Akurat Logo

Yiled Obligasi Global Naik, Biaya Dana Kian Mahal

Esha Tri Wahyuni | 5 Oktober 2026, 15:19 WIB
Yiled Obligasi Global Naik, Biaya Dana Kian Mahal
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi

AKURAT.CO OJK mengungkap yield obligasi AS dan Eropa kembali ke level sebelum krisis 2008. Suku bunga tinggi diperkirakan bertahan hingga 2027.

Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah negara maju kembali melonjak ke level yang terakhir terlihat sebelum krisis keuangan global 2008. 

Kondisi ini menjadi sinyal biaya pembiayaan global masih tinggi di tengah ekspektasi suku bunga tinggi (higher for longer) yang berpotensi bertahan hingga 2027.

Baca Juga: OJK Beri Relaksasi Kredit hingga 3 Tahun ke Debitur Terdampak Gempa NTT

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat yield obligasi Amerika Serikat (AS) dan Eropa telah kembali ke level sebelum krisis 2008. Kondisi tersebut terjadi ketika kebutuhan pembiayaan pemerintah di berbagai negara masih tinggi.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi mengatakan, kenaikan yield tidak hanya berkaitan dengan kebijakan suku bunga, tetapi juga meningkatnya kebutuhan pemerintah untuk mencari pembiayaan.

"Yield obligasi pemerintah negara maju saat ini sudah kembali ke level sebelum krisis 2008," kata Friderica dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK secara daring, Senin (5/10/2026).

Menurut Friderica, kebutuhan pembiayaan yang tinggi membuat penerbitan surat utang pemerintah di berbagai negara ikut meningkat. Di saat yang sama, perusahaan teknologi berskala besar atau hyperscaler juga masuk ke pasar obligasi untuk membiayai ekspansi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

"Hal ini juga didorong oleh kebutuhan pembiayaan pemerintah yang tinggi serta penerbitan obligasi jangka panjang oleh perusahaan hyperscaler untuk membiayai pengembangan AI," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat pasar obligasi global menghadapi tekanan dari sisi pasokan surat utang. 

Ketika penerbitan obligasi meningkat, investor dapat meminta imbal hasil yang lebih tinggi untuk menyerap tambahan pasokan tersebut, terutama ketika prospek suku bunga belum menunjukkan penurunan yang cepat.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.