Akurat Logo

Bukan Sekadar Cari Cuan, DBS Ungkap Alasan Emas Tetap Penting di Portofolio

Idham Nur Indrajaya | 2 Oktober 2026, 18:35 WIB
Bukan Sekadar Cari Cuan, DBS Ungkap Alasan Emas Tetap Penting di Portofolio
Emas dalam portofolio bukan sekadar soal cuan. DBS melihat fungsi diversifikasi, likuiditas, dan perlindungan kekayaan. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Bayangkan seorang investor sudah membagi uangnya ke saham dan obligasi dengan harapan keduanya saling menyeimbangkan. Masalahnya, ketika inflasi tinggi dan suku bunga membuat pasar obligasi tertekan, saham juga bisa ikut bergejolak. Di titik inilah pertanyaan tentang emas dalam portofolio menjadi lebih menarik: apakah emas harus selalu naik untuk tetap berguna?

Dalam outlook Chief Investment Office (CIO) DBS untuk kuartal IV 2026, emas justru ditempatkan sebagai salah satu aset yang dipertahankan dalam posisi tambah bobot. DBS melihat emas bukan semata-mata sebagai instrumen untuk mengejar kenaikan harga, melainkan sebagai sumber diversifikasi ketika ketidakpastian pasar meningkat.

Secara sederhana, alasan emas tetap penting dalam portofolio menurut DBS bertumpu pada empat hal: diversifikasi, likuiditas, perlindungan kekayaan, serta ketahanannya ketika kepercayaan terhadap mata uang atau kredit pemerintah melemah. Laporan khusus emas DBS juga menyebut alokasi strategis 5–10% sebagai titik awal untuk portofolio seimbang dalam kerangka analisis mereka.

Chief Investment Officer DBS Hou Wey Fook menyampaikan pesan yang lebih luas dalam laporan CIO 4Q26: “A diversified, multi-asset portfolio is the best defence against geopolitical uncertainty and growth headwinds.”

Baca Juga: CORE: Legalkan Tambang Emas Rakyat Agar Bermanfaat Buat Penerimaan Negara

Baca Juga: Peningkatan Kapasitas Produksi Jadi Tantangan Produsen Emas, Begini Kata HRTA

Mengapa Emas dalam Portofolio Bukan Sekadar Soal Harga Naik?

Cara paling sederhana memahami posisi emas adalah dengan membedakan return sebuah aset dan fungsi aset tersebut terhadap keseluruhan portofolio.

Investor tentu ingin asetnya naik. Namun, sebuah aset juga bisa memiliki nilai strategis apabila pergerakannya tidak sepenuhnya mengikuti aset lain. Ketika satu kelompok aset mengalami tekanan, keberadaan aset dengan karakter berbeda dapat membantu mengubah profil risiko keseluruhan portofolio.

Inilah konteks penting dari pandangan DBS. Dalam laporan Gold: Not in Need of a New Story, Chief Investment Office DBS menegaskan bahwa peran strategis emas tetap bertahan terlepas dari katalis harga berikutnya. Nilai emas dari perspektif konstruksi portofolio disebut berasal dari diversifikasi, likuiditas, dan perlindungan kekayaan.

Dengan kata lain, pertanyaannya bukan hanya “berapa persen emas bisa naik?”, tetapi juga “apa yang terjadi pada portofolio ketika kondisi pasar berubah?”

Kerangka berpikir tersebut menjadi semakin relevan ketika saham dan obligasi tidak selalu memberikan perlindungan satu sama lain. Dalam rezim inflasi, korelasi kedua aset dapat meningkat sehingga strategi tradisional yang hanya mengandalkan saham dan obligasi menghadapi tantangan.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.