tuanya mungkin harus membagi pendapatan untuk membayar kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan, transportasi, hingga pengobatan orang tua.
Ketika salah satu anggota keluarga membutuhkan perawatan medis mendadak, anggaran yang sebelumnya dialokasikan untuk investasi bisa dialihkan. Jika pendapatan tidak mencukupi, pinjaman mungkin menjadi alternatif untuk menutup kekurangan tersebut.
Keputusan seperti ini mungkin dapat membantu keluarga melewati kebutuhan mendesak. Namun, jika terus terjadi, kemampuan perempuan membangun aset dan mempersiapkan masa depan finansial dapat semakin terbatas.
Hal yang perlu diperhatikan adalah pengurangan investasi bukan berarti seseorang tidak memiliki kesadaran finansial. Dalam kondisi tertentu, keputusan tersebut justru merupakan bentuk penyesuaian terhadap kebutuhan keluarga yang lebih mendesak.
Di sinilah persoalan sandwich generation menjadi lebih kompleks. Perempuan mungkin sudah memahami pentingnya menabung dan berinvestasi, tetapi keterbatasan sumber daya membuat mereka tidak selalu memiliki keleluasaan untuk menjalankan rencana keuangan secara konsisten.
79% Perempuan Sandwich Generation Pernah Menunda Perawatan Medis demi Keluarga
Salah satu temuan paling mencolok dalam penelitian Sun Life adalah kebiasaan perempuan mengesampingkan kebutuhan kesehatan pribadi demi memenuhi kebutuhan anggota keluarga.
Sebanyak 79% perempuan sandwich generation mengaku pernah menunda atau melewatkan perawatan medis karena harus memprioritaskan kebutuhan keluarga.
Angka tersebut memperlihatkan ironi dalam tanggung jawab pengasuhan. Di satu sisi, perempuan memiliki keterlibatan besar dalam keputusan kesehatan anak dan orang tua. Namun, di sisi lain, mereka justru berpotensi mengabaikan kebutuhan medis sendiri ketika sumber daya keluarga terbatas.
Keputusan menunda pemeriksaan kesehatan mungkin terlihat sebagai cara untuk menghemat pengeluaran dalam jangka pendek. Akan tetapi, tindakan tersebut berpotensi menimbulkan persoalan apabila kebutuhan medis yang tertunda justru memerlukan penanganan lebih lanjut pada kemudian hari.
Sebagai contoh, seorang ibu yang mengalami keluhan kesehatan mungkin memilih menunda pemeriksaan karena harus membayar biaya sekolah anak atau membantu pengobatan orang tuanya. Pengeluaran keluarga tetap berjalan, sementara kebutuhan kesehatan pribadinya ditempatkan di urutan berikutnya.
Situasi seperti ini menunjukkan bahwa ketahanan finansial keluarga tidak cukup hanya diukur dari kemampuan memenuhi kebutuhan bulanan. Ketersediaan dana darurat dan perlindungan kesehatan juga berperan penting agar kebutuhan medis tidak selalu harus bersaing dengan pengeluaran rumah tangga lainnya.
Lebih jauh, pengorbanan tersebut dapat menciptakan risiko berlapis. Ketika perempuan yang menjadi salah satu penopang keluarga mengalami gangguan kesehatan, kemampuan mereka untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan rumah tangga juga berpotensi terdampak.
Karena itu, menjaga kesehatan pribadi seharusnya tidak dipandang sebagai pengeluaran tambahan yang bisa selalu ditunda. Kesehatan perempuan juga merupakan bagian dari keberlanjutan ekonomi keluarga.
Rajin Menabung, tetapi Persiapan Dana Pensiun Sandwich Generation Terancam
Tekanan finansial yang dialami sandwich generation tidak serta-merta membuat mereka berhenti mempersiapkan masa depan. Justru, penelitian Sun Life memperlihatkan bahwa sebagian besar responden masih berusaha memperkuat kondisi keuangan melalui tabungan dan investasi.
Sebanyak 67% sandwich generation meningkatkan jumlah tabungan dalam setahun terakhir. Selain itu, 52% mengaku berinvestasi secara rutin.
Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya membuat mereka memiliki kendali finansial yang lebih besar. Sebanyak 29% responden masih menyebut kewajiban keluarga sebagai hambatan, sedangkan 28% mengurangi atau menghentikan sementara kontribusi dana pensiun akibat tanggung jawab pengasuhan.
Temuan ini memperlihatkan paradoks yang cukup menarik. Kesadaran untuk membangun keamanan finansial sudah tumbuh, tetapi kemampuan mempertahankan perencanaan jangka panjang masih menghadapi tekanan dari kebutuhan keluarga.
Pengurangan kontribusi dana pensiun menjadi persoalan yang patut diperhatikan karena persiapan masa tua membutuhkan waktu. Semakin lama seseorang menunda pembentukan dana pensiun, semakin terbatas pula waktu yang tersedia untuk mengumpulkan aset sebelum memasuki usia tidak produktif.
Misalnya, seseorang yang semula rutin menyisihkan sebagian pendapatan untuk persiapan pensiun kemudian menghentikan kontribusi tersebut selama beberapa tahun karena harus membiayai pendidikan anak dan kebutuhan orang tua.
Meskipun keputusan tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga saat ini, ada biaya peluang yang muncul. Dana yang seharusnya berkembang melalui investasi jangka panjang tidak lagi mendapatkan kesempatan untuk bertumbuh selama periode tersebut.
Perlu dibedakan bahwa angka 28% dalam penelitian ini menggambarkan sandwich generation secara keseluruhan, bukan khusus perempuan. Meski demikian, temuan tersebut relevan untuk memahami tekanan finansial yang juga berpotensi dihadapi perempuan dengan tanggung jawab pengasuhan.
Persoalan ini menunjukkan bahwa keberhasilan mengumpulkan tabungan belum tentu identik dengan kesiapan finansial jangka panjang. Seseorang juga perlu memastikan bahwa kebutuhan keluarga saat ini tidak sepenuhnya menghilangkan ruang untuk membangun keamanan ekonomi pada masa depan.
Mengapa Perempuan Sandwich Generation Perlu Menyeimbangkan Keuangan Pribadi dan Keluarga?
Tantangan utama perempuan sandwich generation bukan sekadar mencari cara untuk menghemat pengeluaran, melainkan menentukan pembagian sumber daya secara realistis di tengah kebutuhan yang sama-sama penting.
Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan agar tanggung jawab keluarga tidak terus-menerus mengorbankan keamanan finansial pribadi.
Pertama, memisahkan anggaran pribadi dan keluarga. Pemisahan ini membantu perempuan memahami berapa besar pendapatan yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, anak, orang tua, dan dirinya sendiri. Dengan begitu, pengeluaran keluarga tidak sepenuhnya menghabiskan alokasi keuangan pribadi.
Kedua, mempertahankan dana darurat. Pengeluaran mendadak, seperti biaya pengobatan atau kebutuhan keluarga lainnya, dapat mengganggu anggaran bulanan. Dana darurat membantu mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman ketika terjadi situasi tidak terduga.
Ketiga, menjaga konsistensi investasi. Besaran investasi dapat disesuaikan dengan kemampuan finansial. Tidak semua orang harus memulai dengan nominal besar, tetapi alokasi yang realistis dan konsisten dapat membantu menjaga persiapan jangka panjang.
Keempat, memperhatikan perlindungan kesehatan. Kebutuhan medis pribadi dan anggota keluarga sebaiknya menjadi bagian dari perencanaan keuangan. Perlindungan yang sesuai dapat membantu mengurangi risiko pengeluaran kesehatan mengganggu pos keuangan lainnya.
Kelima, mempersiapkan masa pensiun sejak dini. Meskipun masih memiliki tanggung jawab membiayai anak dan orang tua, perempuan tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan hidup ketika tidak lagi memiliki penghasilan aktif.
Selain pengelolaan anggaran, pembagian tanggung jawab dengan anggota keluarga lain juga penting. Beban pengasuhan dan kebutuhan finansial sebaiknya tidak selalu bertumpu pada satu orang apabila terdapat anggota keluarga lain yang dapat ikut berkontribusi.
Langkah-langkah tersebut memang tidak otomatis menghilangkan tekanan ekonomi. Namun, perencanaan yang lebih terstruktur dapat membantu seseorang memahami prioritas dan mengurangi risiko mengorbankan seluruh kebutuhan masa depannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Ancaman Denny Indrayana ke Presiden Prabowo Bentuk Penghinaan pada Mandat Rakyat
- 2Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 3Memutus Mata Rantai Kejahatan Keuangan Digital: Upaya OJK Melindungi Masyarakat dari Jerat Judi Online
- 4Tak Tergilas Disrupsi, Tak Terjebak Perang Harga: Rahasia Bluebird Menjaga Takhta di Industri Transportasi Dalam Negeri
- 5Ina Liem Kini Setuju Gibran Mundur dari Wapres, Alasannya Bikin Heboh
- 6Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 7Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 8Moto3 GP Malaysia: Hiroshi Aoyama Puji Kecerdikan Veda Ega Pratama Taklukkan Suhu Lintasan Sepang
- 9Harga Cabai Berangsur Turun Awal November
- 10Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia







