Akurat

Ekonomi RI Diproyeksi Tumbuh 5 Persen di 2026, INDEF Minta Mesin Lain Digenjot

Hefriday | 30 Desember 2025, 08:30 WIB
Ekonomi RI Diproyeksi Tumbuh 5 Persen di 2026, INDEF Minta Mesin Lain Digenjot

AKURAT.CO Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada 2026.

Proyeksi tersebut menunjukkan stabilitas ekonomi domestik di tengah tekanan global yang masih berlangsung.

Meskipun begitu, Direktur INDEF, Esther Sri Astuti, mengingatkan pemerintah agar tidak terus-menerus menjadikan konsumsi rumah tangga sebagai tumpuan utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Sebab menurut dia, pola pertumbuhan yang terlalu bergantung pada daya beli masyarakat sudah berlangsung terlalu lama.

Baca Juga: INDEF: 84 Persen Warganet Dukung Larangan Rangkap Jabatan

“Mengaktifkan mesin-mesin pertumbuhan ekonomi yang lain itu suatu hal yang fardhu ain atau wajib. Konsumsi rumah tangga ini sudah terlalu lama mendominasi dan berkontribusi secara dominan terhadap pertumbuhan ekonomi,” ujar Esther di Jakarta, Selasa (30/12/2025).

Dirinya menilai tantangan ekonomi Indonesia ke depan masih cukup berat. Ketidakpastian geopolitik global serta fragmentasi perdagangan internasional dinilai masih sulit diprediksi dan berpotensi menekan kinerja ekonomi nasional.

Di sisi domestik, pemulihan ekonomi juga dinilai belum sepenuhnya optimal. Tekanan harga komoditas pangan dan energi, serta daya beli masyarakat yang belum pulih secara menyeluruh, masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah.

Baca Juga: INDEF: Dana Rp200 T Harus Efektif Dorong Kredit dan UMKM

Selain itu, ketergantungan Indonesia terhadap impor juga menjadi sorotan. Mulai dari barang modal hingga bahan pangan, impor yang tinggi membuat aliran devisa kembali keluar negeri dan menekan ketahanan ekonomi nasional.

Menurut Esther, kondisi tersebut membuat fundamental ekonomi Indonesia relatif lebih rentan dibandingkan sejumlah negara Asia Tenggara lainnya. Hal ini pada akhirnya berdampak pada daya saing Indonesia di kawasan.

“Negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand memang terdampak dinamika global, tetapi karena imunitas pertumbuhan ekonominya relatif kuat, dampaknya tidak terlalu parah,” ujarnya.

Untuk merespons tantangan tersebut, INDEF mendorong penguatan fundamental ekonomi domestik dengan tidak meletakkan seluruh beban pertumbuhan pada konsumsi rumah tangga. Diversifikasi sumber pertumbuhan dinilai menjadi kunci.

Esther menekankan peran belanja pemerintah agar lebih efektif dalam menciptakan dampak berganda atau multiplier effect bagi perekonomian rakyat. Belanja negara dinilai harus diarahkan ke sektor-sektor produktif yang mampu menggerakkan aktivitas ekonomi riil.

Di sisi lain, sektor ekspor juga perlu dikembangkan, terutama dengan mendorong produksi komoditas bernilai tambah tinggi. Dengan demikian, ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah dapat dikurangi.

“Investasi, ekspor, dan pengeluaran pemerintah harus aktif dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Dengan begitu, pertumbuhan tidak hanya bertahan di 5 persen, tetapi bisa lebih tinggi,” kata Esther.

Dalam proyeksinya, INDEF memperkirakan sejumlah indikator makroekonomi Indonesia pada 2026. Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan sebesar 5%, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.000 per USD, dengan tingkat inflasi sekitar 3%.

Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka diperkirakan mencapai 4,75%, tingkat kemiskinan berada di angka 8,45%, dan rasio gini sebesar 0,373. Proyeksi tersebut menjadi pengingat bahwa upaya memperkuat mesin pertumbuhan ekonomi di luar konsumsi rumah tangga menjadi semakin mendesak.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi