Saham BBRI Tertekan, Bos BRI: Lebih ke Faktor Eksternal daripada Fundamental

AKURAT.CO Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) tercatat masih tertekan sekitar Rp640 (17,58%) secara year-to-date (YTD) hingga akhir April 2026 ke Rp3.000.
Manajemen menilai pelemahan ini lebih dipicu oleh tekanan eksternal ketimbang penurunan kinerja fundamental perseroan.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyampaikan bahwa dinamika harga saham tidak hanya mencerminkan kondisi internal perusahaan, tetapi juga sangat dipengaruhi faktor global serta persepsi investor terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Baca Juga: Kinerja Kuartal I-2026 BRI Diperkuat Kontribusi Anak Usaha
“Harga saham banyak faktor, tidak hanya fundamental. Ada faktor global, ada persepsi investor terhadap Indonesia dan pasar modal,” ujar Hery dalam Paparan Kinerja Keuangan BRI Kuartal I-2026, Kamis (30/4/2026).
BRI menegaskan kondisi keuangan tetap solid. Hal ini tercermin dari rasio permodalan (CAR) yang historically berada di atas 20%, likuiditas yang terjaga melalui rasio loan to deposit (LDR) yang terkendali, serta profitabilitas yang konsisten dengan return on equity (ROE) double digit dalam beberapa tahun terakhir.
Selain itu, BRI juga masih menjadi bank dengan penyaluran kredit UMKM terbesar di Indonesia, dengan porsi yang secara historis mencapai lebih dari 80% dari total portofolio kredit.
Hery menegaskan bahwa tekanan pada saham tidak mencerminkan pelemahan kinerja internal. “Kalau melihat fundamental yang bagus, kami mencermati ini lebih ke faktor eksternal dibandingkan fundamental,” katanya.
Belum lama, BRI juga mengumumkan pembagian dividen dengan payout ratio mencapai 92% dari laba tahun buku 2025. Nilai tersebut setara Rp346 per saham, yang menghasilkan dividend yield di kisaran 10–11% berdasarkan harga saham terkini.
“Dividend yield BRI bisa memberikan imbal hasil sekitar 10–11% per tahun. Ini jauh di atas instrumen seperti deposito maupun reksa dana pasar uang,” ujar Hery.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa yield dividen di atas 10% tergolong tinggi untuk saham perbankan blue chip, terutama di tengah tren suku bunga global yang masih relatif tinggi sejak siklus pengetatan moneter oleh bank sentral utama dunia pada 2022–2024.
Kondisi ini membuat instrumen berbasis bunga seperti obligasi dan deposito sempat lebih menarik, sehingga memicu rotasi dana keluar dari pasar saham negara berkembang.
Secara historis, tekanan terhadap saham perbankan Indonesia juga pernah terjadi pada periode normalisasi kebijakan moneter global, seperti saat taper tantrum 2013 dan fase kenaikan suku bunga The Fed pada 2018.
Dalam periode tersebut, saham perbankan sempat terkoreksi sebelum kembali menguat seiring stabilisasi makroekonomi.
Dari sisi pasar, pelemahan BBRI mencerminkan tren yang lebih luas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang awal 2026 juga bergerak volatil, dipengaruhi arus keluar dana asing (capital outflow) dan penguatan dolar AS.
Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa aliran dana asing di pasar keuangan domestik masih sensitif terhadap perubahan suku bunga global dan risiko geopolitik.
BRI sendiri menegaskan tetap fokus pada strategi fundamental untuk menjaga kinerja. Beberapa langkah yang dijalankan antara lain penguatan struktur pendanaan berbasis dana murah (CASA), ekspansi kredit secara selektif, serta akselerasi digitalisasi layanan melalui ekosistem super apps dan platform UMKM.
Selain itu, perseroan juga melanjutkan transformasi bisnis yang telah dimulai sejak beberapa tahun terakhir, termasuk penguatan holding ultra mikro yang mengintegrasikan layanan keuangan bagi segmen mikro dan ultra mikro.
Hery mengingatkan bahwa strategi investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan horizon waktu. Ia menekankan bahwa fluktuasi harga jangka pendek tidak selalu mencerminkan nilai intrinsik perusahaan.
“Kalau investasi jangka panjang, tidak perlu terlalu melihat naik turun harga saham. Fokus pada fundamental dan kualitas perusahaan,” ujarnya.
Pergerakan saham BBRI akan sangat bergantung pada kombinasi faktor global dan domestik. Stabilitas suku bunga global, arah kebijakan moneter Bank Indonesia, serta pertumbuhan ekonomi nasional menjadi variabel utama yang akan memengaruhi sentimen pasar.
“Kalau makro ekonomi membaik, saham-saham dengan fundamental kuat pasti akan ikut naik,” kata Hery.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 2Setelah 'Cabut' dari Timnas Portugal, Masa Depan Cristiano Ronaldo dalam Ketidakpastian
- 3Soal Gugatan Syarat Pendidikan Gibran ke MK, Margarito Kamis: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- 4Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 5Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 6Asian Games: Indonesia Berpeluang Raih 5 Emas Besok, Padel Salah Satunya!
- 7Moto3 Jepang: Tanpa Alasan! Hiroshi Aoyama Tuntut Veda Ega Pratama dan Zen Mitani All Out di 'Kandang'
- 8Kalender Jawa 2 Oktober 2026: Watak Weton Jumat Pahing Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Rocky Gerung Minta Buruh Kawal RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Jangan Mundur jika Berhadapan Kekuasaan
- 10Hanya Kompromi Politik, Fahri Hamzah Tantang DPR Tetapkan Ambang Batas Parlemen Nol atau 20 Persen









