Pemerintah dan Big Tech Berebut Dana Investor, DBS Ungkap Dampaknya ke Bunga Obligasi

AKURAT.CO Ketika pemerintah membutuhkan dana untuk membiayai utang, perusahaan teknologi raksasa juga tengah berlomba mengumpulkan modal untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Keduanya memang tidak selalu menerbitkan surat utang pada waktu dan pasar yang sama, tetapi sama-sama berhadapan dengan satu sumber daya yang terbatas: modal investor.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Chief Investment Office (CIO) DBS dalam outlook kuartal IV 2026. Kebutuhan pembiayaan pemerintah dan belanja modal (capital expenditure/capex) perusahaan teknologi raksasa atau hyperscaler menjadi salah satu faktor yang membuat pasar obligasi menghadapi tekanan dari sisi pasokan maupun permintaan modal.
Situasi ini penting bagi investor karena ketika semakin banyak pihak membutuhkan dana dalam jumlah besar, biaya untuk mendapatkan modal dapat ikut berubah. Salah satu saluran yang perlu diperhatikan adalah yield atau imbal hasil obligasi, yang pada akhirnya berkaitan dengan harga surat utang dan tingkat pendapatan yang ditawarkan kepada investor.
Baca Juga: Pep Guardiola Dukung Man City, PM Inggris Khawatir Hilang Investasi 30 Miliar Poundsterling
Baca Juga: Gula Pasar Karbon RI Untuk Tarik Investasi Hijau
Pemerintah dan Big Tech Sama-Sama Membutuhkan Dana Investor
Sederhananya, pemerintah dan Big Tech memiliki kebutuhan yang berbeda, tetapi bertemu pada pasar modal.
Pemerintah menerbitkan surat utang untuk mendapatkan pembiayaan. Sementara itu, perusahaan teknologi raksasa membutuhkan dana untuk membiayai ekspansi, termasuk pembangunan data center, infrastruktur komputasi, jaringan, sistem energi, dan berbagai kebutuhan yang menopang pertumbuhan AI.
Masalahnya bukan semata-mata siapa yang memiliki utang lebih besar. Persoalan yang lebih penting adalah berapa banyak modal yang dibutuhkan secara bersamaan dan bagaimana investor menentukan ke mana dana tersebut akan dialokasikan.
DBS melihat kondisi pasar obligasi saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga bank sentral. Penerbitan utang pemerintah yang besar dan kebutuhan pembiayaan hyperscaler untuk AI turut menjadi bagian dari dinamika pasar fixed income. DBS juga menilai kebutuhan modal untuk infrastruktur AI merupakan salah satu tekanan yang lebih persisten terhadap pasar obligasi.
Chief Investment Office DBS sebelumnya menggambarkan situasi tersebut dengan cukup jelas. Daryl Ho, strategist di Chief Investment Office DBS, menyebut, “AI infrastructure spending is the key persistent risk.”
Pernyataan tersebut tidak berarti seluruh investasi AI akan dibiayai menggunakan utang atau setiap ekspansi Big Tech otomatis membuat yield obligasi meningkat. Intinya, semakin besar kebutuhan modal untuk pembangunan infrastruktur AI, semakin penting pengaruh kebutuhan pembiayaan tersebut terhadap pasar modal.
Kenapa Ledakan AI Ikut Mempengaruhi Pasar Obligasi?
Selama ini AI lebih sering dibicarakan dari sisi saham: siapa yang membuat chip, siapa yang mengoperasikan cloud, siapa yang memiliki data center, dan siapa yang paling berpotensi memperoleh keuntungan dari peningkatan penggunaan AI.
Namun, ada cerita lain di balik ledakan investasi tersebut.
Membangun infrastruktur AI membutuhkan modal yang sangat besar. Hyperscaler harus mengeluarkan dana untuk data center, server, chip, jaringan, listrik, pendinginan, dan berbagai infrastruktur pendukung lainnya.
Dana tersebut bisa berasal dari arus kas perusahaan. Namun, perusahaan juga memiliki pilihan menggunakan berbagai sumber pendanaan eksternal, termasuk pasar utang.
Ketika kebutuhan pendanaan eksternal meningkat, perusahaan yang menerbitkan obligasi masuk ke pasar yang sama dengan berbagai penerbit surat utang lainnya. Investor kemudian harus mempertimbangkan apakah akan membeli obligasi pemerintah, obligasi perusahaan teknologi, atau instrumen lain dengan karakteristik risiko dan imbal hasil berbeda.
Dengan kata lain, AI boom bukan hanya menciptakan permintaan terhadap chip dan data center, tetapi juga dapat meningkatkan permintaan terhadap modal.
DBS bahkan sebelumnya memperkirakan belanja modal AI hyperscaler berada di kisaran US$1 triliun pada 2026 dan masih dapat meningkat. DBS menyebut pembangunan infrastruktur AI sebagai kekuatan yang mendorong permintaan modal sekaligus memberikan tekanan terhadap inflasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 3Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 4Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 5Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 6Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 7Kalender Jawa 2 Oktober 2026: Watak Weton Jumat Pahing Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Tanpa Sponsor 'Palsu' Rp19,69 Triliun, Manchester City Mungkin Tanpa Aguero dan Silva
- 9Anak Usaha Lyman Group Urus HGB Kota Baru Parahyangan ke ATR/BPN, KPK Dalami Setorannya
- 10KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid di Kasus ATR/BPN, Dalami Alur Setoran hingga Pusat







